Semenjak munculnya wacana seni rupa kontemporer secara global, kini kita hidup pada masa dimana seni dapat hadir dan dikukuhkan pada berbagai aspek kehidupan sehari-hari  dari dan oleh siapapun yang memiliki sensibilitas memadai dalam menangkap serta mengartikulasikan pengalaman estetik yang ia dapat. Pengalaman estetik dapat dipahamkan sebagai pengalaman yang diarahkan atau dibimbing oleh sekelompok atau serangkaian stimuli indraan dari luar[1]. Seniman kerap kali memulai kerja seninya setelah mereka mendapatkan pengalaman estetik tertentu yang mampu mendorong mereka untuk berbuat atau membuat sesuatu untuk mengartikulasikan pengalaman tersebut. Bagi sebagian seniman pengalaman tersebut di dapat dari berbagai peristiwa serta kegiatan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada beberapa yang mendapatkan pengalaman tersebut dari berbagai peristiwa di kehidupan sehari-hari, ada yang mendapatkannya dari buku yang sedang di baca, datang ke sebuah pameran seni, menonton film atau dari aktivitas tertentu. Baik aktivitas yang bersifat spiritual, religius atau bahkan yang menyenangkan sekalipun. Selanjutnya kemampuan mengartikulasikan pengalaman tersebut kedalam sebuah aktivitas atau kerja seni menentukan sejauh mana seniman tersebut berhasil mengolah seluruh pengalaman tersebut menjadi sebuah karya yang berpotensi menawarkan nilai-nilai dalam bentuk pengalaman yang baru untuk dicerap oleh audiens atau apresiatornya. Baik secara disadari ataupun tidak pola tersebut adalah pola yang kita jalani sehari-hari. Seringkali kita mendapatkan perasaan yang sulit kita jelaskan setelah kita membaca buku, menonton film atau memakan makanan yang teramat sangat baik. Perasaan tersebut akan membekas dan akan tetap membekas dalam diri kita, beberapa mulai terdorong untuk mengartikulasikannya dengan berbagai cara. Ada yang menceritakannya, ada yang mencoba membuat sesuatu untuk kembali mengulang perasaan yang sama ada yang dengan mudahnya merekomendasikan buku, film atau makanan tersebut. Akan tetap setiap orang akan mengalami hal yang berbeda, karena masing-masing orang memiliki tingkat kehalusan  yang berbeda dalam mencerap berbagai hal disekeliling mereka. Hal inilah yang dimaksud dengan sensibilitas pada awal tulisan ini. Pemaparan ini dimaksudkan sebagai awalan atau pijakan dalam memahami karya-karya Fajar Abadi pada pameran tunggalnya kali ini dengan tajuk ‘…’. Karena sebagian besar karya yang dihadirkan memiliki metode serta presentasi yang sangat berbeda dengan berbagai kecenderungan karya yang biasa kita hadapi.

Rasa Sebagai Pengalaman Estetika

Fajar Abadi adalah salah seorang seniman dengan sensibilitas yang tinggi dalam menangkap dan mengartikulasikan berbagai pengalaman estetik yang ia alami dalam kehidupannya. Karya-karyanya dengan lugas menangkap permasalahan ‘rasa’ di kehidupan masyarakat perkotaan untuk kemudian ia presentasikan kembali melalui berbagai aktivitas seni buat. Media atau medium bukanlah menjadi hal yang utama dalam karya-karya Fajar, Ia lebih menekankan pada pola interaksi dan penyelarasan antara pemikirannya, aktivitas yang ia buat dan audiens yang hadir. Bagi Fajar keselarasan ketiga hal tersebut menjadi menarik untuk di telaah lebih jauh lagi melalui serangkaian eksperimentasi dan riset kecil yang kerap ia lakukan sebelum membuat karya. Apabila pada umumnya kita mencerna karya dengan menggunakan penglihatan saja, pada pameran ini audiens akan disuguhi karya yang dengan berbagai stimuli lainnya. Pada pameran kali ini Fajar menampilkan empat karya dengan aktivitas yang melibatkan makanan di dalamnya. Makanan menjadi media utama bagi karya Fajar kali ini yang akan menghantarkan kita pada penyelarasan pengalaman personal kita dengan pemikiran atau ide dari Fajar sebagai pembuatnya.

Yang pertama adalah spesial pake keju, menghadirkan kue kastengel di atas meja kayu sebesar 2×2 M. Kue-kue tersebut berbentuk aksara latin, disusun menjadi kalimat-kalimat yang bercerita tentang resep kue kastangel dan beberapa asumsi pribadi seputar menikmati kue dan konteks-konteks yang berkaitan dengan kue kastangel yang berada di atas meja. Pada karya ini audiens dipersilahkan untuk mengambil dan memakan kue yang tersedia.

Yang kedua adalah Rasa dari Kata dimana audiens akan dihadapkan dengan susunan kata yang terbuat dari kerupuk. Pada karya ini audiens dipersilahkan untuk memilih kata dan memilih bubuk penyedap rasa yang disediakan untuk diberikan dan dimakan kepada audiens yang lainnya. Setiap audiens dipersilahkan untuk meracik rasa dari kata yang mereka pilih untuk dinikmati oleh audiens lainnya.

Yang ketiga adalah Mamahkuaing, pada karya ini Fajar menghadirkan figur Ibunya yang akan menyuapi audiens dengan makanan favorit dari Fajar. Pada karya ini audiens dipersilahkan untuk duduk disebelah figur Ibu tersebut dan mencicip makanan favorit dan kehangatan dari kasih Ibu. Seperti yang biasa Fajar dapatkan.

Dan yang terakhir adalah Kueh Senyum, sebuah proyek seni dimana Fajar mencoba untuk menggunakan senyum sebagai sebuah nilai tukar. Pada Kueh Senyum Fajar menjual kue muffin buatannya sendiri yang ditukar dengan seyuman dari setiap orang yang membelinya.

Seluruh karya tersebut memiliki empat pola interaksi; yang pertama adalah mengajak audiens berinteraksi dengan karya dengan cara memakan makanan yang disuguhkan. Kedua, adalah interaksi antara audiens dengan audiens yang lainnya. Pola interaksi ketiga adalah interaksi antara audiens dengan diri atau pengalaman personalnya. Dan pola interaksi yang terakhir adalah pola interaksi antara audiens dengan Fajar sebagai senimannya. Pola-pola interaksi inilah yang membuat karya-karya Fajar serta metode yang ia pilih dalam menyampaikan pemikirannya menjadi menarik. Berbeda dengan kecenderungan karya seni lainnya yang menjaga jarak antara pembuat, karya dan audiens. Karya-karya Fajar justru berusaha untuk melibatkan semua elemen yang hadir sebagai bagian dari karya tersebut. Bagi Fajar hal tersebut merupakan salah satu upayanya untuk selalu mengembangkan karya karena akan selalu hadir pertukaran antara setiap audiens baik dengan audiens lainnya ataupun dengan Fajar sebagai senimannya. Entah dalam bentuk pemikiran, ide, tanggapan atau bahkan pengalaman. Pertukaran tersebut adalah sebuah proses penyelarasan yang memungkinkan Fajar untuk menyingkap tabir ‘rasa’ sebagai pengalaman estetika melalui kerja seninya. Karena pada karya Fajar pengalaman tersebut distimuli melalui seluruh indra yang ada ditubuh manusia. Audiens akan menyentuh tekstur dari setiap makanan, merasakan rasa dari setiap makanan, berinteraksi dengan audiens lainnya, hingga mencoba mengatasi rasa canggung ketika disuapi oleh Ibu Fajar, melawan logika kata yang membentuk rasa, hingga menerima logika membeli kue dengan senyum sebagai nilai tukar. Hingga akhirnya mencoba untuk mengartikulasikan seluruh perasaan yang dialami ketika terlibat dalam seluruh aktivitas yang dihadirkan didalam ruang pamer.

Bersandar pada interaksi dan penyelarasan pengalaman tersebut, penawaran nilai yang Fajar hadirkan pada karya-karyanya pun berangkat pada nilai-nilai halus yang hadir pada interaksi di kehidupan sehari-hari. Ia mengeksplorasi berbagai kemungkinan dari sifat dasar dari interaksi antara manusia dengan manusia lainnya dengan menggunakan makanan sebagai penghantar dari ide dan pemikirannya.

Selamat menikmati.

 

 

Rifandy Priatna


[1] The Arts and Their Interrelations. Munro,Thomas. 1970, 12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: