Gerakan Seni Rupa Baru dan Kelompok Seni Rupa Di Indonesia

Sebagai penanda dari perkembangan seni kontemporer di Indonesia

Adalah Ris Purnomo, S. Prinka, Anyool Soebroto, Satyagraha, Nyoman Nuarta, Pandu Sudewo, Dede Eri Supriya, Jim Supangkat, Siti Adiyati Subangun, F.X Harsono, Nanik Mirna, Hardi, Wagiono. S, Agus Tjahjono, B. Munni Ardhi dan Bachtiar Zainoel yang membentuk Gerakan Seni Rupa Baru. Sebagai sebuah usaha dari sekelompok akademisi atau mahasiswa seni rupa yang menentang monopoli seni oleh sekelompok seniman saja.  Monopoli di sini adalah terlalu kuatnya pengaruh modern dari seniman senior mereka yang sekaligus menjadi pengajar mereka di kampus, yang dalam beberapa hal mengekang kemungkinan akan bentuk – bentuk baru dari kesenian itu sendiri. Hal tersebut mereka wujudkan dalam bentuk pameran bertajuk “ Pasaraya Dunia Fantasi “ di  Taman Ismail Marzuki pada tanggal 2 hingga 7 agustus 1975, tepat delapan bulan setelah peristiwa Desember hitam 15-30 Juni 1987. Adapun beberapa pendapat yang mengatakan bahwa peristiwa desember hitam adalah awal dari Gerakan Seni Rupa Baru itu sendiri. 4 tahun kemudian Gerakan Seni Rupa baru mendeklarasikan manifesto Gerakan Seni Rupa Baru atau yang biasa disingkat menjadi GSRB adalah salah satu penanda dari awal mula kelahiran dari seni rupa kontemporer di Indonesia. GSRB juga bisa dimaknai sebagai penanda dari gelombang perkembangan seni rupa pada tahun 1974-1977  yang memasuki daerah pijak baru yaitu perubahan manifestasi secara fisik dan konsep secara besar – besaran. Bahkan ada sebagian pendapat yang menganggap bahwa GSRB menghasilkan denyut yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok seni rupa pendahulunya yaitu Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) yang digawangi oleh Agus Djaja dan S. Sudjojono. Karena GSRB menyodorkan permasalahan yang lebih kompleks melalui menifestonya dibandingkan dengan apa yang di sodorkan oleh PERSAGI. Manifesto GSRB bertujuan untuk menegaskan dengan tujuan meruntuhkan definisi seni rupa yang terkungkung kepada seni lukis, seni patung dan seni grafis. Keyakinannya: estetika seni rupa merupakan gejala jamak. Berikut adalah manifestasi Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia yang diambil dari Katalogus Pameran Seni Rupa Baru Proyek 1 “Pasaraya Dunia Fantasi”. :

Manifesto Gerakan Seni Rupa Baru 1987

SENI RUPA PEMBEBASAN PEMBEBASAN SENI RUPA

Seni rupa pembebasan adalah sebuah tata pengungkapan yang didasari kesadaran perlunya pembebasan definisi seni rupa. Bentuk pengungkapannya mengutamakan pernyataan dan semangat penjelajahan, di dasari estetika pembebasan.

Pembebasan seni rupa adalah ikhtiar mengubah definisi seni rupa. Prinsip kesadarannya, seni rupa adalah gejala plural, yang didasari berbagai tata acuan. Definisi seni rupa yang diakui dan berlaku di masa kini terbelenggu pada: seni lukis, seni patung, dan seni grafis. Senirupa yang terkungkung pada satu tata acuan: “High Art”.

(I) Melihat:

Definisi seni rupa hanya menerangkan penunjukan tiga bidang: seni lukis, seni patung dan seni grafis tanpa penjelasan konsepsional.

(II) Menimbang:

Definisi seni rupa berasal dari penerjemahan mentah term fine arts yang diturunkan dari definisi BahasaLatin Zaman Renaissance yaitu la belle arti deldisegno.

(III) Menyimpulkan:

Definisi seni rupa tanpa disadari sepenuhnya berakar pada prinsip artes liberales (Liberal Arts) dasar tata acuan “High Art” yang digariskan pada Masa Renaissance, di Abad ke 16,  pandangan yang percaya hanya ada satu kebudayaan (yang tinggi) dan satu jenis seni rupa sebagai produknya.

(IV) Menyatakan:

Bahwa seni rupa adalah gejala plural. Bahwa kebudayaan memiliki berbagai tata acuan (frame of reference).

(V) Menyatakan:

Definisi seni rupa adalah hasil adaptasi tanpa pemikiran yang konsepsional, tanpa pertimbangan akulturasi estetik.

Penggarisan definisi seni rupa telah terperangkap. Definisi seni rupa dengan tata acuan “High Art” menjadi sangat miskin dan spesifik. Penggarisannya tidak melihat realita sekeliling di mana terdapat berbagai gejala seni rupa dengan tata acuan lain.

Sepanjang sejarah seni rupa Indonesia, definisi tanpa dasar dan terpiuh ini berlaku. Sementara seni rupa yang berakar pada kebudayaan etnik, seni rupa populer dalam kehidupan sehari-hari, kerajinan dan desain (seni rupa dengan tata acuan lain yang berada di luar definisi) berdiri sebagai fenomena yang tak pernah diperhatikan.  Ini kejanggalan yang ironis.

(VI) Memperhatikan:

Satusatunya gejala seni rupa yang sesuai dengan definisi seni rupa hanya Seni Rupa Modern Indonesia, bagian dari Seni Rupa Modern Dunia (diturunkan dari artes liberales) Dalam ikatan prinsip “seni adalah universal”.

Akibat penggarisan definisi yang tidak cermat, Seni Rupa Modern Indonesia terjerat pula pada lingkaran yang sempit. Sekali lagi telah terjadi adaptasi tanpa pemikiran yang konsepsional dan pertimbangan estetika. Perupa dan kritikus Seni Rupa Modern Indonesia telah sesungguhnya menjadi buta dan menganggap seni rupa modern — seni lukis, seni patung dan seni grafis — adalah satu satunya gejala seni rupa. Di luar itu tak ada seni rupa. Sikap ini populer lewat ungkapan: “… bukan seni lukis”.

Ini bukan fanatisme pada sebuah faham tapi keteguhan sikap tanpa dasar kenyataan sesungguhnya: kebingungan. Tak adanya perhatian kritis pada definisi yang terpiuh menandakan kebingungan ini. Bahkan tak ada kesadaran definisi sama sekali. Kegiatan seni rupa modern sendiri berjalan terpecah pecah dengan seni lukis sebagai sektor paling populer.

(VII) Menyatakan:

Perupa Modern Indonesia telah melakukan kesalahan idiomatis, menggunakan bahasa Seni Rupa Modern tanpa kesadaran estetik. Mendasarkan kegiatan seni rupa hanya pada potongan-potongan Sejarah Seni Rupa Modern yang tidak lengkap — kepercayaan pada sejarah senirupa, hanya salah satu faham estetik.

Perupa modern Indonesia telah menjadi konsumtif. Menganggap berbagai konsep gaya  pada potongan-potongan  Sejarah Seni Rupa Modern sebagai sumber yang harus disucikan dan dianut mentah-mentah. Peniruan terpiuh terjadi juga pada gaya hidup. Gaya hidup romantik telah berubah menjadi eksentrikisme epigonistik. Individualisme yang menjelajah kedalam berganti menjadi egoisme yang megalomanis.

Adaptasi salah kaprah yang sangat lanjut membuat kritikus dan perupa modern cuma sibuk mencocok-cocok gejala seni rupa modern dengan “kamus” sejarah seni rupa. Perupa modern tak sesungguhnya melakukan tradisi eksplorasi.

(VIII) Menyatakan:

Pemikiran seni rupa di Indonesia menuju kebangkrutan. Seni Modern Indonesia,  satu-satunya seni rupa yang sesuai dengan definisi mengalami stagnasi besarbesaran. Terpaku pada gaya-gaya awal Seni Rupa Modern, berhenti melakukan penjelajahan;  tak mampu melakukan pemikiran ke dalam mencari dasar bagi perkembangan lain.

Seni rupa dari tata acuan lain, terbunuh di lingkungan pemikiran seni rupa. Definisi yang terpiuh mengucilkannya ke sudut yang tidak diperhatikan: Seni rupa dengan latar belakang kebudayaan etnik, tanpa pandang bulu ditempatkan sebagai bagian masa lalu, desain sebagai produk kemajuan teknologi dan industri dianggap seni kasar yang cuma sampai pada keindahan permukaan, seni rupa populer pada kehidupan seharihari dianggap produk kebudayaan massa yang miskin nilai.

(IX) Menguarkan:

Diperlukan seni rupa pembebasan. Tata ungkapan yang mengutamakan pembongkaran tradisi seni rupa yang salah kaprah. Tata ungkapan yang rasional dan mengutamakan pernyataan didasariestetika pembebasan.

(X) Menguarkan:

Diperlukan redefinisi seni rupa, pembebasan seni rupa dari kungkungan definisi yang berakar pada artes liberales — mencari definisi baru yang mampu merangkul semua gejala seni rupa.

(Xl) Menguarkan:

Diperlukan pembebasan budaya pikir dari pandangan serba tunggal yang menganggap hanya ada satu tata acuan yang melahirkan satu seni rupa, hanya ada satu masyarakat global dalam kebudayaan dengan wujud yang utuh dan padu.

Jakarta, 2 Mei 1987.

Sekilas dari manifesto tersebut tersirat makna dari gerak dan arah yang akan di tuju oleh para tokoh-tokoh muda tersebut untuk mendobrak ketertutupan karya seni. Egoisme, elitisme dan mitos tentang seni yang bermula dari “keterlanjuran” dibabat. Seni rupa harus lebih menyuarakan lingkungannya, masyarakatnya. Mereka dituntut untuk menjadi reflektor jamannya. Seniman melalui karyanya berfungsi sebagai alat untuk meng-“amplifikasi”  segala kemungkinan dan perkembangan yang ada. Hal ini terlihat dari karya – karya yang dipamerkan pada Pameran Seni Rupa Baru Proyek 1 “Pasaraya Dunia Fantasi”. Kebanyakan jenis karya yang di pamerkan mempunyai intensi untuk keluar dari jalur yang sudah ada, menciptakan jalur sendiri dan melawan jalur yang lama. Sehingga sudah umum orang berpendapat bahwa pada pameran tersebut, banyak konsepsi-konsepsi baru dalam berkarya, karya-karya baru yang dianggap aneh dan belum pernah terlihat di Indonesia. Yang menjadi baru di Indonesia pada pameran tersebut adalah ; karya situasi (atau biasa disebut dengan ‘site specific project’ ), kebudayaan massa dan desain yang diberi tekanan-tekanan, seperti penggunaan symbol-simbol kebudayaan massa yang biasa ditemui pada era tersebut. GSRB berhasil memadukan ketiga unsur tersebut, melalui metoda pemajangan karya yang meniru ruang dari sebuah supermarket lengkap dengan. GSRB berhasil menampilkan semangat zaman ‘zeitgeist’ pada era tersebut karena melalui karya dan menifestonya GSRB telah mengembalikan semangat bermain seorang seniman. Naluri untuk bergurau dalam proses penciptaan, sanggup menjulurkan suasana renyah dan segar dalam karya cipta. Gurau tapi serius. GSRB berusaha mencari pola pendekatan yang lain dalam berkarya: mencoba mengangkat masalah sebisanya tanpa mengubah substansinya. Usaha menyatukannya dalam sebuah ungkapan, justru menyesuaikan inspirasi dan ritme ekspresi ke masalah yang digarap. Dramatisasi dan pengungkapan kembali masalah sosial tidak dilakukan dengan penafsiran artistik yang individualistis, melainkan dengan pendekatan masalah yang sebenarnya. Bila perlu disertai dengan metode penelitian dan studi lainnya.

Kelompok Seni Rupa Di Indonesia

Dalam perkembangan sejarah seni rupa di Indonesia, terdapat beberapa penanda di dalamnya. Salah satunya adalah sekelompok seniman yang membentuk kelompok dalam beberapa masa perkembangan. Penulis mencatat ada beberapa kelompok yang mempunyai pengaruh cukup besar terhadap perkembangan seni pada massanya. Salah satunya adalah Persatuan Ahli Gambar Indonesia  atau yang biasa disingkat dengan PERSAGI. Didirikan pada tahun 1938 dengan Agus Djaja sebagai ketua dan S.Sudjojono sebagai juru bicaranya. PERSAGI bisa disebut sebagai pelopor dari kelompok seni pertama yang ada di Indonesia.  Mempunyai visi mencari ke “Indonesiaan” dalam setiap karya – karyanya. Menjunjung tinggi otonomi seni, individu sebagai pusat kreasi dengan memulai pembubuhan tanda tangan pada setiap karya yang dihasilkan. Setelah PERSAGI ada juga Pusat Tenaga Rakyat atau POETERA dan Keimin Bunkai Sidhoso (Pusat Kebudayaan), terbentuk pada era masa kependudukan jepang (1942-1945). Keimin Bunka Sidhoso dibentuk oleh pemerintahan jepang dengan visi menggunakan seni sebagai alat propaganda. Sedangkan POETERA dibentuk oleh kaum nasionalis Indonesia dengan visi menghindari seni sebagai alat propaganda. Kedua lembaga tersebut memiliki perbedaa dalam visi yang saling bertolak belakang. Akan tetapi pada masa tersebut Keimin Bunka Sidhoso dan POETERA berhasil membangun identitas Seni Rupa Indonesia sebagai bagian dari Seni Rupa Timur ( Asia). Memberikan kesempatan pendidikan seni rupa melalui akademi dan penghargaan, memberikan kesadaran sosial pada masyarakat untuk menghargai seni. Membentuk tema visual; estetik ekspresionisme, realisme dan impresionis. Setelah itu hadir pula Seniman Indonesia Muda atau SIM pada tahun 1946 di madiun, kemudian Gabungan Pelukis Indonesia atau GPI pada tahun 1948 di Jakarta dan yang terakhir adalah Lembaga Kebudayaan Rakyat tau LEKRA yang dibentuk oleh Partai Komunis Indonesia. Setelah masa tersebut mulai berkembang berbagai kelompok seni rupa di Indonesia dari timur hingga ke barat. Pada tahun 1954, dari tanggal 20 – 27 november sekelompok mahasiswa Akademi Seni rupa Bandung yang memamerkan karya – karya formalis di Balai Budaya Jakarta, pameran ini akhirnya mendapat sebutan “Mazhab Bandung” karena dianggap terlalu ke “barat-baratan” oleh Trisno Sumardjo melalui kritik kerasnya yang di beri tajuk Bandung Mengabdi Laboratorium Barat di muat di mingguan Siasat, 5 Desember 1954. Gerakan Seni Rupa Baru berdiri pada tahun 1975 dan berhasil menggebrak tataran visual dan wacana perkembangan seni rupa Indonesia melalui pameran Pasaraya Dunia Fantasi.

Perkembangan Seni Rupa Kontemporer Di Indonesia

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa PERSAGI adalah penanda dari kelahiran seni modern di Indonesia. Karena beberapa visi, paham dan ucapan yang dilontarkan oleh PERSAGI melalui S. Sudjojono sebagai juru bicaranya merupakan paham modernisme. Terlihat dari salah satu visi PERSAGI yaitu mencari ke “indonesiaan” dan menjunjung tinggi individu sebagai pusat kreasi dengan mulai membubuhkan tanda tangan yang dibuat. Keadaan ini diserap dan diperkaya oleh keadaan yang hadir pada masa – masa selanjutnya. Sehingga beberapa ciri karya Abstrak, Impresionis, Ekspresionis yang mewakili paham modernisme hadir dan di adaptasi oleh beberapa pelukis di Indonesia. Yang terakhir muncul dan menjadi perdebatan panjang adalah karya – karya yang bercirikan formalisme (kubis).  Keadaan stagnan meliputi medan sosial seni di Indonesia pada masa tersebut, karena paham seni yang berkembang di Indonesia saat itu membangun pagar yang sangat tinggi dengan lingkungan lain yang ada di sekitarnya. Semuanya sibuk mencari kebaruan, penggayaan yang khas atau jiwa kethok seperti yang sering diucapkan oleh S. Sudjojono. Tidak semua seniman dapat berpameran apalagi mahasiswa seni.  Pameran yang diselenggarakan pun menampilkan karya dengan kecenderungan yang hampir sama. Hingga akhirnya Gerakan Seni Rupa Baru hadir dengan gebrakannya melalui pameran dan manifestonya. GSRB bisa dikatakan sebagai penanda dari kelahiran seni kontemporer dan post-modern di Indonesia. Walaupun pada masa tersebut kedua istilah tersebut belum dipergunakan. Akan tetapi jika kita tinjau isi dari manifesto dan karya yang ditampilkan oleh GSRB pada pameran Pasaraya Dunia Fantasi tentunya pada masa tersebut GSRB menampilkan faham – faham seni Post-Modernisme (hal ini juga masih menjadi perdebatan di sejumlah kalangan akademisi di Indonesia). Jika Post-Modernisme disini diartikan sebagai  seperangkat proyek kultural yang disatukan dalam komitmen kepada heterogenitas, fragmentasi dan perbedaan serta reaksi terhadap modernisme. Maka GSRB bisa dimasukan pada perkembangan seni rupa late-modernism, atau paruh akhir perkembangan modern di Indonesia. Karena apabila kita lihat dari karya yang di tampilkan maupun isi dari manifesto GSRB, kita dapat menarik dua kesimpulan yang berbeda. Pertama adalah keinginan menampilkan sesuatu yang baru melalui karya –karyanya pada pameran Pasaraya Dunia Fantasi dengan menggunakan idiom kebudayaan massa yang diberi tekanan. Kedua adalah memasukan berbagai unsur yang sebelumnya dianggap bukan seni kedalam karya seni ( memangkas jurang High-Art dengan Low-Art). Dengan jelas ada semangat kebaruan disitu yang di usung oleh GSRB, kebaruan sendiri adalah salah sartu ciri dari senior rupa modern dan pemasukan berbagai unsur yang diaanggap bukan seni (tidak membedakan antara seni dan bukan seni) adalah salah satu ciri dari seni rupa Post-Modern. Selain itu pula kita dapat menyimak visi dari GSRB melalui buku yang ditulis untuk menyertai pameran GSRB yang ketiga. Buku dengan judul Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia, diterbitkan oleh PT. Gramedia pada tahun 1979. Berikut adalah visi dari Gerakan Seni Rupa Baru yang dikutip dari dalam buku tersebut :

Lima jurus gebrakan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia

  1. Dalam berkarya, membuang sejauh mungkin imaji “seni rupa” yang diakui hingga kini, (gerakan menganggapnya sebagai “seni rupa lama”) yaitu seni rupa yang dibatasi hanya di sekitar: seni lukis, seni patung dan seni gambar (seni grafis). Dalam Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia, penetrasi di antara bentuk-bentuk seni rupa di atas, yang bisa melahirkan karya-karya seni rupa yang tak dapat dikategorikan pada bentuk-bentuk di atas, dianggap “sah” (”Seni Rupa Baru”). Dalam berkarya, membuang sejauh mungkin imaji adanya elemen-elemen khusus dalam seni rupa seperti elemen-elemen lukisan, elemen-elemen gambar dan sebagainya. Keseluruhannya berada dalam satu kategori, elemen-elemen rupa yang bisa berkaitan dengan elemen-elemen ruang, gerak, waktu dan sebagainya.Dengan begitu, semua kegiatan yang dapat dikategorikan ke dalam seni rupa di Indonesia, kendati didasari “estetika” yang berbeda, umpamanya yang berasal dari kesenian tradisional, secara masuk akal dianggap sah sebagai seni rupa yang hidup.
  2. Membuang sejauh mungkin sikap “spesialis” dalam seni rupa yang cenderung membangun “bahasa elitis” yang didasari sikap “avant-gardisme” yang dibangun oleh imaji: seniman seharusnya menyuruk ke dalam mencari hal-hal subtil (agar tidak dimengerti masyarakat, karena seniman adalah bagian dari misteri hidup?). Sebagai gantinya, percaya pada segi “kesamaan” yang ada pada manusia dikarenakan lingkungan kehidupan yang sama. Percaya pada masalah-masalah sosial yang aktual sebagai masalah yang lebih penting untuk dibicarakan daripada sentimen-sentimen pribadi. Dalam hal ini, kekayaan ide atau gagasan lebih utama daripada ketrampilan “master” dalam menggarap elemen-elemen bentuk.
  3. Mendambakan “kemungkinan berkarya”, dalam arti mengharapkan keragaman gaya dalam seni rupa Indonesia. Menghujani seni rupa Indonesia dengan kemungkinan-kemungkinan baru, mengakui semua kemungkinan tanpa batasan, sebagai pencerminan sikap “mencari”. Dari sini, menentang semua penyusutan kemungkinan, antara lain sikap pengajaran “cantrikisme” di mana gaya seorang guru diikuti murid-muridnya, yang sebenarnya dapat berbuat lain, memperkaya kemungkinan “gaya” seni rupa Indonesia.
  4. Mencita-citakan perkembangan seni rupa yang “Indonesia” dengan jalan mengutamakan pengetahuan tentang Sejarah Seni Rupa Indonesia Baru yang berawal dari Raden Saleh. Mempelajari periodisasinya. melihat dengan kritis dan tajam caranya berkembang, menimbang dan menumpukkan perkembangan selanjutnya ke situ. Percaya bahwa dalam Sejarah Seni Rupa Indonesia Baru ini terdapat masalah-masalah yang sejajar bahkan tidak dimiliki buku-buku impor, dan mampu mengisi seni rupa Indonesia dengan masalah yang bisa menghasilkan perkembangan yang bermutu. Mencita-citakan perkembangan seni rupa yang didasari tulisan-tulisan dan teori-teori orang-orang Indonesia, baik kritikus, sejarawan ataupun pemikir. Menentang habis-habisan pendapat yang mengatakan perkembangan seni rupa Indonesia adalah bagian dari sejarah seni rupa Dunia, yang mengatakan seni adalah universal. yang menggantungkan masalah seni rupa Indonesia pada masalah seni rupa di Mancanegara.
  5. Mencita-citakan seni rupa yang lebih hidup, dalam arti tidak diragukan kehadirannya, wajar, berguna, dan hidup meluas di kalangan masyarakat.

Lima poin jurus gebrakan seni rupa baru Indonesia diatas hingga saat ini masih terasa pengaruhnya. Hal tersebut dapat dilihat dari kecenderungan perkembangan seni rupa kontemporer indonesia saat ini. sekilas kita dapat melihat penjabaran dari poin 1 hingga poin 3.

Berdasarkan penjabaran di atas Gerakan Seni Rupa Baru dapat di tempatkan sebagai penanda dari munculnya seni rupa kontemporer di indonesia. Kontemporer disini diartikan sebagai seni yang mengacu pada rentang waktu tertentu, seni masa. Karena ada beberapa hal yang patut di garis bawahi dari apa yang di tawarkan oleh GSRB adalah :

mendorong perkembangan seni instalasi di indonesia, menegaskan definisi seni rupa yang masih rancu ketika itu di Indonesia, memulai kemungkinan bentukan pameran dan karya dengan medium yang  sama sekali baru dan memunculkan kemungkinan akan karya yang dibangun dengan beragam disiplin keilmuan. Karena pada perkembangannya ada beberapa eksponen baru dari GSRB yang sama sekali tidak memiliki latar belakang seni rupa.

Daftar Pustaka

 

  1. Siregar, Aminudin TH. Supriyanto, Enin. 2006. Seni Rupa Modern Indonesia. Nalar, Jakarta
  2. Yuliman, Sanento. 2001. Dua Seni Rupa, Serpihan Tulisan; Sanento Yuliman. Kalam, Jakarta..
  3. 1995. Jurnal Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Edisi I, Bandung  November.
  4. Supangkat, Jim. 1979. Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia Jim Supangkat. PT Gramedia, Jakarta.

ditulis oleh :Rifandy Priatna

Comments
5 Responses to “Gerakan Seni Rupa Baru dan Kelompok Seni Rupa Di Indonesia”
  1. Area mengatakan:

    Terima kasih . Informasinya sangat berguna sekali.

  2. adin mengatakan:

    halo , perkenalkan saya adin (kolektif Hysteria Semarang) saya tertarik dengan gerakan seni rupa baru dan sekarang ini saya lagi bikin project untuk menyandingkan antara GSRB dengan Fluxus, saat ini saya tinggal di Wiesbaden, Jerman, tempat konser fluxus pertama kali dibuat, dan kebetulan Ben Patterson, salah satu anggota awal masih hidup dan tinggal di Wiesbaden. project saya tema utamanya antara GSRB dan Fluxus, terima kasih jika anda bisa membantu saya🙂

  3. jenong mengatakan:

    ngawur banget nih. coba ya, kalo baca buku yang bener… — > “Hal tersebut mereka wujudkan dalam bentuk pameran bertajuk “ Pasaraya Dunia Fantasi “ di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 2 hingga 7 agustus 1975, tepat delapan bulan setelah peristiwa Desember hitam.”

    • adhisuryo mengatakan:

      wah, untung ada yang mengingatkan.
      tulisan ini memang di copy paste dari file word yang ternyata masih draft.
      salah mindahin data waktu itu dan tidak di cek.
      kebetulan juga, setahu kami ini tulisan darto untuk makalah yang pengajarnya mas jennong.

      tabik

Trackbacks
Check out what others are saying...


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: