Extranoema

EXTRANOEMA
Wahana, Performans
Dimensi Bervariasi
2012

 

“You want to make him interested in you? Then pretend to be embarrassed in his presence”
Friedrich Nietzsche

“To pretend, I actually do the thing: I have therefore only pretended to pretend.”
Jacques Derrida

 

Manusia seperti yang kita kenal adalah makhluk yang senang sekali mempermudah segalanya. Namun dalam usaha menyederhanakan segala sesuatu, manusia menambah tingkat kerumitan dan mempersulit segalanya. Penyederhanaan memungkinkan manusia bertahan hidup untuk menghadapi lingkungan di sekitarnya sekaligus memperumit pola kehidupan antar sesama manusia. Manusia akhirnya secara otomatis menyimpan banyak informasi melalui skemata untuk mempermudah pertukaran informasi diantara sesama manusia. Sebagai contoh manusia menggunakan skema tentang wajah yang terdiri dari alis, mata, hidung, dan mulut. Dengan skema semacam ini manusia dapat bertukar informasi tentang wajah seseorang dengan memberikan informasi detail berkaitan dengan karakter alis, mata, hidung, dan mulut seseorang. Bahkan bagi seorang ahli yang dapat membaca ekspresi mikro, kejujuran seseorang dapat dinilai hanya dari gerakan kecil di wajah. Selain menambah kosakata dalam kepala, skemata sebagai abstraksi dari kumpulan informasi atau pengetahuan juga mempermudah komunikasi diantara manusia.

Membaca skemata performans sejak masa kelahirannya, setidaknya kita bisa melihat bahwa performans memiliki skemata yang populer di setiap zamannya, semangat zaman, fashion, atau trend tersendiri. Setidaknya kita bisa mencurigai bahwa trend ini dibangun atau diujikan sebelum akhirnya menjadi kecenderungan dalam praktik performans di masa tersebut. Selain pembacaan skemata performans dalam bentukan arus utamanya, kita juga bisa melihat aspek-aspek yang lebih universal dalam skemata performans. Kita bisa melihat bahwa performans seringkali digunakan oleh seniman-seniman muda justru untuk menguji arus utama dalam seni rupa di masanya. Setelah berhasil menjadi sebuah gerakan yang cukup dikenal para seniman ini akhirnya juga menggunakan medium ekspresi konvensional seperti lukis dan patung untuk menyebarkan ide yang tadinya mereka injeksikan melalui praktik performans. Di sinilah akhirnya kekuatan performans dalam praktik seni rupa selama ini terlihat. Performans seringkali menjadi pemicu gerakan-gerakan yang menarik dalam sejarah seni rupa selama ini.

Pameran ini dimulai dari ide sederhana. Sesederhana bersikap seolah-olah menjadi seniman yang kritikal melihat praktik berkesenian dalam medan seni rupa di mana dia berada. Sesederhana berpura-pura menjadi seniman yang teliti dalam membaca sejarah dan mencari celah-celah strategi berkesenian yang lebih menarik dan menyegarkan. Sesederhana menanyakan sebuah skemata performance kepada para seniman yang terlibat untuk sekedar membaca gejala-gejala atau karakteristik yang menarik untuk diperhatikan dari pembacaan terhadap performans dalam praktek berkesenian yang mereka lakukan baik secara sadar maupun tidak sadar. Sesederhana kesok-tahuan setiap orang yang dalam menjawab sebuah pertanyaan yang tiba-tiba dihadapkan di depan matanya. Sesederhana setitik kesombongan yang terbangun dari perasaan berpura-pura menemukan sebuah ide brilian dan berlari kegirangan meneriakkan “eureka!”. Sesederhana membalut perilaku kekanak-kanakan dengan bahasa wacana yang sulit dan membingungkan dalam tajuk extranoema. Sesederhana kejujuran untuk berpura-pura.

Evolusi dalam Skemata Performans
Performans hingga saat ini masih bertahan dalam praktik seni rupa dan bahkan dapat dikatakan sebagai sebuah pilihan berkesenian yang sensasional. Bertahannya performans sebagai medium ekspresi dalam seni rupa menyiratkan adanya kemungkinan-kemungkinan evolusi yang telah terjadi di dalam skemata performans selama ini. Perubahan tersebut terlihat melalui gejala, trend, dan strategi dalam performans. Dengan memandang performans sebagai skemata dan dengan menganalogikan setiap unit pendukungnya sebagai kode genetik yang membawa sifat dasar kita dapat melihat hal-hal yang memungkinkan performans akhirnya dapat bertahan dalam perkembangan seni rupa.

Di masa awal inisialisasi, performans bisa saja muncul tanpa dikenali sebagai sebuah medium ekspresi yang disepakati sebagai performans. Namun performans terus tumbuh dan bereproduksi menurunkan sifat-sifatnya walaupun belum disebut sebagai performans. Ketika proses seleksi pada populasi medium ekspresi seni mulai menerima bentukan performans, bentukan performans optimum berada sangat dekat dengan seni konseptual yang mengutamakan ide atas medium atau artefak. Pada masa seni konseptual inilah performans menemukan kecocokan yang memungkinkan dirinya bertambah dengan jumlah yang signifikan dan mulai menjadi medium ekspresi yang penting dalam perkembangan seni rupa dunia. Performans seringkali merupakan sebuah bentuk demonstrasi atau sebuah eksekusi dari ide. Artinya dalam masa menjamurnya seni konseptual, dimana penekanan akan seni sebagai ide lebih kuat daripada produknya, performance dianggap jadi bentuk seni yang paling nyata. Sejak awal performans mempunyai kecenderungan untuk menantang dan menolak presisi dan definisi yang mudah atas dirinya sendiri. Karena definisi yang ketat akan segera membelenggu dan menegasi kemungkinan-kemungkinan dalam performans. Manifesto macam inilah yang memungkinkan seorang seniman performans untuk menggunakan definisinya sendiri dalam proses dan eksekusi karyanya

Jika memperhatikan sifat alami dunia seni rupa yang relatif terbuka terhadap perubahan, kemungkinan terjadinya mutasi dan rekombinasi dalam skemata performans sangatlah besar. Mutasi dalam skemata performans dan rekombinasi antara performans dengan skemata disiplin seni yang lain telah memperkaya bentukan dan wacana performans selama ini. Keragaman bentuk performans juga dimungkinkan dari fenomena regrouping dan migrasi dari skemata-skemata minor yang berkaitan dengan performans. Sejatinya hampir semua disiplin dapat dikatakan memiliki kode genetik performans. Walaupun mungkin masih bisa diperdebatkan, kita bisa melihat bahwa kode genetik performans banyak terselip dalam bentukan karya-karya intermedia atau media baru, yang saat ini sedang menjadi hip.

Di Indonesia performans memang seringkali dianggap berhubungan dengan tubuh sebagai medium ekspresinya. Bahkan dalam beberapa diskusi perdebatan sengit bisa terjadi ketika muncul pertanyaan mana yang performans mana yang bukan. Artinya entah disengaja atau tidak performans memang identik dengan penggunaan tubuh manusia secara langsung. Trend skemata performans melalui penggunaan tubuh bisa dikatakan mendominasi sebaran wacana performans di Indonesia.

Dengan berkembangnya media baru sebagai disiplin baru dalam seni rupa, performans perlu untuk kembali melihat dirinya sendiri. Dengan mencoba mengambil jarak terhadap dirinya sendiri, performans dapat mencoba membaca kode-kode genetik performans dalam disiplin baru ini dan melakukan otokritik terhadap dirinya untuk membuat performans menjadi lebih luas dalam spektrum wacanannya. Dengan pembacaan semacam ini bukan pencapaian puncak evolusi skemata performans yang akan dicari, melainkan salah satu ujung dari hasil optimum evolusi yang mungkin untuk setiap masanya.

Pameran Sebagai Sebuah Performans
Berkaitan dengan penjelasan tadi, tajuk Extranoema mencoba menghadirkan gejala-gejala yang diduga merupakan hasil evolusi dari skemata performans yang berhasil bertahan hidup melalui karya para seniman sebagai gambaran evolusi yang mungkin telah terjadi baik disadari atau tidak. Pameran ini menghadirkan sepuluh seniman [Adhisuryo, Anna Josefin, Aulia Ibrahim Yeru, Dwihandono Ahmad, Fajar Abadi R.D.P., Fransisca Retno, Ivan Reyhan, M. Akbar, S.A. Garibaldi , dan Vincent Rumahloine] yang berkolaborasi untuk membuat pameran dimana pameran itu sendiri adalah sebuah karya seni performans. Sederhananya adalah pameran ini akan berupa sebuah wahana dimana audiens dapat berinteraksi total dengan karya dan ruangan pameran itu sendiri selama pameran berlangsung. Untuk memperkuat pembacaan pameran ini sebagai sebuah performans, seniman-seniman ini merelakan untuk melepaskan nama mereka setidaknya dari caption. Sehingga audiens tidak diganggu oleh judul dan nama seniman dalam mengapresiasi karya dalam pameran ini. Kerelaan melepas ikatan antara seniman dan karyanya ini juga menjadi area yang menarik. Karena kuat tidaknya karya seorang seniman benar-benar diuji lepas dari atribut seniman yang membuatnya.

Pola menggunakan pameran sebagai sebuah performans dan menampilkan evolusi skemata performans, yang jarang ditampilkan atau dibahas dalam diskursus, membuka kemungkinan-kemungkinan pembacaan yang menarik terhadap performans. Pun juga alternatif pola pelaksanaan festival performans yang bisa lebih kuat dalam pernyataan dirinya sebagai festival performans. Pola pelaksanaan festival performans yang berupaya menampilkan spektrum performans yang sebenarnya cukup lebar dan beragam dalam satu kegiatan besar. Disamping itu model ini cukup menarik dengan menjadi neksus antara berbagai disiplin seni rupa seperti lukis, patung, seni grafis dan media baru. Dengan menjadi neksus antara berbagai disiplin ini, posisi performans sebagai medium ekspresi yang kritikal dalam seni rupa akan terus berkembang. Performans dapat menjadi ruang dialog yang menarik yang mampu merambah seluruh medium ekspresi yang ada dalam seni rupa.

 
adhisuryo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: