Jelang Kegembiraan di Jalan Seni*

Nol tiga satu satu, itu angka yang tertera di layar telepon genggam berwarna hitam yang sedang saya lihat. Tepat ketika ada yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena sebuah mimpi buruk. Dia hanya bertanya, “Jam berapa sekarang? Gw mau balik kayaknya.” Saya menjawabnya dan kemudian mencoret empat paragraf di atas tulisan yang sedang saya kerjakan ini. Saya mencoretnya karena tiba-tiba teringat berjalan kaki dari daerah sekitar Leuwi Panjang ke Kawista di Cigadung.

Beberapa hari ini sepertinya jadi semacam keharusan atau keterpaksaan buat saya untuk memikirkan kata jalan. Kalau tak dapat tebengan, saya musti jalan kaki ke tempat tujuan saya. Atau saya memilih untuk akhirnya berdiam di tempat dan menunggu ada pinjaman kendaraan atau tebengan. Agak terkesan heroik rasanya akhir-akhir ini. Kemarin malam, sepulang rapat kecil di Jakarta, saya kembali ke Bandung mengandalkan ongkos yang diberikan oleh tiga orang teman. Sesampainya di Bandung pagi buta itu, saya juga berjalan kaki lagi dari Cihampelas, melewati daerah Pelesiran lalu jalan Ganesha dan menunggu angkot di depan rumah sakit Santo Boromeus sembari berbincang dengan teman yang nantinya akan mengongkosi angkot Dago yang saya tumpangi. Saya memilih akhirnya berjalan kaki ke arah Tubagus Ismail dibandingkan dengan memilih antara Klewih di Rancakendal atau kantor Bienal Keramik Kontemporer Jakarta yang anehnya bertempat di Bandung. Alasan yang cukup masuk akal sebenarnya karena tak ada ongkos untuk ke kantor bienal keramik atau jarak yang cukup panjang menuju Klewih. Hmm… pelesiran, saya jadi teringat kembali perjalanan yang belum juga saya ceritakan.

Sore setelah jalan di pagi buta itu pun saya merasa musti datang ke sebuah rapat kecil tentang “jalan seni”. Ya, Sebuah bagian dari helat besar bernama Pasar Seni ITB 2014. Sejenak bicara tentang jalan seni, dalam rapat yang saya hadiri tadi, hampir semua teman yang terlibat dalam rapat di sore tadi tampaknya sedang mengusung seni yang mengusung kegembiraan bekerja. Bentuk seni yang oleh Sanento Yuliman disebut kurang banyak peminatnya dalam seni rupa kita. Saya rasa pada masa Sanento menulisnya, hal itu memang terjadi adanya. Tapi kalau meilihat perkembangan termutakhir dalam seni rupa, seni yang mengusung kegembiraan bekerja saat ini sudah menjadi hal yang cukup lumrah. Ia tak lagi bentuk seni yang kurang diminati dalam pelepasan batas-batas kerja seni di masa sebelumnya.

Batas-batas kerja seni yang mungkin tak dianggap lagi inipun membuat kita mungkin seringkali tidak ambil peduli pada beberapa hal kecil semacam pendalaman atapun pengayaan terhadap pengetahuan akan kerja yang sedang kita lakukan saat ini. Kita bisa juga terlalu asik juga dengan kegembiraan bekerja yang kita perbuat. Terkadang ada rasa seolah beramai-ramai berkata, “Just do it, the rest will follow.”

Kita baru saja melewati sebuah pesta demokrasi untuk memilih wakil kita di dewan dan presiden beserta wakilnya. Cukup banyak juga seniman yang turut andil dalam upaya pemenangan presiden yang terpilih saat ini. Mudah-mudahan kita tidak lupa bahwa pada dasarnya mesin-mesin politik yang bekerja masih merupakan mesin yang sama sekalipun ada penempatan harapan pada presiden terpilih. Kita juga cukup banyak melewati perhelatan besar seni rupa macam bienal Jogja, bienal Jakarta, trienal Asia Tenggara, ArtJog, Bali Act, dan lainnya. Di Bandung kita tak kehabisan perayaan tentunya, kemarin saja anak-anak SMA 5 Bandung baru saja bikin pensi di Sabuga. Sebentar lagi kita akan menyaksikan perhelatan besar bernama pasar seni itb 2014. Acara jualan seni empat tahunan sejak 1972, yang diklaim terbesar di asia tenggara.

Mengenai hal di atas, saya tak hendak mengecilkan upaya berkarya dengan mengusung kegembiraan bekerja. Saya hanya terbawa untuk merenung sejenak, mengingat kembali perjalanan singkat saya dalam dunia seni rupa.

Malam itu, setahun yang lalu, saya baru kembali dari berkunjung ke Jogja untuk melihat perhelatan ArtJog13. Dari Jogja saya ke Jakarta karena sudah dipesankan tiket pesawat ke Jakarta. Dari bandara, baru saya langsung menuju Bandung. Di bandara saya memilih untuk menaiki bis yang ternyata akan mengakibatkan saya berjalan kaki dari daerah Leuwi Panjang menuju Kawista di Cigadung. Buat saya perjalanan kaki ini cukup panjang.

Di hari itu, untuk pertama kalinya saya menaiki bis dari bandara, dan berakhir bukan di sebuah terminal yang cukup besar melainkan di dalam area perumahan. Dari sana saya mencoba mencari jalan keluar dari perumahan yang tak saya kenal daerahnya. Cukup lama hingga akhirnya saya menemukan jalan utama dan mulai menyusurinya. Saya juga ingat, melewati sebuah tempat yang dikenal dipakai sebagai tempat konsultasi untuk masalah aborsi. Ketika saya sedang menyusuri trotoar sepanjang pinggir luar taman tegal lega, taman yang begitu gelap karena kurangnya penerangan itu, ada suara seperti memanggil. Saya kaget dan langsung mencari arah suara berasal. Dari balik pagar jeruji taman, di kegelapan, tampak ada perempuan yang melambaikan tangan sembari berkata, “bade a’?” Saya hanya tersenyum balik pada perempauan itu dan lalu melanjutkan berjalan kaki. Saya tersenyum menertawakan diri sendiri. Seharusnya saya tidak kaget, saya memilih melewati area yang memang saya tahu seringkali digunakan sebagai tempat menjaja diri.

Namun saya lebih kaget lagi. Tak lama setelah melewati area taman tegal lega, saya melihat dari kejauhan dua perempuan bersenda gurau di pinggir jalan. Semakin dekat, saya sadar bahwa mereka sebenarnya anak-anak yang menjaja diri. Bahkan dandanan menor tak bisa sembunyikan itu. Tepat sebelum melewati mereka berdua, saya menyaksikan seorang pengendara motor menghampiri mereka. Saya tak bisa menahan untuk mencuri dengar transaksi bapak itu dengan dua anak kecil. Cukup singkat dan sepertinya memang sudah langganan, mereka berdua pergi berbonceng tiga sambil tetap bersenda gurau di belakang. Ketika mereka melewati, saya berusaha melihat kembali untuk sekadar memastikan bahwa saya memang melihat anak-anak.

Pemandangan itu membuat saya teringat perilaku tak acuh saya saat berkunjung ke pasar muara angke di malam hari. Pelesir untuk menyicip ikan bakar dabu-dabu di tengah pasar muara angke. Di jalan sebelum memasuki pasar, saya melihat banyak anak perempuan berkeliaran di sekitar kios-kios kecil sepanjang jalan. Ada yang berlalu lalang pula menaiki becak dan sepeda. Saat itu saya hanya merasa heran melihat banyaknya anak perempuan berkeliaran di tengah malam. Rasanya bukan jam yang biasa melihat anak-anak bermain. Cukup aneh juga ketika saya melihat sebuah spanduk besar di atas sebuah gedung bertuliskan imbauan untuk menggunakan kondom. Sampai akhirnya ada tukang becak menawari, jelas sudah kenapa ada banyak anak perempuan berkeliaran di jalan itu. Mungkin mereka memang tidak punya banyak pilihan dalam keadaan ekonomi yang serba kurang di sana.

Tentang kegembiraan, saya melihat ada kegembiraan dalam raut wajah anak-anak ini. Buat saya kegembiraan itu cukup jelas tergambar dari perilaku mereka disana. Cukup mengganggu memang melihat wajah gembira itu, ditambah dengan gambaran kehidupan yang terbayang di kepala saya. Saya akhirnya meneruskan kembali ke tengah pasar untuk mencari kegembiraan pribadi saya menyantap ikan bakar dabu-dabu. Dalam perjalanan, saya hanya sekilas berpikir sebelum akhirnya lupa. Tak adil rasanya merenggut kegembiraan dari raut wajah mereka dengan perilaku menambahkan kutukan-kutukan dan hinaan serta vonis neraka buat mereka, bahkan jahat hanya untuk memikirkannya. Tiba-tiba saya membenci diri saya sendiri.

 
adhisuryo

*Dibuat untuk sebuah zine atas permintaan Aditya H. Martodihardjo, diunggah setelah mendengar Fajar Abadi tidur di bawah jembatan layang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: