Melatar Kerja Seni Fajar Abadi

 

“It’s not about what it is, it’s about what it can become.”

Dr. Seuss, The Lorax

 

Kilas Balik Tiga Perjumpaan

Dalam tulisan ini saya mencoba untuk mengingat kembali sembari menulis tentang bagaimana saya mengenal Fajar Abadi Ramadhan Dwi Putra dari perjumpaan-perjumpaan yang tidak kami rencanakan. Memilih tiga perjumpaan yang mungkin laik untuk diceritakan. Untuk membaca semacam ujung-ujung yang bisa menjadi praduga saya tentang pilihan kerja seni Fajar, yang dalam hemat saya cukup sulit untuk dimengerti kebanyakan rekan-rekannya di Bandung. Yang saya maksud sulit dimengerti di sini adalah masa awal Fajar menetapkan pilihan untuk berkarya dengan mengambil bentuk keterlibatan sebagai pilihan kerja seninya. Saya mencoba membangun kepingan-kepingan dari tiga titik masa yang saya pilih berikut ini, walaupun mungkin tidak cukup jelas dugaan yang sedang coba saya ajukan. Setidaknya tiga perjumpaan ini bisa menjadi neksus atau sekadar picu ingatan lain tentang segala hal seputar kerja seni Fajar. Ataupun semacam Ptah! Ptah! Ptah! yang diucap oleh Ra untuk mencipta dunia.

Perjumpaan pertama terjadi ketika saya duduk di sebuah undakan tepat menghadap Tugu Soekarno. Saya ingat bahwa itu sore hari dan saya tidak ingat kenapa saya duduk di area yang tadinya adalah bagian dari sebuah jalan menanjak yang dulu selalu membuat kami (mahasiswa yang merasakannya) memilih untuk berjalan melewati “boulevard”. ditemani hujan rintik dan pepohonan rindang yang membuat kami mengamini idiom Parisj Van Java. Saya mengingat tiba-tiba ada orang, dengan badan yang jauh lebih besar dan berisi dari saya, duduk dan mulai bercerita tentang apa yang sedang terjadi di sekitar bangunan yang tadinya adalah sebuah pusat kegiatan mahasiswa yang cukup terkenal bernama “student center”. Ya, saya ingat pikiran saya sedikit meremehkan, “Satu lagi korban kaderisasi kampus gajah, kampus kebun binatang yang sedari dulu menyambut dengan kata-kata selamat datang putra-putri terbaik bangsa”. Setelah cukup lama mendengarkan akhirnya dia mengulurkan tangan, “Fajar”.

Saya akhirnya terperangkap juga dalam arus pembicaraan tentang pendidikan dan anak-anak ketika Fajar mulai bercerita tentang sebuah komunitas bernama “Bandung Bercerita”. Saya selalu mengajukan nada-nada pesimis terhadap setiap ajuan yang dia kemukakan, namun Fajar terus mengajukan cerita baru. Pembicaraan ini berlarut tak tahu waktu, sampai akhirnya saya menyadari bahwa setiap ajuan kalimat dari Fajar selalu bicara tentang apa yang dia rasakan terhadap setiap keterlibatan dia dalam “Bandung Bercerita”. Fajar selalu berangkat mencapai kesimpulan dari apa yang dia rasakan, menggunakan banyak perumpamaan dan tak lama setelahnya saya tahu dia mahasiswa seni rupa. Perjumpaan itu diakhiri dengan ajakannya untuk datang dan melihat kegiatan anak-anak autis di tempat dia mengajar esok hari, namun saya lupa dan hingga hari ini belum pernah ke tempat yang dimaksud.

Perjumpaan selanjutnya terjadi dalam hari kegiatan Pasar Seni ITB tahun 2010 diadakan. Tidak banyak yang kami bicarakan saat itu, sebenarnya bahkan mungkin tidak ada. Saya berpapasan dengan manusia tambun bermuka pucat hendak pingsan mengangkat berbagai peralatan. Saya ingat membantu mengangkat alat yang tertinggal dan membawanya ke rerumputan sebelah gedung aula barat, lebih dekat himpunan mahasiswa sipil tepatnya. Alat-alat tadi adalah bagian dari instalasi karya “Air Doa”.

Setidaknya ada lima orang mengerjakan instalasi karya tersebut. Bukan deskripsi instalasi “Air Doa” yang melekat dalam ingatan saya, namun kerja dari orang-orang yang berangkat dari latar belajar yang berbeda. Saya mengingat perlakuan terhadap instalasi yang menggambarkan rasa kepemilikan yang kuat. Saya duduk cukup lama, di bawah sebuah pohon besar tempat mahasiswa biasa bermain bola, memandangi perilaku manusia yang bergerak di sekitar dan berinteraksi dalam “Air Doa”. Hari itu saya tidak melihat Fajar dalam ingatan saya di rerumputan sekitar “Air Doa”. Saya benar-benar lupa dengan manusia tambun berwajah pucat tadi (Dikemudian hari Fajar bercerita kalau dia akhirnya tidur setelah lima hari mempersiapkan instalasi “Air Doa”). Instalasi “Air Doa” berhasil membuat saya melamun dan membuang-buang waktu.

Perjumpaan ketiga terjadi di sebuah kamar sewa tahunan yang berada di daerah dekat terminal Sadang Serang, saat saya sedang mengutak-atik program untuk pemetaan kontur tanah, sebelum berangkat ke Sulawesi Tengah. Fajar sebenarnya datang bersama Ackay Deni hendak bertemu dengan Gabriel Aries di kamar sebelah. Pendek cerita saya berhasil mengajak mereka bertiga bermain dengan program lain yang saya buat di komputer. Di sela permainan, kami berbicara tentang sebuah proyek Ackay mengikat-tutup sebuah mesin pengeruk lahan dengan selotip merah di atas sebuah bukit. Setelah saya meminta dokumentasi yang dimiliki Ackay perihal proyeknya itu, pembicaraan beralih lebih lanjut tentang performans di Bandung.

Dalam pembicaraan waktu itu, saya ingat bicara tentang cara kerja seni generatif, yang pernah saya baca ketika mencari tahu berbagai penggunaan pemrogragaman di luar kebiasaan. Saya mengajukan beberapa kemiripan metode pendekatan kerja seni generatif dengan kerja seni Fajar. Menurut saya dalam cara kerja seni generatif, seniman memilih untuk menciptakan proses atau yang dalam pilihan kata Fajar adalah menciptakan kejadian. Pendekatan generatif menempatkan sebuah kumpulan aturan-aturan sederhana diterapkan melalui program komputer, mesin, ataupun perilaku prosedural yang kemudian dijalankan dengan derajat kebebasan tertentu hingga menghasilkan sebuah proses yang diartikan sebagai sebuah karya seni. Hal ini juga saya anggap sebangun dengan pola kerja Fajar dalam menciptakan beberapa karyanya. Modus kerja yang mirip inilah yang memungkinkan Fajar untuk terus-menerus menambah variasi dari karyanya. Tidak pernah ada kejadian yang sama, namun ada kemiripan dari fitur-fitur kejadiannya, dan saya bisa melihat adanya aturan umum yang sama diterapkan oleh Fajar secara berulang. Perjumpaan ketiga ini menyisakan pekerjaan rumah (membaca) untuk Fajar, sebagai balasan atas perjumpaan kedua.

Meringankan Beban Ingatan

Tiga perjumpaan yang membuka tulisan ini membawa saya untuk mencoba menjelaskan kemungkinan garis khayal yang menjadi neksus dari tiga titik masa itu. Fajar sempat berujar tiba-tiba dalam perjalanan kami ke Bandung tiga minggu yang lalu, “Sekolah Luar Biasa itu memang luar biasa!”. Saya mencoba menyelami apa yang mungkin terjadi selama Fajar mengajar. Saya membayangkan Fajar dan anak-anak menghadapi satu dinding penghalang komunikasi dalam proses belajar-mengajar ini.

Mengaca pada pola pendidikan yang diajukan Freire sebagai lawan dari pendidikan gaya bank, Fajar menempatkan dirinya untuk mengidentifikasi semacam penindasan dalam proses belajar-mengajar dengan halangan komunikasi ini. Seiring waktu, baik Fajar maupun anak-anak mengupayakan untuk membebaskan dirinya dari halangan yang mereka rasakan. Dalam proses yang seringkali Fajar sebut sebagai proses sinkronisasi ini, pihak yang terlibat melakukan proses pembelajaran bersama untuk bisa melakukan pertukaran lebih lanjut.

Kesadaran macam inilah yang saya anggap menjadi salah satu bekal penting dalam kerja seni Fajar. Kesediaan untuk bersama-sama menempatkan diri kita dalam posisi yang relatif sejajar. Bersama-sama mencoba meringankan beban ingatan tentang pola komunikasi yang berlaku umum di sekitar. Lalu dari kesediaan tersebut bersama-sama mencoba menemukan atau membaca pola kerja yang lebih baik.

Proses meringankan beban ini, disuntikkan pula dalam kerja membangun instalasi yang sempat membuat saya melamun cukup lama di rerumputan sebelah Gedung Aula Barat. Tidak hanya dalam proses persiapan, dimana Fajar bertemu dengan berbagai pihak yang memiliki bekal pengetahuan yang berbeda dan bersama mengusahakan sinkronisasi, karya tersebut-pun mampu menunjukkan tanda-tanda peringanan beban dimana komunikasi selama karya bekerja dicoba dibangun tanpa pembungkusan berlebih oleh bekal pengetahuan yang sebelumnya kita miliki. Penyampaian gagasan kemudian dicoba melalui perilaku atau kejadian yang bisa jadi menanam gagasan dalam kerja motorik, atau lebih jauh lagi kemungkinan menanam gagasan dalam tingkatan seluler. Proses sinkronisasi gagasan melalui bahasa perilaku, tindakan, kejadian, dan atau keterlibatan inilah yang menurut Fajar mampu membebaskan dirinya dari perangkap bentuk yang selama ini seringkali menjadi penyebab distorsi dalam penyampaian gagasan.

Mengait pada pekerjaan rumah yang saya titipkan pada Fajar di perjumpaan ketiga, saya bicara mengenai kemungkinan pembacaan menarik untuk melihat kerja seni Fajar sebagai sebuah penciptaan kejadian (karya) melalui proses pembangunan aturan-aturan sederhana yang kemudian dilaksanakan secara berulang. Melalui kerja semacam ini, saya membandingkan kerja seni Fajar dengan Game of Life-nya Conway. Dimana dinamika yang kompleks mampu dihasilkan dari aturan-aturan yang sederhana. Fajar seringkali menciptakan kejadian sehari-hari, di tengah keseharian, yang menyebabkan pola mengelompok di sekitar kejadian yang Fajar ciptakan bersama audiensnya. Fajar juga sadar untuk memberi semacam derajat kebebasan tertentu terhadap pihak yang terlibat dalam karyanya. Fajar tidak pernah benar-benar mengetahui hasil akhir karyanya secara terperinci. Namun Fajar masih dapat tahu mengenai pola yang mungkin terjadi dan hal-hal yang mirip dari setiap pengulangan atau variasi terhadap himpunan aturan yang dibuat oleh Fajar dalam setiap karyanya. Pemandangan semacam inilah yang saya dapat ketika berjarak dengan karya Fajar dan melihat pihak-pihak yang berinteraksi sebagai entitas-entitas kecil dalam Game of Life-nya Conway.

Bekal perbincangan dari tiga titik masa ini saya anggap menjadi neksus dari kerja seni Fajar Abadi. Dari neksus inilah Fajar kemudian mengkomunikasikan gagasan-gagasan mengenai hal-hal yang seringkali kita remehkan; gagasan tentang senyum dan pertukaran nilai, rasa dari kata, rasa dari mama, resep tak lengkap yang tertanam di setiap diri dan dirasa perlu untuk diungkap bersama-sama. Metode berkarya Fajar juga mengingatkan saya pada Schumacher yang mengatakan bahwa kecil itu indah. Seperti upaya meletakkan masalah besar dalam genggaman tangan, Fajar memilih untuk mengkomunikasikan gagasan dalam bentuk kejadian sehari-hari. Fajar juga selalu bertanya kembali tentang praktik kerja seninya sendiri, memeriksa tingkat keberhasilan pengkomunikasian gagasannya, memeriksa keberadaan kerjanya berkaitan dengan keterjebakan bentuk untuk mencegah adanya distorsi dari gagasan yang ingin disampaikan.

Adhisuryo

 

Catutan

  • Diambil dari film animasi anak The Lorax, adaptasi keempat dari buku anak berjudul sama. Kata-kata Once-ler kepada Ted saat memberikan bibit terakhir pohon Truffula kepada Ted, yang ingin menanam pohon untuk  memenangkan hati Audrey.
  • Kata “Ptah!” saya catut dari Madilog karya Tan Malaka berkaitan dengan bangun hubungan cerita yang seolah dekat dengan logika mistika.
  • Foto Boulevard dapat diintip dari Buku Angkatan Mesin 89 ITB (1992), http://www.flickr.com/photos/mesin89itb/2500866027/in/photostream/
  • Foto Student Centre dapat diintip dari Buku Angkatan Mesin 89 ITB (1992), http://www.flickr.com/photos/mesin89itb/2501695182/in/photostream/
  • Mengenai seni generatif, saya mengacu pada definisi yang diberikan oleh Philip Galanter dalam What is Generative Art? Complexity Theory as a Context for Art Theory, 2003 International Conference on Generative Art.  http://philipgalanter.com/downloads/ga2003_what_is_genart.pdf
  • Pendidikan Kaum Tertindas karya Paolo Freire. Buku ini sempat menjadi salah satu bacaan wajib bagi kami yang dikampus jika tertarik dengan masalah pendidikan.
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Conway’s_Game_of_Life
  • Mengenai kecil itu indah saya memadankan dari Small is Beautiful, karya E.F. Schumacher.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: