Suatu Pandangan tentang Fenomena di Jalan Dago

Keseharian jalanan dago merupakan fenomena kompleks yang terlahir dari kesadaan kolektif masyarakatnya sehingga hadir suatu ’budaya’ khusus. Dan Dago sebagai ruang publik merupakan area yang disepakati untuk dapat membuka partisipasi semua orang. Dan mungkin inilah bagian penting dari fenomena jalan dago (oleh banyak penghuninya yang berasal dari berbagai latar belakang) difungsikan sebagai area yang hanya peduli pada nilai-nilai komersial. Kita akan sulit menemukan adanya komitmen untuk Dago sebagai ruang publik yang mengembangkan budaya untuk kebaikan bersama (juga mencerdaskan). Namun harus diakui telah terjadi banyak pembangunan di jalan Dago.

Pembangunan yang terjadi dijalan dago sangat berkaitan dengan komersialisasi. Dimana setiap orang adalah bagian dari proses komersialisasi itu, pemasaran dan konsumen. Dan salah satu pengaruhnya adalah berlaku budaya konsumerisme. Dalam budaya ini, bangunan-bangunan sengaja dibuat megah, penuh tanda-tanda asing yang menarik, eklektik yang penuh tiruan-tiruan visual. Ini menghadirkan efek psikologis berupa keterkejutan dan keterpesonaan. Dan Dago adalah ruang artifisial yang mensimulasikan penghuninya untuk memakai budaya yang berlaku, budaya konsumerisme. Ketika segala sesuatu hanya berdasarkan kemasan, dan juga eksistensi manusia (baca: prestise). Kita hanyut pada perubahan-perubahan dan kemunculan ’beda-beda’ (yang merupakan tanda lama), berada dalam prosesnya tanpa meyakini sesuatu yang kita jalani. Tonnies pernah berkata budaya kota itu gesselschaft, dimana seseorang dipandang sebagai objek kepentingan bukan sebagai anggota komunitas. Dan di Dago, setiap orang adalah bagian dari strategi pemasaran. Misalnya seorang pengemis mendapat peran memperagakan suatu masyarakat terbelakang yang menjual rasa kasihan, atau pengunjung yang membeli prestise, atau juga trend analyst yang merekomendasikan pertimbangan dalam strategi pemasaran.

”Kita tidak butuh budaya, hanya butuh konsumsi hiburan”, sebuah quote Hannah Arendt, yang menggambarkan bagaimana budaya yang dibangun sebenarnya hanya berorientasi pada hiburan. Dan tentu saja budaya seperti ini sangat mudah diterima, mengingat kecenderungan dasar manusia. Budaya yang dibangun mengakomodasi ego manusia. Dan manusia terkesan sebagai makhluk individualis pemburu bentuk-bentuk hiburan. Dijalanan Dago terlihat sesuatu dikemas dalam bentuk hiburan. Kemudian saya akan mengajukan suatu contoh. Saat ini kita kenal, parking park, kemacetan, warung nasi pinggir jalan, pa ogah dan tukang parkir, hingga banyak iklan prodak baru mobil dan seluruh penghuni kota. Merujuk konsep hegemoni Gramsci: ’kekuasaan dibangun atas persetujuan-persetujuan’, maka praktis dapat disimpulkan bahwa kota adalah tempat subur komersialisasi konsumsi hiburan. Telah terbentuk kesepakatan apatis kota, dalam gambaran kesepakatan mayarakat dalam memilih secara bebas mobil dan motor yang kenyamanannya ditawarkan iklan dan fasilitas umum orang banyak seperti warung makan yang pas-pasan. Kesepakatan tersebut (oleh massa) dilestarikan dengan hadirnya parking park, tukang parkir dan pa ogah dimana-mana, dan prihal kemacetan tidak lagi menjadi masalah yang penting. Dan mungkin orang dari kalangan warung nasi pas-pasan juga terus memimpikan mobil untuk proyek eksistensi yang akan terus menambah kemacetan dan polusi udara. Setidaknya terdapat kesepakatan yang serupa dijalanan Dago, dimana telah disepakati: komersialisasi, konsumerisme, apatisme, dan budaya kota lain. Dan mungkin Dago tidak lagi dikenal sebagai Dago, dibenamkan oleh logika pemasaran komersial. Dengan sikap individualis dalam perebutan dominasi di jalan Dago. Suatu usaha merebut dominasi atau meminta persetujuan atau membangun opini di masyarakat kota yang instan. Suatu logika sebagai peraturan tertulis yang telah disepakati.

(Bandung, 6 November 2007)

Usman Apriadi, Syaiful Aulia Garibaldi, Gabriel Aries Setiadi

tulisan dibikin juga gara2 workshop di button 21

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: