Rekam Pembicaraan Bertiga

Catatan ini adalah rekam pembicaraan antara Darto dan Iwan (DI) dengan Fajar (F) dalam proses persiapan pameran tunggal Fajar Abadi.

DI :           “… Kita mulai dari paparan umum saja Jar. Sedikit cerita tentang apa yang akan dilakukan dalam pameran tunggal kali ini”.

F   :           “Setidaknya saya akan menampilkan tiga karya.

Yang pertama spesial pake keju, sebentuk meja 2×2 meter dengan kue kastengel di atasnya, kue kering dengan bahan dasar keju dan butter yang masuk dalam keluarga butter cookies. Kue-kue tersebut berbentuk aksara latin, disusun menjadi kalimat-kalimat yang bercerita tentang resep kue kastangel dan beberapa asumsi pribadi seputar menikmati kue dan konteks-konteks yang berkaitan dengan kue kastangel yang berada di atas meja.

Yang kedua karya rasa dari kata, ada sejumlah susunan kata, yang tidak menjadi satu kalimat namun satu kata yang berulang mengelilingi ruang. Kata yang dimaksud adalah kata, berbahan dasar kerupuk berwarna putih. Ruangan berwarna hitam dan diterangi lampu UV, audiens diharapkan datang berbusana hitam untuk menyelaraskan dengan warna dinding. Audiens juga diberi bubuk penambah rasa seperti yang saat ini banyak disertakan pada krupuk dan kripik. Ada rasa pedas, manis, asin, pahit, asam. Nantinya audiens boleh memilih rasa untuk dicampurkan pada kerupuk, untuk menambah rasa dari kata.

Karya yang ketiga adalah bentuk lanjutan dari mamahkuaing, memanfaatkan bentuk ruang yang ada di galeri yang kebetulan mirip seperti bale. Disana nantinya ada mamah yang merupakan ibu saya sendiri dan masakan ibu yang merupakan makanan kesukaan saya di rumah. Audiens nantinya akan disuapi makanan favorit saya oleh ibu saya.

Sebelum pameran, saya akan berjualan kuehsenyum di dalam UOB, berjualan kue muffin dengan bayaran satu kue satu senyum. Karya ini ditujukan untuk orang-orang yang biasanya berkegiatan di lingkungan UOB”.

DI :           “Pameran tunggal kali ini bekerjasama dengan sebuah ruang yang memiliki aspek komersial, cukup berbeda dengan ruang lain yang selama ini bersentuhan dengan karyamu. Pertimbangan macam apa yang ada di benakmu”?

F  :            “Dari dulu saya tidak bermasalah untuk bekerja dengan ruang manapun selama saya memiliki gagasan untuk menerapkan karya dalam ruang tersebut, saya juga tidak bermasalah dengan hal-hal komersial selama gagasan dari karya tidak terkorbankan. Awalnya saya tertarik dengan ajakan dari Junior berkaitan dengan peluncuran ROH Project. Ajakan dari Junior cukup unik dibandingkan tawaran yang diberikan galeri komersial pada umumnya di Indonesia. Saya bisa bekerja sesuai kecenderungan saya, hal-hal yang saya suka seperti performans dan keterlibatan. Saya bisa terlibat dengan audiens cukup jauh. Dan saya pikir ini tawaran yang cukup bagus”.

DI :           “Apa judul pamerannya, dan kenapa dua kurator”?

F   :           “Judul pamerannya “…”bisa disebut tiga titik hitam bisa juga tidak disebut, kalau diuraikan secara rupa memang tiga titik hitam.

Sebenarnya saya dari dulu sangat memikirkan pentingnya kerja kuratorial dalam sebuah pameran dan dalam pendistribusian gagasan dari karya pada audiens dan masyarakat yang lebih luas. Kurator itu juga bisa jadi rekan untuk mengembangkan gagasan. Ada beberapa kerja kuratorial berkaitan dengan perpanjangan karya dan proses berkarya yang mungkin tidak saya sadari dalam berkarya. Sebenarnya tidak masalah satu, dua atau tiga tapi saya pikir kalau lebih banyak yang memberikan pengembangan dan jadi teman ngobrol serta pengkomunikasian terhadap publik yang lebih luas akan lebih bagus. Mungkin ada pembacaan yang lebih menyeluruh dan keterkaitan yang lebih kuat terhadap kegiatan dan narasi dengan masyarakat yang lebih luas. Kebetulan Iwan dan Darto, sudah cukup lama, 6 atau 7 tahun ke belakang, saya sering berbagi gagasan baik di pameran ini maupun diluar, tentang kecenderungan dalam melihat sesuatu. Intensitas ini yang saya percaya dapat menyuguhkan pameran ini menjadi lebih baik kepada masyarakat. Darto dan Iwan punya pemandangan dan pandangan yang berbeda dalam melihat kecenderungan berkarya saya. Itu yang saya butuhkan untuk akurasi pembacaan untuk disampaikan kepada publik”.

DI :           “Soal kecenderungan berkarya, yang selama ini kita lihat sulit untuk diterima atau dimengerti. Kecenderungan macam apa sebenarnya”?

F  :            “Kecenderungan berkarya menggunakan media kegiatan, perilaku, peristiwa, atau kenyataan. Saya membayangkan performans dalam bagan media. Pertama gambar, saya menangkap kejadian yang saya suka dalam gambar, kelanjutannya adalah kebutuhan saya untuk menjadikan gambarnya bergerak, lalu saya ingin gambarnya lebih dekat pada kenyataan seperti video. Lalu kenapa tidak jadi kenyataan atau peristiwa saja? Kenapa tidak? Lalu saya mulai bekerja membuat peristiwa, membuat tindakan, membuat kenyataan. Saya pikir dalam tindakan ada bahasa-bahasa rupa yang paketnya lebih lengkap. Saya banyak mengambil dari kehidupan sehari-hari, dari perilaku anak yang mengacu pada perilaku orang-orang dirumahnya, ayah, ibu, anggota keluarga yang lain, dan teman-temannya. Saya merasa perilaku bisa menjadi alat untuk mengkomunikasikan gagasan. Ada kemungkinan lebih tinggi, menurut saya, gagasan dapat bersinkronisasi dalam bahasa tindakan”.

DI :           “Tadi Fajar menyebut bahasa perilaku atau tindakan, yang dekat rasanya dengan latar belajar seni pertunjukan. Fajar juga berangkat dari patung dan performans selama studi di sekolah. Tarikan macam apa yang menghubungkan semua bekal ini”?

F  :            “Dari seni pertunjukan saya mendapat sebuah uraian singkat seni dengan media peran. Keaktoran, aktor melakukan akting. Pelatih seni pertunjukan saya selama SMA selalu mengatakan bahwa akting itu bukan pura-pura tetapi menjadi, walaupun harus ada penyesuaian jangan sampai aktor tidak dapat menguasai menjadinya dia. Harus tetap ada titik dimana dia bisa kembali ke dirinya sendiri. Disanalah kekuatan seni pertunjukan, kekuatan aktor dan kekuatan seluruh pihak yang berkaitan dengan satu penciptaan karya seni pertunjukan. Menyampaikan cerita atau tindakan dimana aktor menjadi, ada pengaturan yang menguatkan kejadian, sutradara menyambung antar kejadian/cerita lantas semua menjadi sebuah gagasan untuk disampaikan pada audiens. Semua bagian itu penting. Bahkan gambaran musik sekalipun memperkuat kejadiannya. Seperti musik latar dalam film yang menambah sentuhan kenyataan dalam tampilan. Memperkuat proses sinkronisasi seluruh bagian pertunjukan pada audiens.

Sebelum memerankan ada proses pengamatan, Rano Karno melakukan pengamatan bagaimana rasanya jadi supir taksi sebelum berperan sebagai supir taksi dalam film. Pelatih seni pertunjukan saya selalu menekankan bahwa ada akting yang seperti mesin dan akting yang alami. Yang seperti mesin hanya menggunakan media-media ekspresi pada tubuh hanya sebagai peniruan gerak dan suara, misal mengernyitkan dahi dan mengeluarkan suara “huhuhu”. Akhirnya audiens hanya mendapat kepalsuan. Audiens tidak mendapatkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan dalam peran dan kegiatan tersebut. Makanya aktor tidak berpura-pura menjadi tapi menjadi. Aktor perlu merasa, perlu menjadi. Kalau memang supir taksi, maka dia sedang menjadi supir taksi.

Dalam performans, dalam studi performas di sekolah, dari teman-teman dan senior, ada beberapa pengertian yang diberikan entah lewat buku, obrolan, ataupun kuliah. Yang paling banyak saya temukan adalah pengertian performans sebagai seni dengan media tubuh. Ada kebingungan saya membandingkan istilah tersebut dengan body art yang diterjemahkan secara harfiah menjadi seni dengan media tubuh. Lalu tubuh bisa mengkomunikasikan apa kalau dia jadi media? Buat saya tubuh bukan tubuhnya saja tapi apa yang dilakukan tubuh itu. Maka kemudian saya berpikir bahwa mungkin saja lebih cocok kalau performans adalah seni dengan media tindakan atau apa yang dilakukan tubuh. Meskipun tindakan di dalamnya adalah diam, namun kesadaran utamanya adalah bertindak diam. Tindakan tubuh jadi kesadaran utama dibandingkan tubuh.

Pak Amrizal, dosen pertama saya di studio patung selalu mengatakan, “bukan saya yang mengajarkan kamu, tapi patungmu sendiri”. Ucapan yang selalu membuat saya bingung, apa yang patung ini ajarkan kepada saya, apakah Pak Amrizal sedang berfilsafat atau simbolik. Ternyata ungkapan itu saya rasa sangat teknis dan ternyata memang semuanya. Saya mendapat masukan pertama berkaitan dengan cara melihat dan mengerjakan sesuatu. Untuk membentuk sesuatu dengan akurat saya perlu mendekat dan menjauh dari apa yang saya kerjakan. Saya perlu menjauh untuk melihat besaran-besaran yang lebih luas, dan saya juga perlu mendekat untuk melihat lebih detail dan kompleksitas di dalamnya. Lalu permasalahan ruang, patung bukan sekedar membuat objek tiga dimensi, tapi menyelaraskan objek tersebut terhadap ruang dimana dia diberadakan atau ditempatkan.

Saya kemudian membangun perihal-perihal konteks dari bekal-bekal diatas. Mempertanyakan bagaimana bila bentuk-bentuk karya saya ada di ruang-ruang tertentu, dimana saya banyak bekerja dengan keterlibatan masyarakat. Keberhasilan karya, bentuk rupanya, bentukan tindakan, dan juga kejadiannya akhirnya sangat dipengaruhi dimana dia ditempatkan, seperti apa ruang disekitarnya, seperti apa yang melihat dekat dan jauh, seperti apa orang yang melihat dan mengalami.

Saya memang mengalami kesulitan memindahkan pola komunikasi kejadian kepada orang yang tidak mengalami kejadiannya”.

DI :           “Berkaitan dengan kecenderungan berlanggam keterlibatan, ada kecenderungan untuk menjadi hal yang sehari-hari. Terkadang Fajar memilih untuk tidak terlihat dan membuat orang tidak menyadari bahwa itu sebuah peristiwa kesenian atau bahkan karya seni”.

F  :            Buat saya tidak ada keharusan bahwa seni harus memiliki bentuk yang benar-benar berbeda dari keseharian kalau konteksnya memaksimalkan komunikasi gagasan. Di Indonesia khususnya, saya melihat pemahaman orang yang jarang datang ke pameran menganggap seni sebagai kepura-puraan, sebagaimana seni pertunjukan dianggap berpura-pura menjadi. Selain itu mengurangi kualitas kerja senimannya, kemungkinan penjelajahan dan pengkajian seniman, hal itu juga menimbulkan keterjebakan bentuk. Buat saya, seni adalah alat untuk mengkomunikasikan gagasan. Saya tidak bermasalah dengan membuat sensasi, saya rasa sensasi penting juga, namun saya berusaha agar sensasi yang ada tidak mengelabui gagasan yang sebenarnya ingin disampaikan. Bagaimana caranya agar gagasan yang ingin disampaikan lebih bisa tersampaikan dengan baik, saya pikir saya perlu menyelinap dalam kehidupan sehari-hari. Maka bentuk-bentuk dan strategi yang muncul dari kerja saya menjadi bentuk-bentuk yang biasa, yang sehari-hari. Karena saya rasa dalam keseharian ada pola-pola sinkronisasi gagasan, tinggal saya rumuskan dalam tindakan dan kejadian untuk menyampaikan gagasan saya.

Memang dalam praktiknya di ruang masyarakat, banyak yang akhirnya menganggap bahwa itu bukan sebuah bentuk seni. Tapi apakah karya seni selesai dipermasalahan apakah bentuknya sudah seni atau belum seni? Terkadang dampaknya di ruang masyarakat, awalnya masyarakat tidak harus menerimanya sebagai seni, tapi menerimanya hanya sebagai kejadian atau peristiwa, gagasannya sinkron dan bekerja. Masalah kejadian itu didaulat sebagai seni memang lebih terasa penting di tataran akademi. Kita bisa bedah, kita bisa kritik karya itu lebih lanjut hingga bisa didaulat sebagai sebuah karya seni. ketika karya itu bekerja di ruang masyarakat bukan masalah itu seni atau bukan yang utama. Kalau karya tersebut diulas secara akademis maka kita bisa melihat kenapa dia disebut sebagai karya seni pada akhirnya.

Di karya mamahkuaing misalnya, bukan sekadar wajah dan figur mamahnya saja, namun gambaran tentang mamah yang ditangkap saat itu juga merupakan pengumpulan dari tindakan-tindakan mamah, pikiran mamah, dan gagasan tentang mamah secara umum. Untuk itu kenapa tidak menampilkan mamahnya saja? Kebetulan mamahnya alhamdulillah masih ada dan ketika diminta dia mau. Dalam kerja saya seringkali gagasan saya tentang kejadian tidak bisa dilakukan oleh saya sendiri, saya butuh orang lain agar gagasan yang saya bangun bisa lebih kuat. Bukan sekadar orang-orang yang berpura-pura jadi mamah atau objek yang dipekerjakan untuk menjadi mamah, tapi saya mengajak mamahnya langsung”.

DI :           “Di pameran tunggal kali ini ada tiga karya, spesial pake keju, rasa dari kata, mamahkuaing. Kalau ditambah kuehsenyum empat berarti. Yang jadi menarik adalah pemilihan media dalam karya-karya ini dekat dengan makanan. Kenapa harus kue? Kenapa menjadi muffin? Kenapa harus pake keju sebagai bahan dasar yang tidak ada dalam tradisi makanan di Indonesia? Lalu dalam karya-karyamu ada interaksi atau pertukaran nilai antara fajar dan audiens, kenapa itu yang ditempuh?

F  :            “Tentang makanan…, ada keinginan saya dari dulu untuk memasukkan sesuatu secara harfiah ke dalam audiens. Saya ingin masuk ke dalam audiens, makanan jadi perwakilannya. Audiens memakan sebagian dari karyanya, tidak hanya bertukar gagasan secara mental namun juga ada hal yang masuk secara fisik. Selain itu makanan punya kemampuan untuk memperkuat suasana dan gagasan yang saya bangun. Makanan tidak harus keras, juga bisa juga minuman.

Mencontoh dari iklan teh sariwangi, mungkin saja dirumah mamah memberi makanan lalu menyuruh membersihkan rumah, mengomel, marah-marah. Sama polanya seperti karya, dia tidak sekadar marah-marah atau mengomel dia juga sedang mencoba mengkomunikasikan gagasan. Pola perjamuan seperti dalam last supper di berbagai kebudayaan terlihat makanan menjadi bagian penting dari komunikasi. Dalam acara kawinan sekalipun sebenarnya cukup diberi surat penanda sudah menikah, namun pengkondisian terhadap lingkungan tetap dilakukan oleh masyarakat kita. Pun dalam acara rapat RT/RW ada makanan untuk mengkondisikan fisik peserta rapat.

Menyoal makanan yang bukan tradisional, saya pikir sebenarnya bagian tradisi ataupun bukan tradisi masih gamang pemahamannya dalam diri saya. Misal, kalau kita mengacu pada tradisi sebagai sesuatu yang selalu dipakai harusnya keju sudah tradisional. Dulu ada masa kita selalu mendengar kata spesial pake telor, namun sekarang kita lebih sering mendengar kata spesial pake keju. Mungkin dulu karena harga telur dibanding pendapatan perkapita membuat telur jadi barang yang cukup mewah. Dulu orang Indonesia bahkan sulit untuk menerima susu karena enek, namun sekarang orang Indonesia sudah menerima dan mengkonsumsi keju dan bahkan menjadi enak. Saya memakai bagian yang sudah banyak dipakai oleh masyarakat dalam karya saya.

Perihal muffin, sebenarnya dia beda dengan cupcake. Sering ada yang mengatakan ini cupcake saya selalu bilang, “Bukan, ini muffin”. Muffin saya pilih karena kue-kue dalam bentuk panggang dan menggunakan butter memiliki stimulan tambahan yang saya butuhkan, ada aroma yang kuat. Seperti saat saya kecil, waktu mamah sering membuat kue lebaran. Suasana lebaran sudah terbentuk sebelum lebaran ketika Ibu membuat kue lebaran. Pengkondisian aroma jadi bagian penting dari lebaran itu sendiri.

Kembali menyoal tradisi dan bukan tradisi, saya pikir titik permasalahannya tidak harus kesana. Kuehsenyum masih terus berkembang, dan kebetulan saya belum mengkaji dan mengamati lebih lanjut kue-kue yang lain. Kuehsenyum tidak mempermasalahkan harus tradisi atau bukan, tapi kue itu harus enak karena akan menukar dirinya dengan senyum orang, dan kegiatan yang dilakukan harus sungguh-sungguh karena saya akan menukarkannya dengan senyum. Kue tersebut harus benar-benar maksimal saat sampai kepada audiensnya.

Kalau bukan masalah tradisional mungkin saya memang mengangkat hal-hal yang banyak diakses di tempat saya berada, seperti kerupuk yang jadi raja saat ini, muffin yang seringkali disebut cupcake pun sudah banyak diakses masyarakat kita. Kastangel misalnya, lebih marak di Indonesia daripada di Belanda. Kastangel adalah salah satu anggota keluarga kue lebaran bersama nastar dan kawan-kawan. Kita sudah melakukan sinkronisasi selama pertemuan kita dengan Belanda. Seringkali saya mendapati teman saya bangga kalau ibunya membuat kue lebaran, namun tidak mempermasalahkan apakah itu tradisional atau bukan. Yang jadi masalah apakah kuenya enak atau tidak. Secara kebudayaan saya rasa bangsa kita punya kemampuan akulturasi yang tinggi.

Berkaitan dengan interaksi, saya pakai karena saya memang memiliki keterbatasan dalam merealisasikan gagasan, gagasan itu baru bisa penuh kalau ada interaksi orang lain. Kadang informasi yang saya bangun pun belum tentu utuh dan benar, saya butuh masukan. Saya merasa ada hal yang asyik dari bertukar dan berbagi, dimana saya tidak merasa sebagai pemilik utuh keseluruhan gagasannya. Misal dalam kuehsenyum, semua orang punya gagasan tentang senyum, hanya saja dia perlu dipicu dan apa yang muncul dari orang-orang menjadi tambahan kelengkapan dari gagasan yang saya bangun. Saya menyukai pola semacam itu karena dalam proses saling berbagi itu ada proses sinkronisasi bukan sekadar mendikte”.

DI :           “Dari intensi Jar. Dalam proyek-proyek seni sebelumnya ada semacam propaganda yang mungkin bisa disejajarkan dengan Banksy misalnya. Yang selalu disentil atau disentuh adalah hal-hal yang sebenarnya ada namun kita sendiri jarang sadar dan mampu mengartikulasikan semisal memijat dalam pij?t, senyum dalam kuehsenyum, atau mandi bola saat di kampus dulu. Ada sisi romantik pada hal-hal yang sudah tergerus dan berusaha diartikulasikan kembali. Ini propaganda juga, tapi subtil. Intensi lu sendiri sebenarnya bagaimana?”

F  :            “Kurang lebih sama. Memang ada minat dan niatan yang tinggi pada propaganda. Saya pikir pola propaganda semacam itu juga sangat menarik, tapi saya lebih menekankan pada hal yang romantik, hangeuteun, bentuk-bentuk cinta mungkin. How to make an art works, bagaimana membuat seni itu bekerja, mensinkronisasikan gagasan. Propaganda untuk menumbuhkan gagasan-gagasan di kepala orang memang kuat ada dalam diri saya. Masalah-masalah kecil, seperti intensitas orang mengangguk sembari tersenyum di Bandung yang berkurang drastis, ternyata menjadi hal yang saya amati dan pusingkan karena saya menganggap penting keberadaannya dalam masyarakat. Misal di kuehsenyum gagasan utama selain mengumpulkan senyum adalah pertukaran nilai, bukan sekadar nilai-nilai yang menjadi kesepakatan saja. Melihat kegiatan moneter, pertukaran saham, nilai tukar uang yang berbeda-beda yang memusingkan buat saya, itu bukan nilai yang sebenarnya dan membuat hidup kita semakin rumit dan bahkan dalam titik tertentu membuat keputusasaan. Saya ingin menanamkan rasa optimis menghadapi keadaan semacam ini”.

DI :           “Tadi disebutkan tentang latar belajar seni pertunjukan dan memang metode berkarya Fajar adalah sebuah bentuk kegiatan seni yang variabelnya banyak berasal dari struktur performans di barat namun dengan bahan bakunya kesadaran yang sangat lokal dan sangat personal. Dalam pendekatan semacam ini biasanya seniman jarang terlibat dengan karyanya dan penyampaian berpusat di bagaimana cara seniman menyampaikan dan audiens mencerna, bukannya menjadi terlibat dan berinteraksi dengan audiens dalam karya. Pendekatan ini menjadi semacam komunikasi untuk menyampaikan gagasan dengan bahasa spesifik dalam karya yang dalam hal ini adalah pengalaman. Dan walaupun mungkin beberapa seniman punya intensi yang sama, presentasi karya seringkali diluar kecenderungan yang kadang-kadang bombastis dan juga di tataran kemasan yang cantik. Kenapa memilih pendekatan metode semacam ini, padahal dengan gegap gempita seni rupa kontemporer banyak variabel yang membuat pendekatan semacam ini bisa membuat presentasi karya menjadi tidak terlihat keren?”

F  :            “Menurut perkiraan saya dengan metode semacam ini lebih tepat untuk mensinkronkan gagasannya. Karena yang saya inginkan bukan sekedar bagaimana gagasan tersebut bisa disebut atau diartikulasikan secara verbal maupun teks dengan baik namun tidak menjadi milik. Kadang bentuk-bentuk yang cantik dan bombastis menghalangi kepemilikan gagasannya, saya ingin gagasan itu dimiliki orang, saya tidak ingin mengganggu kerja gagasannya. Semuanya demi gagasan yang tersampaikan dan sinkron. Walaupun umpan balik yang kita dapat seringkali tidak berupa artikulasi yang baik. Seperti dalam kuehsenyum, dimana mereka yang terlibat masing–masing memiliki penjelasan yang berbeda atau bahkan hanya mampu mengungkapkan keseruan saja, namun rasa kepemilikin orang-orang yang terlibat cukup kuat.

Metode yang fokus pada bentuk tertentu seringkali menyimpang dari gagasan yang ingin disampaikan, menjadi stereotip. Semisal stereotip tentang tokoh agama, tentang kesucian yang dilihat dari tampilan berwarna putih tanpa dilengkapi perilaku yang sebangun dengan gagasan tentang kesuciannya. Orang penting dengan sirine dan pengawalan di jalan raya tanpa kita tahu kenapa dia penting. Sebutan atau bentuk muncul tanpa dilengkapi dengan konten atau konteks yang melengkapi. Penumpukan macam ini mengganggu pemahaman kita akan tanda-tanda yang ada. Kita seharusnya merasa aman melihat orang berbaju coklat agak abu-abu dengan perangkat detilnya, namun justru ketakutan yang muncul. Melihat orang-orang berpaikaian putih-putih, sorban, berjanggut harusnya buat yang seagama merasa aman tapi justru merasa takut juga. Atau justru teman-teman yang ingin berekspresi lebih dengan anting, rajah, rambut grondong diidentikkan dengan penjahat. Itu semua keterjebakan bentuk, mengajukan bentuk terus menerus bersama bias yang terbangun bersamanya dalam masyarakat. Masyarakat sudah sering ditipu dengan bentuk. Saya hanya mencoba mengajukan alternatif penyampaian gagasan dengan tetap berusaha jujur dan tidak terjebak dalam bentuk”.

DI :           “Menyoal bentuk, ada sedikit kontradiksi dengan pernyataan tadi. Setelah kuehsenyum, dalam mamahkuaing, spesial pake keju, dan rasa dari kata, kehadiran Fajar menghilang. Ada transisi metode di sini, apa yang terjadi?”

F  :            “Saya tidak benar-benar hilang dari karya. Dalam mamahkuaing pertama di ruang depan s.14, saya bertarung dengan Ibu. Saat ini saya ingin manyampaikan gagasan mamahnya saja. Seperti saya katakan sebelumnya saya menyertakan yang lebih bisa menyampaikan gagasannya dengan lebih utuh. Dalam karya spesial pake keju dan rasa dari kata, secara teknis saya masih ada di dalam ruangan itu mengamati. Saya sebenarnya lebih memikirkan tentang kesempatan antara sesama audiens berinteraksi. Keberadaan saya dalam keadaan ini menjadi sesama audiens lagi, menyatu dengan audiens. Dalam keadaan ini saya tetap membuat perjamuan, lebih leluasa menjadi audiens, bersama-sama menjadi pembuat karya dan bertukar gagasan secara lebih verbal”.

DI :           “Tentang kata menyatu tadi, sebenarnya bagaimana lu sendiri memposisikan diri dalam masyarakat?”

F  :            “Kalau mau memposisikan mungkin saya adalah masyarakat yang menggunakan seni. Saya tidak terlalu bermasalah dengan posisi, yang penting buat saya karyanya bekerja. Saya tidak ingin menjadi semacam mahasiswa yang diposisikan dengan keharusan-keharusan, lalu menjadi sering demo hingga justru meresahkan masyarakat”.

DI :           “Sulit rasanya membulatkan karya-karya lu dalam penjelasan yang cukup lengkap. Seringkali memang kembali ke pemahaman masing-masing orang”

F  :            “Karenanya judulnya “…”, karena belum tahu perbendaharaan kata yang tepat”.

DI :           “Berusaha akurat walaupun presisi rendah?”

F  :            “Ya mungkin, dari gambar ini penjelasannya”.

akurasi vs presisi

Bandung, penghujung November 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: