Menjadi Mahasiswa Seni Rupa; Sebuah Ironi

Seni rupa Bandung dalam dua tahun terakhir ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal tersebut terlihat dari maraknya pameran yang di adakan di kota ini. Perkembangan tersebut juga tidak lepas dari berbagai macam elemen pendukung yang hadir menjadi infrastruktur dari sebuah medan sosial seni. Diantaranya adalah, institusi  akademi seni rupa, galeri, kritikus seni rupa, kurator dan kolektor. Masing – masing dari elemen yang disebutkan tadi berfungsi sesuai dengan porsinya masing – masing. Institusi akademi, mencetak calon seniman dengan keberagaman karyanya, hingga akhirnya masuk ke dalam galeri yang dikemas dalam sebuah pameran dengan keterlibatan kurator di dalamnya. Setelah itu giliran publik yang mengapresiasi. Publik di sini berarti masyarakat umum yang di dalamnya terdapat wartawan, kritikus, kolektor dan pengamat. Wartawan, kritikus dan pengamat menjalankan fungsinya melalui media informasi, sedangkan kolektor menyerap karya dengan membeli dan mengkoleksi sebuah karya dari seorang seniman dalam sebuah pameran. Ilustrasi di atas menggambarkan alur dari proses transaksi ekonomi dalam dunia seni. Seniman, galeri, kurator, kritikus, media, dan kolektor akhirnya membentuk mekanisme dari sebuah pasar dalam dunia seni. Semua saling berhubungan dan saling menguntungkan.

Pasar menjadi sebuah kata yang menyegarkan dalam perkembangan seni rupa di Indonesia secara umum dan Bandung pada khususnya. Pada dua tahun terakhir ini pasar kembali menggeliat dan mulai melirik karya dari seniman – seniman muda asal Bandung. Terlihat dari banyaknya seniman muda asal Bandung yang karyanya mulai banyak dicari dan dikoleksi oleh para kolektor.  Belum dari sisi harga, sebuah karya dari seorang seniman muda Bandung yang terjual akhir – akhir ini mencapai angka yang tidak mungkin dicapai empat atau tiga tahun yang lalu. Ini adalah sebuah kemajuan yang positif dan juga fenomenal tentunya, ketika karya seni dapat bersinergis dengan pasar.

Sebagus apapun kondisi pasar saat ini tidak akan bertahan lama apabila tidak disertai dengan penyebaran informasi dan pengembangan pengetahuan akan mekanisme pasar bagi calon pengelola galeri, seniman, kurator, kritik, pengamat dn kolektor. Dan sejauh mana Institusi akademi seni rupa yang ada dapat berperan dengan memberikan pengetahuan atau informasi bagi mahasiswanya. Hal tersebut menjadi sebuah titik yang sangat penting karena bagaimanapun juga mahasiswa seni rupa dan khususnya mahasiswa seni murni adalah calon dari roda penggerak infrastruktur seni yang ada.  Sejauh mana mereka mengetahui proses dari mekanisme pasar yang ada saat ini ?, bagaimana metode penentuan harga sebuah karya ?, bagaimana peran dari seniman, galeri, kurator dan hubungannya dengan kolektor ? sejauh mana pula hal tersebut mempengaruhi proses berkarya mereka ? pertanyaan tersebut timbul dalam benak saya, karena kebanyakan seniman muda Bandung yang sedang ‘laku’ adalah  mereka yang secara jenjang pendidikan hanya berbeda 2 hingga 5 tahun dengan mahasiswa tingkat tiga, empat dan yang sedang menempuh Tugas Akhir.  Mungkin  secara disadari ataupun tidak para seniman muda ini menjadi panutan bagi para mahasiswa tersebut yang kelak ingin menempuh jalur menjadi seorang seniman.

Pengaruh pasar terhadap perkembangan karya mahasiswa yang sedang melaksanakan studinya bisa berdampak baik dan berdampak buruk. Hal yang baik akan terjadi apabila pengetahuan mahasiswa akan keadaan pasar ( kecenderungan karya yang sedang diserap dengan baik oleh pasar ) di imbangi dengan pengetahuan mereka akan mekanisme pasar ( proses hingga akhirnya sebuah karya bisa terjual ), penentuan harga, perkembangan wacana dan kecenderungan akan gaya perupaan. Sehingga mahasiswa dapat melihat sisi lain dari sebuah karya yang terjual. Hal yang buruk mungkin dapat terjadi apabila mahasiswa melihat fenomena di atas hanya dari satu sisi saja, sehingga bukan tidak mungkin apabila  mereka kelak merasa bahwa karya yang sedang mereka kembangkan tidak akan diterima oleh pasar ( karena berbeda dengan kecenderungan karya yang diserap dengan baik oleh pasar ).

Eksesnya adalah mengecilnya keberanian untuk selalu menggali segala kemungkinan dan potensi terhadap sebuah kebaruan yang mungkin terdapat pada karya mereka. Hal ini riskan terjadi pada mahasiswa tingkat tiga hingga mahasiswa yang sedang menjelang Tugas Akhir, karena pada masa – masa ini pembentukan karakter dan kesenimanan dari setiap mahasiswa mulai terbentuk. Walaupun tidak dapat di samakan. Hal ini dapat dilihat dari kurikulum bagi mahasiswa tingkat tersebut yang mulai di ‘lepas’ untuk mencari karakter dan gaya masing –masing.

Disinilah institusi pendidikan seni rupa harus dapat menjalankan peranan dan fungsi dengan baik. Ia harus dapat memberikan pengembangan, edukasi dan penelitian seni dalam arti berani mempertahankan dan menawarkan wacana yang baru. Karena itulah fungsi dari sebuah laboraturium edukasi seni rupa. Setiap mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan didalamnya adalah calon dari seniman, kurator,  kritikus, pengamat seni, manajer seni dan sebagainya. Kondisi medan sosial seni di Indonesia saat ini sedang dalam kondisi yang sangat dinamis, hal ini bisa diihat dari mulai banyaknya pameran-pameran yang digagas oleh mahasiswa dan sikap keterbukaan dari galeri maupun pasar terhadap karya mahasiswa. Hal ini mungkin berbeda dengan kondisi sepuluh tahun yang lalu. Dimana mahasiswa masih mempunyai kesempatan yang sangat sedikit untuk berpameran apalagi untuk diserap oleh pasar, terkecuali pada momen-momen tertentu seperti boom seni lukis. Institusi pendidikan seni rupa harus dapat memberikan ruang dialog antara karya dengan publik sehingga memungkinkan terjadinya perkembangan wacana dua arah, antara seniman-wacana-publik dan medan sosial seni. Salah satunya adalah selalu memberi penawaran nilai-nilai kebaruan atau kekinian dan tidak mengikuti arus yang ada (mainstream). Ia harus dapat berfungsi sebagai penjaga dari keseimbangan antara pasar dengan wacana. Karena itu pendidikan dan metode dari kurikulum yang ditawarkan pun harus sesuai dengan kondisi yang berkembang di dalam medan sosial seni. Sehingga setiap elemen yang berada didalamnya dapat mengaktualisasi diri dengan keadaan di luar. Ini adalah sebuah keadaan ideal akan fungsi dan peranan dari sebuah institusi pendidikan seni rupa. Akan tetapi yang terjadi di lapangan kadang-kadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Ada berbagai macam kondisi yang secara umum dapat ditemukan pada setiap institusi pendidikan seni rupa yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah regenerasi dari pengajar yang ada sangat lambat dan kurang terbukanya sikap beberapa pengajar terhadap beberapa hal. Seperti perkembangan dari wacana yang ada, pasar dan media yang sama sekali baru. Hal ini menjadi salah satu titik yang cukup vital, karena pengajar (dosen) adalah sosok yang membentuk mahasiswa dalam segi pembelajaran terhadap medan yang akan dihadapinya kelak. Karena situasi dan kondisi yang ada ketika pengajar tersebut masih aktif dalam dunia kesenirupaan akan berbeda dengan keadaan yang akan dihadapi oleh para mahasiswanya. Terkecuali para pengajar yang masih aktif mengikuti perkembangan atau bahkan menjadi bagian aktif dari perkembangan tersebut. Hal ini jika tidak disikapi akan semakin menutup ’pintu’ dari sebuah institusi pendidikan seni dengan segala kemungkinan akan kebaruan yang mungkin terjadi. Melihat perkembangan dunia seni rupa Indonesia baik dari segi wacana maupun pasar kita tidak bisa menutup pintu terhadap segala kemungkinan atau perkembangan baru yang mungkin akan terjadi. Ini dapat dilihat dari semakin banyak mahasiswa yang mengambil tema, teknik dan media yang berada di luar studinya (program studi) sebagai proyek tugas akhirnya. Akan tetapi selalu menemui kendala dalam bentuk benturan dengan para pihak pengajar. Solusi yang di ambil adalah mengganti tema dengan sesuatu yang umum dan konvensional, mengurangi segi eksperimentasi atau inovasi dalam proyek tugas akhirnya dan tetap memaksakan dengan konsekuensi nilai yang mungkin sangat kecil atau bahkan dianggap tidak layak dan harus mengulang tugas akhir.  Ini adalah sebuah kondisi yang ironi, di satu sisi publik dan medan sosial seni mengharapkan inovasi-inovasi baru dalam perkembangan wacana, teknik, media maupun visualisasi dari karya yang dilahirkan oleh calon seniman ”jebolan” institusi perguruan tinggi seni. Kondisi ini juga sangat umum ditemui pada topik atau permasalahan yang lainnya seperti pembahasan tentang kondisi pasar, etika seniman, proses penentuan harga dari sebuah karya, mekanisme pasar, balai lelang dan sebagainya. Informasi ini sering kali sangat tertutup bagi mahasiswa. Sering kali dalam kuliah pengajar menngatakan bahwa ”seniman itu tidak boleh naif, ia harus pintar dalam menyikapi kondisi dari medan sosial seni yang ada.” akan tetapi apabila pembahasan ditarik lebih dalam maka pengajar pun akan mengatakan ” sudah, kamu jangan banyak tanya. Yang penting kamu belajar saja yang benar, nanti juga ada saatnya kamu mengalami dan mendapatkan jawabannya”. Sekali lagi sebuah kondisi ironi terjadi. Disini saya tidak bermaksud ataupun mempunyai intensi untuk  membongkar kebobrokan dari sebuah institusi pendidikan seni yang ada di Indonesia, akan tetapi yang saya ungkapkan adalah beberapa nilai yang saya anggap penting dalam proses perjalanan seorang mahasiswa hingga menjadi seseorang dalam medan sosial seni rupa. Karenanya apabila hal-hal tersebut tidak disikapi dengan baik dan bijaksana maka ada beberapa implikasi yang mungkin dapat terjadi, seperti: mahasiswa yang kekurangan informasi terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan perkembangan dunia seni rupa Indonesia akhirnya memiliki pertimbangan pribadi yang tidak objektif akan medan yang akan ia hadapi kelak, mungkin memilih menjadi seniman dengan mengikuti trend pasar yang ada (mediocre), tidak berani membuat sesuatu yang berada di luar konvensi yang ada, di sisi lain perkembangan pasar yang ada pun tidak akan pernah mencapai titik yang stabil dan selalu meletup-letup karena pembenahan, penginformasian, penelitian dan berbagi pengalaman atas mekanisme pasar tidak pernah terjadi pada tataran edukasi di institusi pendidikan seni, terjadi sebuah lingkaran akan sekelompok orang yang mengendalikan seniman yang akan di-eksis-kan.  Akan tetapi untungnlah masih ada beberapa mahasiswa yang mau menggali informasi dan mau membagikannya pada mahasiswa yang lain. Sehingga muncul alternatif space, kelompok seni, komunitas dan individu yang mempunyai wacana dan karya yang menjauhi kecenderungan pasar, di luar konvensi yang ada dan terselenggara dengan modal semangat. Bukan berarti juga bahwa mahasiswa harus selalu disuapi dengan berbagai macam informasi atau tips dan trik akan medan yang akan dihadapi. Akan tetapi segala sesuatu yang telah dialami seseorang pastinya memiliki sisi buruk dan baik berdasarkan pertimbangan subjektif, seperti halnya sejarah yang selalu menjadi sebuah cerita satu sisi. Pembelajaran atas berbagai pengalaman tersebut yang dibutuhkan agar mahasiswa kelak dapat menentukan sikapnya sendiri tanpa harus mengalami keadaan yang membingungkan dan membuat ia mengikuti arus dengan berbagai ketakutan terhadap berbagai hal yang menghampirinya. Yang dibutuhkan adalah semacam penjaga gawang agar institusi pendidikan sebagai salah satu infrastruktur dari sebuah konstelasi dunia seni rupa dapat memberikan kontribusi dalam membangun suprastruktur yang lebih baik dan sehat. Dalam arti bahwa dibutuhkan keterbukaan dari setiap elemen yang ada di dalamnya.

Yang ingin ditekankan disini adalah bahwa perkembangan dalam dunia seni rupa di Indonesia secara khusus harus disikapi dengan sikap terbuka oleh seluruh elemen yang ada di dalamnya dan salah satunya adalah institusi pendidikan seni rupa yang berada pada tataran penghasil intelektual. Yang kelak akan menjadi bagian dari medan sosial seni rupa di Indonesia. Karenanya naif menjadi kata yang sangat tabu saat ini dengan perkembangan seni rupa indonesia yang berkembang dengan instens, pesat dan bahkan mungkin sporadis. Keterbukaan adalah hal yang wajib dalam arti penyebaran informasi, pengembangan , penelitian seni dan edukasi seni dalah nilai-nilai yang tidak bisa tidak kita hiraukan. Semuanya adalah harapan yang ditumpukan pada setiap insan pendidikan seni rupa dan seluruh infrastruktur pendukungnya agar bisa dijadikan “realitas” yang tidak sekedar realitas.

Rifandy Priatna

Comments
One Response to “Menjadi Mahasiswa Seni Rupa; Sebuah Ironi”
Trackbacks
Check out what others are saying...


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: