Branded Artwork; Branded Artist

Memaknai karya seni dan seniman sebagai ikon budaya dan gaya hidup.

Mengakhiri tahun 2008 ini Selasar Sunaryo Art Space menggelar pameran tunggal dari pematung Wiyoga Muhardanto dengan tajuk “Window Display” yang di kuratori oleh Agung Hujatnikajenong. Ini adalah pertama kalinya Wiyoga Muhardanto berpameran tunggal. Pameran yang dibuka pada tanggal 19 desember lalu ini menghadirkan 14 karya dari Wiyoga Muhardanto, kesemuanya adalah karya tiga dimensi dengan objek yang dapat dilihat pada kehidupan sehari – hari  bagi sebagian orang ( kalangan tertentu ).  Pameran diadakan di ruang sayap dan ruang tengah Selasar Sunaryo Art Space (SSAS). Ruang sayap terletak di bagian bawah ruang pamer utama SSAS, berjalan menuruni tanggga dan akan bertemu dengan pintu sebuah ruangan yang didepannya terdapat sebuah kolam kecil.  Begitu memasuki ruang pamer hal yang pertama kali terlihat sebuah objek tiga dimensi berukuran besar yang ternyata  adalah replika dari sebuah mobil mewah buatan Jepang. Terbuat dari bahan multiplek yang dilapisi melamin dan dempul lalu di cat dengan warna putih. Pada bagian dalamnya  terdapat mesin dan rel mekanik yang menggerakan bagian  depan dan belakang dari karya tersebut, sedangkan bagian tengah diam tak bergeming. gerakan maju-mundur tersebut mengingatkan fungsi asli dari pintu mobil yang ditiru oleh Wiyoga, bekerja secara mekanis dan otomatis. Berukuran 160 x 480 x 220 cm, karya ini berjudul MPV a.k.a Multi-Part Vehicle, karya ini merupakan satu-satunya karya yang dipajang diruangan tersebut. Berjalan ke ruang pamer yang selanjutnya , yang terletak tidak jauh dari ruang sayap. Begitu memasuki ruang pamer tersebut, saya terhenyak mendapati sebuah ruang tertutup , tanpa akses kemanapun, pada dinding ruangan hanya terdapat sebuah keterangan karya tanpa judul dengan dimensi yang bervariasi terbuat dari plexiglass, plywood dan sensor mekanis. Akhirnya pandangan saya tertuju pada sebuah kotak kecil dengan plastik mika transparan  pada bagian tengahnya yang tertanam di bagian bawah dinding ruangan. Begitu saya mendekat plastik mika tersebut bergeser dengan sendirinya, seketika itu pula ingatan saya tertuju pada pintu utama di mal-mal besar yang menggunakan kaca besar transparan dan dapat bergeser secara otomatis begitu ada orang yang mendekat. Hanya saja yang terdapat di ruangan ini berukuran 1:100 dengan yang ada di mal. Melalui karya tersebut kita dapat melihat isi ruangan yang berada tepat dibalik dinding ruangan tempat saya berada.  Memasuki ruang pamer yang selanjutnya pandangan saya di suguhkan oleh replika dari objek – objek yang biasa kita lihat di dalam  ruang pamer sebuah mall  seperti peralatan elektronik, peralatan kosmetik, produk – produk fashion,  berbagai tas pembungkus barang belanjaan di mall hingga kendaraan roda dua buatan Itali. Hanya saja Wiyoga memainkan, membengkokan atau bahkan membenturkan asosiasi pengunjung terhadap fungsi, nilai dan bahasa (semantik) akan objek – objek dari karyanya. Seperti pada karya Cool yang diletakan pada bagian atas dinding, replika dari pendingin ruangan dengan jacket yang menutupi seluruh bagiannya. Karya Tin Lux, yang terbuat dari resin ini adalah replika dari sebuah kamera digital yang badannya terbuat dari sebuah daging kaleng  kemasan yang pada bagian depannya terdapat sebuah lensa perekam gambar dan pada bagian belakang terdapat layar Lcd lengkap dengan tombol – tombol layaknya sebuah kamera digital. Pengungkapan bahasa yang sama dapat dilihat pada karya – karya wiyoga yang lain seperti pada Haute Couture for dummies, seperangkat produk perlengkapan bayi yang terbuat dari kulit mulai dari popok. sarung tangan, sepatu, pispot, penutup kepala dan dot. Material produk perlengkapan bayi yang biasanya terbuat dari bahan yang lembut, sejuk dan lentur dibuat dengan material yang biasa dipakai oleh orang dewasa. Atau pada karya A Space Formerly Known As Graveyard, kuburan jawa kuno yang terbuat dari plexiglass dan diletakan pada langit-langit ruang pameran.  Kuburan  ini sama sekali tidak menyeramkan karena ia memancarkan cahaya, sehingga sekilas terlihat seperti neon sign. Wiyoga secara keseluruhan berhasil menghadirkan karya – karya yang dikerjakan dengan teknis yang sangat baik, detail pada setiap karya yang ada pun diperhatikan dengan cermat olehnya. Mulai dari cara pemajangan karya yang benar – benar menampilkan suasana ruang pamer dari sebuah mall hingga desain katalog, poster dan undangan yang atraktif. Disini saya merasa seperti orang yang sedang mengunjungi sebuah mall. ada yang menjadi bagian dari rantai produksi – konsumsi dan ada yang menjadi bagian yang hanya sekedar melihat-lihat saja ‘Window shopping’.

Bentuk pameran yang menurut saya hampir serupa dengan apa yang disuguhkan oleh Gerakan Seni Rupa Baru melalui pameran dengan tajuk “Pasaraya Dunia Fantasi” di TIM, Jakarta pada tahun 1987. pada pameran tersebut menampilkan ruang dan suasana pasar swalayan. Dengan pengambilan produk massal  yang diplesetkan dengan nada humor sebagai sebagian  objek seninya. Pada pameran ini juga Gerakan Seni Rupa baru memainkan teks dan konteks yang sesuai dengan semangat zamannya. Hal hal tersebut juga terdapat pada pameran tunggal Wiyoga. Tema menarik yang tersirat dari apa yang ingin diungkapkan oleh Wiyoga dari karya – karyanya, pertama  adalah kritik terhadap budaya konsumerisme yang semakin marak dipraktikan sebagai bagian dari gaya hidup masa kini dan yang kedua adalah pengkomodifikasian dari fungsi sebuah benda menjadi prestise untuk meraih tingkatan tertentu dalam sebuah tatanan masyarakat. tema tersebut dibalut dalam kepiawaian Wiyoga dalam memainkan tanda bahasa dari karya -karyanya.  Kedua hal tersebut adalah landasan utama yang mendorong sebagian orang untuk mengkonsumsi sebuah produk. Yang diutamakan adalah prestise dari brand atau merek sebuah produk tanpa mengindahkan nilai – nilai lain yang mendasar seperti fungsi, kebutuhan hingga nilai ekonomi-nya. Hingga kita dapat menemukan berbagai produk dengan fungsi yang benar – benar sama akan tetapi memiliki perbedaan harga yang sangat mencolok. Mulai dari peralatan elektronik, kendaraan, produk pakaian hingga makanan. Karenanya saat ini orang dapat membeli berbagai barang yang seharusnya menjadi pemenuhan kebutuhan pelengkap (tersier) menjadi pemenuhan kebutuhan utama (premier), hal tersebut diungkapkan dengan jelas oleh Wiyoga melalui karya Painting as a Machine , lukisan di atas kanvas dari sebuah televisi layar datar yang berbadan tipis dengan ukuran nyata, dikerjakan  dengan teknik realis yang sangat prima. kanvas dari lukisan tersbut di bentang pada bingkai yang bentuknya juga menyerupai televisi tersebut. begitu pula dengan Painter as a machine lukisan diatas kanvas dari sebuah alat proyeksi digital yang berbentuk tiga dimensi. kanvas dari lukisan tersebut tidak dibentangkan melainkan dibungkuskan pada sebuah kotak yang menyerupai alat proyeksi digital tersebut. kedua karya tersebut saya rasa sangat sesuai dengan fenomena budaya membeli karya seni secara sporadis (khususnya lukisan) tanpa informasi yang lengkap mengenai sejarah senimannya, landasan karyanya dan wacana yang terdapat di dalamnya, mulai menjadi salah satu pelengkap gaya hidup dari sebagian orang di negeri ini sehingga yang terjadi saat ini adalah  karya seni sebagai branding dari pembuatnya, ” artist as a brand”. Selain itu seniman pada era ini juga melakukan proses yang sama dengan apa yang dilakukan sebagian orang dalam mengkonsumsi berbagai jenis produk. akan tetapi yang membedakan adalah produk yang dikonsumsi. Seniman mengkonsumsi karya seni dengan ‘brand’ tertentu agar ‘branding’ dari dirinya mendapatkan pengakuan dari tatanan masyarakat tertentu (medan sosial seni) melalui berbagai metode. Hal yang serupa dengan iklan – iklan di berbagai media yang selalu berusaha membuat produknya memiliki konotasi sebagai produk yang branded dalam arti memiliki kualitas prima dari sebuah brand yang prima juga. Sehingga saya mendapatkan sesuatu yang saling berlawanan dari apa yang disuguhkan oleh Wiyoga  Muhardanto pada pameran tunggalnya kali ini, kritik yang dilakukan Wiyoga terhadap budaya konsumerisme dan kelak karyanya pun akan mengalami perlakuan yang sama seperti produk konsumsi yang lainnya pada tataran ekonomi. Hanya saja asumsi yang terakhir akan menjadi brand dari Wiyoga Muhardanto. Dalam hal ini Wiyoga sebagai seorang seniman yang kiprahnya di medan sosial seni masih di uji konsistensinya, tentu akan melewati berbagai proses hingga akhirnya karya dan dirinya dianggap sebagai sesuatu yang branded. Akan tetapi pameran tunggal dari Wiyoga Muhardanto ini tetap menyegarkan dan berhak mendapatkan apresiasi yang setinggi-tingginya oleh seluruh lapisan masyarakat.

Wiyoga Muhardanto
Tin Lux
8 x 16 x 8 cm
Resin, plexiglass, polyurethane paint
2008

Wiyoga Muhardanto
MPV a.k.a Multi-Part Vehicle
160 x 480 x 220 cm
Plywood, melaminto sheet, polyester putty, motor paint
2008

Wiyoga Muhardanto
Painter as a Machine
13 x 29 x 24.5 cm
Oil on canvas
2008

Wiyoga Muhardanto
Cool
25 x 80 x 19.5 cm
Resin, fibreglass, polyester putty, paint
2008

Wiyoga Muhardanto
Painting as a Machine
65 x 99 x 5 cm
Oil on canvas
2008

Kritik terhadap pameran tunggal Wiyoga Muhardanto – ‘Window Display

Rifandy Priatna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: