bukan sumur di ladang

If (bukan sumur di ladang)

“The snake which cannot cast its skin has to die. As well the minds which are prevented from changing their opinions; they cease to be mind.”

― Friedrich Nietzsche

Sabtu 30 Agustus 2014, sekumpulan orang [tetangga dekat, tetangga jauh, kerabat dekat, kerabat jauh, teman dekat, dan teman jauh] berkunjung untuk sejenak bersilaturrahim, berbincang santai, bermaaf-maafan, bersapa ria, menenggak secangkir kopi, dan melempar uang logam ke sebuah sumur permintaan. Suasana yang ada seolah acara lebaran di sebuah rumah gang buntu.

Sebentar, ini acara di ruang depan s.14. Acara bincang seniman yang disusul dengan pembukaan pameran diringi permainan gitar. Ada para pekerja seni dan warga di sekitar rumah datang berkunjung. Ada seniman A.D. Pirous, Christiawan, Mimi Fadmi, dan Pramuhendra. Ada kurator Aminudin Siregar, Hujatnikajennong, Madin, dan Danoeh. Muka-muka yang tak asing ini berkumpul dan bertegur sapa dalam acara bincang seni ini. Tak tahu, kebetulan atau tidak, suasananya seperti acara lebaran saja.

Yang sedang berbicara di depan adalah seniman Anna Josefin. Berbagi cerita tentang proses berkaryanya. Berangkat dari penelitian singkatnya selama menjalani studi magister seni rupa ITB. Anna mengkaji warna dan kaitannya dengan anak-anak dalam tesisnya. Dia mengolah sisa-sisa revisi tesisnya yang bertumpuk hampir setinggi ulu hati itu untuk dijadikan sebuah karya dalam instalasi ruangnya. Bahan-bahan dari penelitian singkatnya itupun dijadikan acuan berkarya dalam project ‘Make a Wish’.

Baiklah, mari lupakan sejenak cerita kecil di atas. Nanti Anda bisa berandai-andai lagi tentang perintilan kecil dari cerita yang membuka tulisan ini.

Then (saya tak menumpang mandi)

“Sayang, paham seni sebagai kegembiraan bekerja tidak populer di negri kita, dan jika orang membicarakan seni, orang cenderung menjauhkan seni dari kerja lain-lainnya.”

― Sanento Yuliman

Saya tidak ingin membahas seluruh karya Anna, yang dibingkai dalam judul besar ‘Make a Wish’. Saya tidak ingin bercerita tentang karya cat airnya, yang berjumlah enam dan menampilkan gambar-gambar berkaitan dengan ritus permintaan. Saya ingin membicarakan tentang dua karya saja; karya instalasi ruang berupa sumur permintaan, dan karya dengan media campur di atas kanvas yang diletakkan di dalam perpustakaan.

Dalam karya instalasi berupa sumur permintaan, ruangan diisi dengan alas rumput buatan berwarna hijau. Ditengah ruangan diletakkan sebuah sumur permintaan yang terbuat dari tumpukan kertas yang dipadatkan dan dilubangi menjadi lingkaran selebar telapak tangan. Sumur ini diisi air dan diberi dasar kaca dengan tepian dalam sumur tampak seperti kue lapis dengan warna-warna yang mungkin terlalu manis – seperti anak-anak yang suka sekali rasa manis. Di sebelah sumur tergeletak bentuk mirip bongkahan batu yang dikerjakan dengan memadatkan kertas berwarna dan di beri tulisan ‘Inorganic nature has only the language of color’. Di salah satu sudut ruangan terdapat kertas siap tempel dengan bebeberapa pilihan warna, pena, tempat untuk menukar uang logam diletakkan bersama di atas sebuah pedestal setinggi lutut. Sementara itu, dinding ruangan juga telah ditempeli kertas warna-warni yang bertuliskan berbagai permintaan atau harapan mereka yang terlibat dengan karya ini.

anna make a wish hand cutted used paper acrylic glue anna make a wish hand cutted used paper fiber glue acrylic mirror water

Karya media campur di atas kanvas tampak seperti algoritma naif yang dibuat dengan pena berwarna dan tempelan beberapa benda temuan. Susun kerja pikiran ini tampak kekanak-kanakan dan dikerjakan dengan benda temuan dan media yang biasa dipakai anak-anak pula. Dikerjakan dengan latar putih baru kemudian diisi dengan alur berpikir dan berbagai benda temuan.

dont worry mixed media 50x50 2014

 

foto karya berjudul ‘don’t worry’

Yang menarik buat saya bukanlah susun benda temuan atau olah media yang menjadi pilihan artistik Anna dalam mengolah gagasan. Bukan pula pemilihan warna-warna yang berkaitan dengan studinya di magister seni rupa itb. Tak juga penggunaan pola keterlibatan dalam salah satu instalasinya. Yang menarik perhatian saya adalah penggunanaan pendekatan membangun karya yang melalui proses berpikir mirip dengan karya permainan dadu musikal (Musikalisches Würfelspiel), karya Escher, beberapa karya John Cage, karya tradisi batik, atau bahkan beberapa karya dalam gua prasejarah dulu. Metode ini juga pernah dipakai oleh seniman Albert Yonathan Setiawan dalam karya bertajuk ‘I will not make anymore boring art – practising John Baldessari’s work’. Kita juga bisa merasakan kesamaan ketika mengambil jarak dengan apa yang terjadi ketika seniman Fajar Abadi berjualan dalam karya ‘kuehsenyum’ misalnya.

Else (menjaja seni generatif)

Intuition is the art, peculiar to the human mind, of working out the correct answer from data that is, in itself, incomplete or even, perhaps, misleading

― Isaac Asimov, Forward the Foundation

Saya mencoba menjaja seni generatif dari karya Anna pada Anda. Seni generatif bisa dikatakan terjadi ketika seniman memberikan derajat kebebasan tertentu kepada sistem di luar dirinya sendiri, sehingga karyanya adalah hasil dari keputusan-keputusan intuitif sistem diluar diri seniman dari waktu ke waktu. Mengenai definisi seni generatif Anda bisa mencoba menyelami kutipan dari Galanter di bawah ini.

‘Generative art refers to any art practice where the artist uses a system, such as a set of natural language rules, a computer program, a machine, or other procedural invention, which is set into motion with some degree of autonomy contributing to or resulting in a completed work of art.’

Dalam karya instalasi ‘Make a Wish’, tentunya Anna telah menetapkan beberapa pilihan artistik tertentu sehingga dia dapat tahu perkiraan bentukan karya instalasinya secara umum. Di sisi lain dalam karya instalasinya Anna melepaskan keputusan artistik tersebut kepada orang yang terlibat dalam karyanya. Pelepasan ini terlihat terutama pada komposisi kertas berwarna di dinding sekitar sumur permintaan. Berikut ini kemungkinan alur berpikir, dan himpunan aturan yang dibuat oleh Anna dalam kerja instalasi ruangnya.

sketsa 001

 

sketsa instalasi ‘make a wish’

  1. Anna menentukan bentuk ruang utama dimana sistem yang dia bangun akan bekerja, dan segala perangkat kelengkapannya. [Tiga dinding berwarna putih, rumput buatan menutupi alas ruangan, sumur ditengah, bongkahan batu di sebelah sumur, serta pedestal dimana wadah untuk menukar uang logam, pena, dan beberapa kertas berbeda warna diletakkan]
  2. Anna membuat langkah-langkah prosedural untuk diikuti oleh orang yang nantinya terlibat dalam karyanya. Langkah-langkah tersebut antara lain;
  • masuk ruangan
  • jika tidak punya uang logam, maka tukar uang logam
  • jika telah memilih warna kertas dan menulis permintaan di kertas yang dipilih, maka tempelkan kertas berisi tulisan permintaan ke dinding
  • lemparkan uang logam ke dalam sumur permintaan

Model prosedural ini bisa juga kita jadikan dalam diagram alur seperti di bawah ini.

 

 

diagramaluranna

Dari gambar digram alur di atas saya kembali kepada karya Anna yang dibuat dipajang di ruang perpustakaan. Sekarang saya harap Anda mulai melihat kemiripannya. Ya, hal semacam ini yang menarik perhatian saya. Hal semacam ini yang saya jajakan pada anda. Mungkin kelak anda bisa menerka karya macam apalagi yang mirip dengan karya-karya semacam ini.

 

 

adhisuryo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: