Growing Pains; Contemporary Art in Indonesia 1990 – 2010

Growing Pains; Contemporary Art in Indonesia 1990 – 2010 [i]

Oleh: Jim Supangkat

 

1993 – 1994 : the controversy

Pada dekade 1990 Jepang dan Australia memunculkan isu seni rupa regional dengan menyelenggarakan pameran-pameran Asia, Asia Tenggara, dan, Asia-Pasifik.  Gejala ini bisa dibaca sebagai dampak globalisasi (muncul sesudah Perang Dingin berakhir pada 1989). Dampak ini adalah lahirnya kasadaran tentang multeity pada globalism (re-picturing the world untuk menggantikan internastionalism yang percaya pada homogeneity). Isu seni rupa regional yang dimunculkan Jepang dan Australia adalah upaya menemukan multeity dengan mengkaji perkembangan seni rupa di Asia.

Gejala itu membuka kesempatan bagi seniman-seniman Indonesia untuk memasuki percaturan seni rupa global. Tanda pentingnya, pameran New Art from Southeast Asia yang  diselenggarakan Japan Foundation pada 1992 dan melibatkan tiga seniman Indonesia. Namun tanda lebih signifikan yang bisa dilihat sebagai batu loncatan adalah Asia Pacific Triennial of Contemporary Art , di Queensland Art Gallery, Brisbane, Australia.  Pada penyelenggaran pertama (1993) sembilan seniman Indonesia mengikuti event ini—jumlahnya membesar pada trienal kedua dan ketiga.

Melalui pameran-pameran di Jepang dan Australia itu lingkaran seni rupa di Indonesia mengenal istilah “contemporary art”  berikut art discourses  yang mendasarinya. Pemahaman ini mendasari pertimbangan Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta, Sri Astari untuk mengangkat tema seni rupa kontemporer pada penyelenggaraan Jakarta Biennale IX . Pameran ini diikuti 40 seniman Indonesia dan diselenggarakan pada Desember 1993 – Maret 1994 di Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kurasi bienal ini bertujuan menampilkan karya-karya yang dilihat bisa menunjukkan tanda-tanda munculnya seni rupa kontemporer di Indonesia.[ii]

Bienal itu ternyata memunculkan kontroversi yang menunjukkan close encounter seni rupa kontemporer dengan artworld di Indonesia. Namun cukup aneh kontroversi tidak berpangkal pada opini masyarakat atau kritik institusi seni rupa, atau para penganut modernisme.  Kontroversi ini dipicu kritik dan bahkan serangan para peserta bienal sendiri yang menunjukkan ignorance. Peserta F.X. Harsono melalui tulisan di media massa menyatakan bienal ini menunjukkan ‘dominasi’. Peserta-peserta  Andar Manik dan Semsar Siahaan menyatakan  sikap ‘anti-postmodernisme’.  Peserta Eddie Hara menuduh adanya konspirasi pada seleksi seniman peserta yang akibatnya bienal tidak memperhitungkan ‘mutu’ karya.[iii]

Melalui diskusi yang ricuh, pandangan-pandangan itu ditangguk media massa yang kemudian menyerang  Biennale IX  selama dua bulan, dari akhir Desember 1993 sampai awal Maret 1994. Tanpa pemahaman jelas tulisan-tulisan ini mengeritik  postmodernisme dan seni rupa kontemporer. Tidak ada indikasi sama sekali serangan ini bertumpu pada modernisme—karena itu tidak muncul polemik.  Dengan nada sama media massa mengeritik postmodernisme dan seni rupa kontemporer sebagai sumber anarkhi yang memperlihatkan pengaruh buruk kebudayaan Barat.

Kontroversi yang menunjukkan ignorance itu membuat Jakarta Biennale IX menjadi kontra-produktif dan tidak bisa dilihat sebagai tanda munculnya seni rupa kontemporer di Indonesia.  Pada dekade 1990 perkembangan seni rupa di Indonesia tidak memperlihatkan perubahan apa-apa.  Sementara itu seni rupa kontemporer yang dipraktekkan sejumlah seniman Indonesia pada lingkaran kecil berkembang “in exile.”

Jepang dan Australia kembali merupakan kunci perkembangan itu. Pada dekade 1990 frekuensi penyelenggaraan pameran-pameran seni rupa regional di kedua negara cukup tinggi. Melalui pameran-pameran ini seniman-seniman Indonesia memsuki pameran-pameran besar dunia, termasuk Venice Biennale, Sao Paolo Biennale, Havana Biennale, dan, Sydney Biennale.

 

2005 -2006 : the emergence and the change

Sejak 2000 hubungan globalisasi dengan global art market dan seni rupa kontemporer menjadi tegas.  Globalisasi memunculkan pemerataan art market di dunia. Pada 2008 art market di China tercatat sebagai art market terbesar ketiga di dunia, setelah art market di Amerika Serikat dan Prancis. Sementara itu penjualan karya seni rupa kontemporer menguat di global art market. Sejak 2003 peningkatan penjualan karya-karya ini naik antara 10 – 30% per tahun, sementara penambahan karya seni rupa modern macet pada 5% per tahun.

Pada saat itu frekuensi penyelenggaraan pameran seni rupa regional menurun di Jepang  dan Australia karena perubahan kedudukan Japan Foundation di Jepang, dan, perubahan haluan politik di Australia—melepas perhatian pada Asia. Kenyataan ini mengurangi kesempatan seniman Indonesia untuk tampil di forum seni rupa global. Karena itu pada 2000, beberapa pengusaha Indonesia yang dikenal juga sebagai kolektor mendirikan CP Foundation untuk membuka kembali kesempatan yang berkurang ini.

Pada 2003 CP Foundation menyelenggarakan CP Biennale berskala global di National Gallery, Jakarta. Dengan tema “Interpelation”,  biennale ini mencoba mengetengahkan perkembangan seni rupa kontemporer yang berbeda.[iv]

CP Biennale kedua diselenggarakan pada 2005, di bangunan colonial heritage  (didirikan pada 1828) milik, Bank Indonesia (central bank of Indonesia).[v] Bienal dengan tema “Urban/ Culture”  ini diikuti 70 peserta dari Indonesia, Asia,  Eropa dan Amerika Serikat. Sebagian peserta adalah kelompok seniman, arsitek atau designers karena bienal ini mengutamakan project art  yang dikerjakan kolaboratif.[vi]

CP Biennale II itu kembali menghadapi kericuhan yang bertubi-tubi dari awal sampai akhir penyelenggaraannya.  Pangkalnya adalah karya kolaboratif Agus Suwage dan Davy Linggar, Pinkswing Park  (2005) yang menampilkan foto telanjang celebrities, khususnya bintang film terkenal Anjasmara.  Foto berskala 1:1 ini bukan ekspose ketelanjangan karena alat vital pada foto-foto ini diblok lingkaran putih.  Namun karya ini dieksploitasi paparasi, (majalah dan televisi). Blok putih pada foto-foto ini dimanipulasi untuk membangkitkan kesan bahwa para celebrities difoto dalam keadaan telanjang bulat.

Terjadi kehebohan. Organisasi massa Islam melontarkan protes karena bintang film terkenal Anjasmara adalah pemeran utama film Dakwah Islam yang ditayangkan di televisi setiap bulan suci Ramadhan.  Ketika organisasi massa Islam mendatangi bienal, Bank Indonesia mengambil inisiatif menutup Pinkswing Park untuk mencegah pengrusakan gedung heritage dan karya-karya pada pameran.  Tindakan ini memicu konflik internal, sejumlah seniman peserta dari Indonesia lagi-lagi menyerang penyelenggara. Terakhir, penyelenggara harus menghadapi pemeriksaan polisi dengan tuduhan penyebaran pornografi. Kasus ini tidak bisa diajukan ke pengadilan karena pada proses pemeriksaan tidak bisa ditemukan pelanggaran hukum. Menghadapi kemelut ini CP Foundation menyatakan tidak akan melanjutkan CP Biennale.

Segera setelah CP Biennale II seni rupa kontemporer tiba-tiba muncul di dunia seni rupa di Indonesia pada 2006. Namun gejalanya seperti gejala di global art market.  Seniman-seniman yang namanya terangkat kericuhan CP Biennale II dipromosikan pasar.  Profil mereka muncul di majalah-majalah life style seperti profil para celebrities. Harga karya-karya mereka naik dengan cepat sampai ke angka-angka fantastis.

Seni rupa kontemporer kemudian menjadi arus utama (main stream) yang ramai. Kegiatan dan harga karya-karyanya yang tinggi menarik perhatian masyarakat—sebelumnya seni rupa tidak pernah mendapat perhatian seperti ini. Pelaku pasar memasuki berbagai art fair di Hongkong, Singapura, Korea bahkan di Eropa dan Amerika Serikat. Terjadi persaingan ketat memperebutkan karya seniman-seniman “blue chips”. Terjadi juga beberapa kali boom karya seni rupa kontemporer yang  diikuti upaya menaikkan harga melalui politik bisnis, antara lain dengan manipulasi yang dikenal sebagai cornering di bursa saham.

Pada akhir 2008 terjadi krisis ekonomi global. Penjualan di art market di seluruh dunia  turun rata-rata 40% (di China penurunan mencapai 90%) dengan kerugian total US $ 15 milyar.  Dampak krisis ini terasa juga di art market di Indonesia. Di tengah krisis ini, mekanisme art market di Indonesia dipersoalkan senada dengan pembongkaran praktek  private sales,  fix commisions, dan, financial speculation di global art market sesudah terjadinya krisis. Di Indonesia terungkap tidak ada batas jelas di antara primary market dengan secondary market; Kegiatan art  gallery, art dealer, auction halls , art fairs bahkan kolektor— yang melakukan jual-beli, memperlihatkan gejala tumpang tindih.

Dampaknya, pada 2009-2010 art market di Indonesia menunjukkan gejala stagnasi yang segera berdampak pada menurunnya kegiatan seni rupa kontemporer.  Koreksi harga-harga menunjukkan ketidak-percayaan pada nilai-nilai nominal karya-karya seni rupa kontemporer yang dasarnya adalah kesangsian apakah ada nilai-nilai pada karya-karya ini.

Seni rupa kontemporer di Indonesia membawa tanda-tanda induknya yaitu seni rupa kontemporer di  forum dunia. Pada dekade 1990 dihela bienal-bienal internasional, pada 2000-2010 dikendalikan art market. Pembacaan tanda-tanda ini sekarang memunculkan pertanyaan: “what’s next ?” Gejala Global art yang tidak bisa disangkal denoted  (tergambar atau dikenali tanda-tandanya)  di global art market pada 2000, sekarang  memunculkan pertanyaan, what is the issue behind global art ? Pertanyaan ini mencerminkan munculnya tanda-tanda predication of  global art (upaya mengidentifikasi atau pewacanaan) yang gejalanya sudah muncul sejak 2005 melalui pemikiran Hans Belting, James Elkins dan Terry Smith. Salah satu aspek pada predikasi global art ini sudah dikaji Jepang dan Australia pada dekade 1990 yaitu multeity.

 

Catatan


[i] Tulisan ini versi Bahasa Indonesia artikel dengan judul sama yang akan dimuat pada edisi majalah Artlink, Australia yang masih disiapkan. Merupakan bagian dari special report dengan tema, ‘Perkembangan seni rupa kontemporer di Asia dalam 20 tahun terakhir.’   

[ii] Saya salah seorang kurator dari tujuh orang kurator yang ditunjuk Dewan Kesenian Jakarta, di antaranya G. Sidharta, Mara Karma. Toeti Herati dah Goenawan Mohamad.

[iii] Dalam editing tulisan ini terjadi korespondensi karena para editor tidak bisa memahami apa maksud pandangan-pandangan ini, khususnya apa maksudnya ‘dominasi’; bagaimana mungkin pandangan-pandangan ini muncul pada pameran pertama seni rupa kontemporer yang justru harus menghadapi tekanan dan mengapa pandangan ini dikemukakan justru oleh para pesertanya sendiri; tanpa penjelasan ‘ignorance’ pandangan-pandangan ini doesn’t  make sense bagi para editor.

[iv] The New York Times, Maret 2003 menurunkan tulisan tentang CP Biennale I, 2003  ini di bawah judul, “A Biennale That Puts Indonesia on The Map”.

[v] Saya kurator bienal ini bersama Asmudjo Irianto dan Rizky Zaelani.

[vi] Dalam buku The Global Contemporary and the Rise of New Art Worlds Peter Weibel et.all (eds). MIT Press. Cambridge. UK. 2013; CP Biennale 2003 -2005 masuk dalam daftar 149 bienale di seluruh dunia yang dinilai mencerminkan perkembangan seni rupa kontemporer dalam scope global.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: