Kompromi S. A. Garibaldi dalam Regnum Fungi

Kompromi S. A. Garibaldi dalam Regnum Fungi

Menyaksikan pameran Regnum Fungi oleh S.A. Garibaldi ini membuat kita berhadapan dengan suatu bentuk kerja sama seni rupa dan studi mengenai jamur, ilmiah sekaligus imajinatif. Regnum Fungi dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai dunia jamur. Kolaborasi seni rupa dengan bidang lain bukanlah suatu hal yang asing lagi, sudah cukup populer dan malah terus dicari geliatnya oleh para seniman. Penggunaan media non-konvensional memiliki batasan yang berbeda dengan media-media lainnya yang sudah dikenal akrab seperti cat minyak di atas kanvas. Media non-konvensional membuka kemungkinan untuk menuai pemikiran baru dan intepretasi yang beragam dalam mengapresiasinya.

Dalam karya-karya yang dipamerkan ini dapat dilihat interaksi seni dengan bidang keilmuan lain berlandaskan riset dan ilmu pengetahuan. Garibaldi yang awalnya berangkat sebagai seniman grafis, mencoba menjelajahi media baru dalam berkarya yakni menggunakan jamur sebagai media utama. Pilihan media ini menarik untuk disimak karena pengolahan media tersebut bersifat sangat teknis. Ia nampaknya cukup merayakan kepentingan teknis dalam karya, suatu sikap yang cukup dihindari seniman karena membuat pembacaan karya menjadi terkukung.

Di Padi Artground atau lebih dikenal dengan Galeri Padi yang terletak di Jalan Ir. H. Juanda nomor 329, Bandung, kita diundang untuk masuk dalam imajinasi eksplorasi kekaryaan Garibaldi yang melibatkan jamur sebagai media utamanya, diekspos melalui sejumlah karya yang disusun cukup menarik mata.

Tepat ketika memasuki ruang galeri audiens dihadapkan pada sebuah dinding yang dipenuhi bercak dan noktah kehitaman, membuat bergidik sekaligus penasaran untuk menatapanya secara intens. Intensitas yang tercapai dari permainan gradasi warna dan bentuk yang  membentuk suatu konstelasi yang imajinatif. Di bawah tembok tersebut terdapat sebuah kotak berlampu dengan bercak jamur berwarna-warni yang kontras dengan dinding di atasnya. Kotak lampu tersebut memperlihatkan penampangan miselium, yaitu sekumpulan benang jamur yang membentuk sebagian besar tumbuhan jamur. Miselium tersebut ditumbuhkan Garibaldi secara berwarna-warni sehingga menjadi begitu atraktif dan cantik, jauh dari kesan jamur yang muncul pada roti atau makanan yang telah basi. Nuansa kontras tersebut dibangun oleh bercak dan noktah pada dinding atas yang sayangnya disapukan dengan cat air, alih-alih oleh pertumbuhan miselium juga.

Di dinding sebelahnya terdapat sebuah gambar serat miselium yang hampir memenuhi keseluruhan dinding, berwarna putih di atas latar berwarna coklat. Sekali lagi membuat kita berhenti untuk menatapnya secara intens juga terjerat oleh serta-serat halus yang ditorehkan Garibaldi. Bila melihat karya sebelumnya, yang bisa dikatakan playful dan memiliki kekontrasan yang seimbang; citraan miselium yang besar ini rupanya dihadirkan seniman dengan visual tarikan garis tipis seperti dari kapur. Visual tersebut menunjukkan bahwa, bahkan organisme kecil pun memiliki kekompleksan yang luar biasa, ruwet, tumpang tindih, namun memiliki keteraturan yang tersirat di dalamnya. Di sebelahnya Garibaldi menyandingkan citraan besar tersebut dengan gambar-gambar kecil eksplorasi miselium yang dibingkai dengan apik. Keterpukauan saat melihat citraan besar sebelumnya itu seolah terhenti dan terangkum ketika melihat citraan tersebut dikembalikan lagi ke ukurannya yang kecil.

Simaklah instalasi karya yang berikutnya. Jamur yang media tanamnya dalam kantong plastik dan disusun membentuk semacam dinding lengkung bernuansa warna putih dan gading. Suatu susunan kokoh dan berkarakter yang dibangun dari organisme renik. Jamur-jamur pembentuk dinding ini masih reaktif dan mengeluarkan serbuk atau asap spora. Serbuk dan asap itu seolah mengisyaratkan peringatan namun persuasif dan mengundang audiens untuk menelusur dinding-dindingnya yang kian berkembang.

Di sisinya terdapat sebuah video mengenai pertumbuhan jamur selama 3 hari. Citraan yang ditampilkan seperti ketika melihat jamur melalui mikroskop elektron. Berbeda dengan karya-karya lainnya yang menampilkan interaksi yang hangat antara seniman dan media jamur yang digunakan, video ini justru menyajikannya secara dingin dan seakan berjarak. Warna-warna invert khas mikroskop elektron ini memperlihatkan jamur sebagai subjek tersendiri yang mandiri tanpa kehadiran Garibaldi.

Di ruangan belakang rupanya Garibaldi masih menyimpan eksperimennya yang lain; sebuah bonggol pohon yang ditumbuhi jamur secara natural. Jamur payung berwarna putih yang biasa kita lihat di bawah batang pohon besar di alam bebas itu terpajang di dalam ruangan. Sayangnya ruang tempat display bonggol pohon itu tidak begitu leluasa.Kearifan dari jamur yang tumbuh di bonggol pohon yang cukup besar itu seakan dimampatkan.

Masih menyimpan kejutan lainnya, Garibaldi menempatkan sebuah instalasi di loteng galeri, bisa direspon secara baik ia memanfaatkan benar ruang dan interaksi audiens dengan karyanya. Melalui lampu ultra violet, jamur yang berbentuk lembaran tersebut berpendar, ia gantungkan di langit-langit loteng. Tidak berlebihan dan sederhana, jamur berpendar tersebut mungkin menambah semacam suasana magis di ruang loteng yang biasanya enggan untuk didatangi karena gelap dan sesak oleh barang-barang.

Pilihan Sikap dalam Berkesenian

Lantas apa yang ingin disampaikan Garibaldi melalui kolaborasinya dengan jamur kali ini? Pertanyaan reflektif ini rasanya cukup terjawab pada sebagain besar karya. Dengan ketiadaan judul atau deskripsi mengenai media, audiens diajak untuk turut serta dalam dunia imajiner yang ia bangun. Petunjuk dari judul yang biasanya diandalkan untuk membaca suatu karya tidaklah diperlukan tampaknya di dunia imajiner Garibaldi ini. Bentuk, warna dan kekontrasan pada setiap karya rasanya cukup untuk mengapresiasi.

Pendekatan secara ilmiah yang dilakukan Garibaldi ini merupakan rekaman aksi yang ia geluti sebelum belajar seni rupa dan menjadi seniman. Mengamati atau menggambar ulang objek jamur yang ia teliti merupakan kebiasaan yang kini mempengaruhinya dalam berkarya. Kedekatan sikap dan praktik terhadap jamur tersebut menjadikan ke-aku-annya sebagai kreator berkompromi dengan media yang berupa makhluk hidup, bukan found objects semata. Tampaknya Garibaldi sadar benar dengan media yang ia pilih ini, selain membutuhkan perlakuan khusus seperti pencahayaan dan suhu ruang yang bersifat teknis, komprominya mengenai gagasan dan pilihan visual-lah metafora sebenarnya.

Pada beberapa karya misalnya, ia bisa dengan sangat mudah mengatur pertumbuhan atau menghentikan pertumbuhan jamur; pada karya lainnya, ia biarkan bentuk organis organisme tersebut berkembang menjadi suatu citraan baru. Sementara itu pada karya lainnya, abstraksi dan stilasi ia lakukan untuk menunjukkan identitasnya sebagai kreator yang imajinatif.

Gestur artistik Garibaldi akan imajinasinya dijembatani melalui kedekatan dan kompromi akan kebutuhan referensi dan riset ilmiah. Imajinasi yang sifatnya abstrak sekalipun dapat diberi makna baru melalui langkah-langkah ilmiah ketika seniman merasa metafora dan permainan tanda tidaklah representatif lagi.

Peran Galeri sebagai distributor seni pun menjadi semakin kaya melalui pameran ini. Masih sedikit galeri-galeri yang mengakomodasi seniman untuk bereksperimen dalam produksi seni sehingga galeri tidaklah sebagai kubu yang memihak pasar melulu, namun sebagai ruang alternatif dan ruang temu tempat berkesperimen dan berkolaborasi. Jumlah pengunjung pameran yang banyak pada saat pembukaan pameran menunjukkan bahwa, pameran eksperimentatif ini memiliki daya tarik dan animo yang cukup tinggi. Lagi pula, unsur eksperimen, kebaruan dan eksplorasi merupakan hal yang sama-sama dicari dan diolah baik dalam bidang seni rupa maupun kelimuan yang eksak, bukan?

Maria Josephina

sumber:

http://www.indonesiaartnews.or.id/artikeldetil.php?id=175

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: