Hendra Gunawan dan Unsur Rupa Tradisional

Jum’at 31 Mei 2013

Ada daya tarik yang demikian besar terhadap karya-karya maestro Indonesia. Baik segi artistik maupun latar belakang sejarah telah menjadikan karya-karya old master begitu mempesona. Hal yang perlu dipertanyakan adalah; Dimana pentingnya karya seorang maestro bagi seni rupa Indonesia?

 

Sudah cukup banyak yang memperkenalkan kisah hidup Hendra Gunawan sebagai seorang seniman besar. Pengenalan saya sendiri terhadap sosok Hendra bermula dari penjelasan singkat dalam perkuliahan, tanpa adanya pembahasan yang rinci mengenai perjalanan kekaryaannya. Sebagian besar pembahasan mengenai kehidupan Hendra dijabarkan secara progresif dan dikaitkan dengan peristiwa penting dalam sejarah yang terjadi semasa hidupnya. Tanpa pernah mengalami kondisi di zaman Hendra Gunawan hidup, saya merasa kurang pantas untuk memberikan sebuah penjelasan yang sifatnya sosio-historis. Namun hal ini tidak menghalangi saya untuk menyelami aspek estetis dari karya beliau, yang tentunya tetap akan dikaitkan dengan aspek-aspek sosiologis. Tanpa bermaksud untuk mengabaikan sejarah hidupnya, izinkan saya memulai pembahasan ini dari hari kematian Hendra Gunawan.

Pada hari Minggu siang tanggal 13 Juli 1983, pelukis Hendra Gunawan menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Kepergiannya mengakhiri perjalanan panjang keberkaryaan dan kontribusinya secara langsung bagi seni rupa Indonesia. Di hari itu pula selesai sudah pengembangan estetisnya dalam rangka mendefinisikan bentuk rupa yang Indonesia. Hendra meninggalkan sejumlah karya untuk dimaknai oleh generasi penerusnya. Melalui karyanya, kita bisa melihat penggunaan bahasa rupa tradisional yang tidak bisa disamakan dengan seniman modern barat seperti Pablo Picasso. Hendra Gunawan telah mewariskan sejumlah karya yang menampakkan budaya lokalnya sendiri melalui bidang seni lukis yang modern.

Semula jenazah Hendra Gunawan direncanakan diangkut melalui sarana transportasi udara, namun kemudian dibawa ke Jawa Barat melalui jalur darat dan sempat singgah di Jogjakarta. Di kediaman Bagong Kusudiardjo para seniman dari Jogjakarta berkesempatan untuk mendoakan dan memberikan penghormatan yang terakhir. Perjalanan menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Purwakarta seolah bersifat sangat simbolis. Layaknya sebuah kilas balik terhadap perjalanan hidup Hendra, jenazahnya melintasi Bali, Jawa, hingga Sunda. Ketiga kebudayaan tersebut menjadi sumber daya yang berlimpah dalam perkembangan karyanya dan berkontribusi cukup besar bagi unsur visual karya Hendra.

Di dalam karya Hendra Gunawan kita bisa melacak keberadaan unsur-unsur yang bersifat tradisional. Menurut Agus Djatnika dalam skripsinya(1986), unsur tradisional tersebut berasal dari batik, wayang kulit, wayang golek, relief candi, hingga lukisan di kelenteng. Berbagai unsur tersebut dipergunakan baik sesuai dengan bentuk asalnya maupun mengalami pengembangan. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Hendra Gunawan: ”…merasa terpengaruh relief Borobudur, Prambanan, wayang kulit, wayang golek, batik, dsb.” (Katalog Pameran Bersama Affandi, Hendra, Sudarso, Wahdi, Jakarta, 1978). Penyerapan unsur tradisi seperti ini tidak bisa dilepaskan dari pencarian identitas bangsa.

Persoalan mengenai keindonesiaan sudah sering diangkat oleh berbagai seniman di Indonesia, baik seniman yang hidup sezaman dengan Hendra Gunawan maupun seniman kontemporer hari ini. Lantas bagaimana proses pencarian keindonesian menurut Hendra Gunawan? Dalam karyanya bisa kita temukan penyerapan unsur tradisi yang tidak hanya di tataran visual semata. Beberapa unsur tradisi, seperti batik, dipergunakan berdasarkan kaidah pakem atau definisi pengertiannya, bukan berdasarkan visualnya. Hal inilah yang membedakan karya-karyanya dari sebagian besar karya seniman yang hanya sekedar menambahkan citra visual dari unsur tradisi ke dalam karyanya namun cara pandangnya tetap seperti cara pandang lukisan modern. Unsur tradisi tidak diadopsi secara langsung apa adanya karena terlebih dulu diadaptasikan sesuai gaya (style) lukisan Hendra Gunawan.

 

Penggayaan dalam Lukisan Hendra Gunawan

Untuk merumuskan suatu gaya yang baku dari lukisan Hendra Gunawan, seorang pengamat akan mengalami kesulitan . Hal ini lantaran perubahan dan perkembangan visual karyanya dari masa ke masa. Perpindahan geografis yang terjadi selama masa hidupnya telah mempertemukan Hendra dengan berbagai kondisi dan budaya masyarakat yang beragam. Sejumlah seniman juga mempengaruhi karyanya antara lain: “…pelukis Wahdi dalam membikin pemandangan; pada pelukis Affandi dalam menyusun dan mempraktekkan sistem kerja, studi terarah dan terjatah, dalam melukis segala benda alam dan masyarakat dalam saling hubungannya di seluruh asam-garam, manis- pahitnya kehidupan; pada pelukis Sudjojono dalam disiplin nasional patriotik dan artistik.” (Katalog Pameran Tunggal Hendra Gunawan, Denpasar 1982). Popo Iskandar juga menuturkan : “Dari pematung Rusia bernama Giorgi Gisekan Hendra mendapat pengertian tentang seni lukis modern, dan berkenalan dengan karya-karya master seperti Picasso, Gauguin, Kandinsky, dsb.” (wawancara Agus Djatnika dengan Popo Iskandar, Bandung 4 April 1985).

Hal yang lebih mungkin untuk dilakukan adalah memetakan perkembangan visual yang terjadi pada karyanya. Ada sejumlah tema dan periode yang dapat dijadikan titik acuan dalam perjalanan kekaryaannya. Dari periodisasi itulah kita dapat mengidentifikasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam gaya perupaan Hendra, seperti gestur figur, warna, komposisi, hingga tema yang diangkat ke atas kanvas.

Jika kita melihat sekilas karya-karya lukisan Hendra Gunawan secara kronologis tampak dua kecenderungan besar dalam penggambaran, yaitu: Penggambaran di masa revolusi atau perjuangan (1940-an hingga 1950-an), dan penggambaran karya setelah masa perang (dan saat berada dalam tahanan) yang lebih berwarna. Tema revolusi dan perjuangan mendominasi karya-karya seniman di masa itu karena situasi dan kondisi perang yang tidak mungkin untuk diabaikan. Hendra pada saat itu pun terlibat langsung dengan peperangan saat tergabung dalam pelukis front (1945).

Penggambaran di masa perang cenderung untuk menggunakan warna-warna tanah (coklat, hitam, merah, abu, oranye) sehingga menghasilkan suasana yang kelam dan berat seperti pada karya Laskar(1947), Jual Beli(1948), Belajar Melukis(1948), dan Potret Seorang Prajurit(1950). Hal ini berbeda dengan masa setelah tahun 1960-an, saat ia berada di dalam penjara Kebon Waru dan setelah keluar. Hendra mulai meningkatkan intensitas warna untuk menghasilkan suasana yang lebih cerah seperti yang terlihat di lukisan Pulang Mancing(1960), Mencuci(1960), dan Wanita(1970).

Pada tulisan Agus Dermawan T. ada pernyataan dari Prof. Dr Mochtar Kusumaatmadja, yang menyatakan bahwa Hendra mengakui kalau warna lukisannya dipengaruhi oleh cerahnya lukisan Nuraini (istri kedua Hendra). Sekitar tahun 1967 Hendra bertemu dengan Nuraini di penjara Kebon Waru lalu keduanya kemudian menikah pada bulan Mei 1968 (Hendra Gunawan. A Great Modern Indonesian Painter, Jakarta 2001). Jika Hendra bertemu dengan Nuraini pada tahun 1967, terdapat sejumlah lukisannya yang dibuat sebelum tahun itu dengan warna-warna yang cerah. Karya-karya seperti Pengantin Revolusi(1955), Pulang Mancing(1960), dan tentunya Pohon Beringin(1964).

Agus Djatnika dalam skripsinya yang dibuat pada tahun 1986, memiliki pendapat yang berbeda mengenai penggunaan warna cerah pada karya Hendra. Menurutnya, penggunaan warna cerah terinspirasi dari lukisan tradisional Cina di kelenteng seperti yang tertulis di katalog sebagai berikut: “la pun semata-mata dipengaruhi oleh kesibukan pasar dan lukisan dinding “Samkok” di kelenteng Bandung, terutama dalam gerak dan pelukisan suasana.” (Katalog pameran bersama Affandi, Hendra, Sudarso, Wahdi, Barli, Jakarta 1978). lebih lanjut, Agus Djatnika menulis: “Kemeriahan warna pada lukisan Hendra mengingatkan pada kemeriahan warna-warna kelenteng. Merah, biru, hijau dan kuning, menandai kemeriahan kelenteng.”

Seperti halnya warna, persoalan komposisi dan perspektif dalam lukisan Hendra Gunawan pun sangat bernuansa ketimuran. Layaknya komposisi lukisan tradisional Cina ataupun relief Candi, Banyak lukisan Hendra Gunawan yang tidak memiliki perpektif tunggal layaknya sudut pandang lukisan naturalis barat. Penggambaran seperti ini dapat diamati pada lukisan Pohon Beringin(1964), Antri Mandi(1970), dan Bunga Muara(1979). Penggambaran latar belakang dan sapuan kuas banyak kemiripan dengan lukisan tradisional Cina seperti pada Antri Mandi(1970), Dua Wanita sedang Makan(1971), dan Panen Padi I(1974). Cara pandang naturalis-perspektif merupakan cara melihat layaknya mata atau kamera dimana waktu seakan-akan berhenti. Cara pandang ini berkembang dalam seni rupa barat sejak abad 15 di Italia. Prof. Dr. Primadi Tabrani menyatakan dalam bukunya: “… Senirupa tradisi di Indonesia tak pernah naturalis dan atau perspektif dan atau momen opname (menghentikan waktu) !!” (Primadi Tabrani, 2012, hlm 148). Mengingat bahwa lukisan Hendra Gunawan merupakan sebuah karya seni rupa modern, maka sudut pandang penggambaran yang ketimuran dan tradisional menjadikannya karya yang istimewa.

Gaya penggambaran figur dan gesturnya dalam lukisan Hendra Gunawan mengalami perubahan hingga akhirnya mengadopsi cara-cara tradisional (penggambaran wayang). Di karya-karya awal terdapat kemiripan dalam teknik membuat garis dengan gaya lukisan Affandi. Menurut Astri Wright, hal ini kemungkinan pengaruh dari hubungan dekat Hendra dengan Affandi di awal 1940-an (Hendra Gunawan. A Great Modern Indonesian Painter, Jakarta 2001). Karya-karya yang dibuat sejak 1970 menggambarkan figur secara lebih terdistorsi layaknya penggambaran wayang.

Bentuk-bentuk wayang purwa baik wayang kulit maupun wayang golek adalah perwujudan bentuk sosok manusia yang telah digayakan (stilasi). Akibat penggayaan tersebut penggambaran pada wayang berbeda dengan penggambaran manusia sebenarnya, karena banyak proposi tubuh yang terdistorsi. Jika diperhatikan dengan seksama, penggambaran sejumlah figur dalam lukisan Hendra Gunawan memiliki gestur yang tidak wajar. Sikap kepala mendongak memberi kesan adanya tarikan ke depan. Leher digambarkan memanjang layaknya tampilan dari samping (tidak terhalang dagu), bagian bahu dan dada digambarkan layaknya tampilan dari depan, dan hampir semua penggambaran kaki ditampilkan layaknya tampilan atas. Penggambaran “aneka tampak” seperti ini adalah ciri dari penggambaran wayang.

Unsur tradisional lainnya yang cukup mencolok adalah penggunaan ragam hias batik. Agus Djatnika menyatakan dalam skripsinya mengenai dua pengolahan yang berbeda sehubungan dengan pemanfaatan ragam hias seni tradisi pada karya Hendra. Pertama ragam hias sebagai sumber, tetap digambarkan sebagai ragam hias. Kedua ragam hias digambarkan utuh atau sebagian, bukan sebagai ragam hias melainkan unsur lepas untuk pendukung kehadiran obyek dan pelukisan secara menyeluruh (Agus Djatnika, 1986). Untuk pemanfaatan yang kedua, tampaknya Hendra mengadopsi salah satu teknik dalam membatik. Dalam membatik ada satu tahapan yang disebut ngiseni (isen = isi; ngiseni = mengisi), maksudnya mengisi bidang kosong, baik bidang yang terbentuk oleh ragam hias pokok, maupun bidang kosong antar ragam hias.

Teknik ngiseni banyak kita jumpai di karya-karya Hendra setelah masa revolusi dan peperangan. Teknik ini tidak hanya kita jumpai di gambar pakaian atau kain (batik), tapi juga banyak terdapat di dalam penggambaran betis, kaki, tangan, dahan pohon, dan ikan. Hendra meiliki kecenderungan untuk mengisi kekosongan pada betis dan kaki dari figur yang ia gambarkan dengan pola meliuk-liuk atau pun titik-titik. Jika dikombinasikan dengan warna yang kuat, pola tersebut menghasilkan karakter gambar yang sangat ekspresif, seperti pada lukisan Keluarga Nelayan(1975), Kritikus, Suwiryo(1979), dan Urbanite(1980).

Ketertarikan Hendra Gunawan dengan unsur Tradisional mungkin dapat ditelusuri kepada masa mudanya. Hendra mempelajari berbagai kesenian daerah Sunda juga memasuki organisasi pemuda yang bernama Yayasan Obor Pasundan (YOP). Organisasi ini anggotanya terdiri dari para pelajar yang bercorak kedaerahan dengan kegiatan yang mengkhususkan diri dalam meningkatkan kebudayaan dan kesenian Sunda. Kesenian Sunda yang sempat ia pelajari antara lain, seni tari, gamelan, reog dan pedalangan. Hendra juga memiliki perhatian yang besar terhadap bidang lain misalnya, mengarang sajak, main drama, dan mempelajari kebatinan (Agus Djatnika 1986).

Mungkin, Hendra Gunawan terus mencari identitas dari seni rupa Indonesia sepanjang hidupnya. Hanya dengan terus berkarya Ia dapat menemukan persilangan antara sebuah media berkesenian yang modern dengan nilai-nilai dan cara pandang tradisional yang sudah Ia tekuni sejak masih muda. Dalam pengamatan sekilas yang saya lakukan, muncul sebuah kesimpulan akan sebuah kemungkinan mengenai posisi kekaryaan Hendra Gunawan dalam sejarah seni rupa Indonesia. Hendra Gunawan adalah seorang seniman Indonesia yang berusaha mencari identitas Indonesia melalui unsur rupa tradisional, hanya untuk kemudian menemukan identitas dirinya.

 

Dwihandono Ahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: