Oleh-oleh dari Bawah Mikroskop

Oleh-oleh dari Bawah Mikroskop”

Sekedar pengantar pameran Tepu

  

Oleh-oleh dari bawah mikroskop…

Saya tidak selalu melihat karya-karya Syaiful Aulia Garibaldi (yang selanjutnya di tulisan ini saya sebut ia dengan ‘Tepu’) yang sudah dipamerkan. Tapi ada satu karakter di karya-karya Tepu yang bisa saya ingat, seringkali ia menampilkan dalam karyanya kumpulan bentuk-bentuk kecil yang berjejer ataupun berderet. Kalau dicermati, bentuk-bentuk itu tidak juga bisa jelas disebut sebagai binatang, tumbuhan, maonster atau apa…

Dari satu obrolan dengan Tepu, saya tahu kalau ternyata bentuk-bentuk itu bukan lahir tiba-tiba dengan begitu saja, ternyata ia punya asal-usul yang bisa disusur. Sebelum studi di Seni Rupa, Tepu lebih dulu menjalani studi di Jurusan Pertanian, begitu kata Tepu. Studi di jurusan pertamanya inilah yang membuat Tepu akrab dengan mikroskop, untuk mengamati makhluk-makhluk berukuran kecil (mikro). Sembari mengamati di mikroskop inilah, ia seringkali menggambar bentuk-bentuk yang ia lihat di bawah mikroskop, sambil juga (dengan keasyikkan) menambah-nambahkan gambar, sehingga sering muncul bentuk-bentuk yang justru berbeda dengan yang ia lihat di mikroskop. Saat pindah studi ke Seni Rupa, keadaannya terbalik, menggambar justru menjadi kerjanya yang utama. Meski begitu, ketertarikan berakrab dengan mikroskop dan melihat bentuk-bentuk tak terbayang dari makhluk-makhluk mikro tidak lantas hilang. Ketertarikan ini justru yang jadi sumber utama kekaryaan Tepu.

Maka, kita bisa melihat, bahwa bentuk-bentuk yang ada dalam karya-karya Tepu, adalah hasil peng-gaya-an (mungkin juga abstraksi dan distorsi) dari bentuk-bentuk yang sudah ada dalam keseharian. Di sinilah imajinasi Tepu punya perannya.

Seni (yang) “membesarkan hati”…..

Ada yang menarik pada proses berkarya Tepu (terutama pada pameran tunggalnya ini). Sebagai seniman, misalnya, di mana ia bisa bekerja dengan nyaman di studio, dengan kemudahan memperolah berbagai referensi visual dari dunia maya, Tepu masih rela menyempatkan banyak waktu tuk keluar studio, dan mencari objek-objek untuk karyanya. Konon, lewat ceritanya, ia menyempatkan diri keluar masuk Hutan Raya Juanda, untuk mencari berbagai macam jamur juga berlama-lama di jalan untuk mengamati dan mencermati makhluk hidup apa saja yang ada di jalanan. Selama berberapa bulan, ia juga harus bolak-balik memeriksa ‘kubung’ (tempat menumbuhkan jamur).

Tepu juga tidak bekerja sendiri. Sebagai konsekuensi atas pilihan “tema” pameran dan ketertarikannya sebagai seniman, ia bekerjasama dengan orang-orang yang ahli dalam bidang Biologi (mahasiswa dan dosen). Dari kerjasamanya ini, Tepu mencari tau tentang berbagai hal dari makhluk-makhluk yang “terlibat” dalam karyanya, seperti: nama-nama jamur, bagian-bagian tubuhnya,  bagaimana proses jamur tumbuh, cara menumbuhkannya, karakter hidupnya, sifatnya dan sebagainya. Di laboratorium ini pula, Tepu bisa dengan leluasa mengamati makhluk hidup yang akan ia libatkan dalam karyanya melalui mikroskop.

Selain itu, di beberapa karyanya dalam pameran ini, Tepu tidak benar-benar sepenuhnya punya “kuasa”. Tepu tentu bisa menentukan bagaimana visual karya yang akan ditampilkan, medium apa yang digunakan, dan bagaimana karyanya selesai, tapi tidak dengan bagaimana misalnya, jamur akan tumbuh, seperti apa nanti ia akan tumbuh, atau bahkan berhasilkah ia tumbuh, dan lain-lain. Dalam hal ini, Tepu juga kita –saya dan anda- boleh percaya alam punya hukum dan caranya sendiri.

Dari proses berkarya di atas saya membayang, bagaimana Tepu –sebagai seniman- harus “berbesar hati”, misalnya untuk tidak selalu berproses dengan nyaman di dalam studio, tapi justru menyuruk ke luar, mencari dan menemukan banyak hal dari lingkungan sekitarnya. Selain itu, sebagai konsekuensi, ia juga sedikit banyak harus mempelajari Biologi, berdialog dengan orang-orang yang ahli di bidangnya dan menyempatkan waktu untuk berproses di laboratorium. Yang terakhir, menarik, karena Tepu juga harus rela berbagi “kuasa” atas karyanya dengan makhluk hidup yang dilibatkannya dalam karya. Saya membayangkan, mungkin ada “kepasrahan” pada Tepu ketika menunggu bagaimana hasil akhir yang dihasilkan makhluk-makhluk hidup tersebut di atas karya. Tentu ada berbagai macam kemungkinan yang bisa terjadi dan bahkan tidak terduga pada proses ini.

Karya kolaborasi Tepu…

Karya-karya Tepu dalam pameran tunggalnya kali ini, dibuat dengan berbagai macam teknik dan medium. Diantaranya, etsa, drawing juga lukis di atas dinding (mural). Pada beberapa karya kita akan melihat visual yang merupakan perbesaran dari apa yang sebenarnya dilihat Tepu di bawah mikroskop. Maka karya-karya ini mempunyai potensi menambah pengetahuan kita tentang makhluk-makhluk hidup berukuran kecil di sekitar kita, apa mereka, bagaimana mereka tumbuh dan lain-lain. Selain itu, karya-karya ini juga berpotensi menambah pengalaman cerapan visual kita terhadap bentuk-bentuk yang selama ini hadir tak kasat mata di sekitar kita.

Dari bermacam karya yang dipamerkannya, yang menarik ada karya Tepu yang melibatkan kehadiran makhluk hidup lain. Karya macam ini, melibatkan bermacam “kolaborasi”. Kita bisa melihat kolaborasi Tepu dengan makhluk hidup yang ditumbuhkannya juga dengan para mahasiswa dan dosen Biologi. Kolaborasi lainnya adalah antar beberapa disiplin ilmu, di sini antara seni rupa dan biologi (juga kimia?). Dalam proses penciptaannya, Tepu juga menggunakan berbagai macam medium, termasuk di dalamnya bahan-bahan kimia. Boleh jadi, ini memperlihatkan apa yang belakangan sering saya dengar sebagai karya seni intermedia dan karya ini memperluas pandangan saya (mungkin juga anda), bahwa karya macam ini bisa tampil dengan “penampakan yang sederhana” juga dengan segala proses alamiah di dalamnya, ia dapat menawarkan pengalaman yang menarik.

Terakhir, ada yang terlintas di pikiran saya, saat melihat sebuah karya Tepu. Di karya itu Tepu membuat sebuah pola bentuk, lalu menumbuhkan semacam tumbuhan yang akan tumbuh merambat mengikuti pola tersebut. Setelah tumbuh, Tepu melapisinya dengan sebuah cairan bening agar garis-garis rambatan tumbuhan yang tampak terawetkan. Apakah tumbuhan itu tetap tumbuh di bawah lapisan tersebut…? Atau ketika cairan diangkat tumbuhan itu masih dapat tumbuh…? Ataukah ia segera mati ketika dilapisi cairan…? Pertanyaan-pertanyaan itu, mengarahkan saya pada sebuah paradoks yang bisa jadi ada dalam karya Tepu.

Begitu saja, hasil dari saya melihat- lihat karya dan mengobrol dengan Tepu. Akhir kata, selamat untuk Tepu dan selamat datang di pameran tunggal Syaiful Aulia Garibaldi…

-danoeh-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: