Sosiologi Seni

Tentang Disiplin Ilmu Sosiologi Seni

Saat ini sosiologi seni dipandang sebagai disiplin ilmu yang merupakan spesialisasi ilmu sosiologi. Pada masa August Comte, yang saat ini dikenal sebagai bapak sosiologi, sosiologi sempat mengalami kesulitan untuk dapat dipandang sebagai ilmu. Hal tersebut dikarenakan pembahasannya yang cenderung baru dan bersifat tidak pasti, yaitu mengenai hubungan manusia dengan manusia. Objek kajian sosiologi sangat kompleks, mencakup: masyarakat dalam hubungannya dengan perkembangan, perubahan, perbandingan, sistem atau organisasi. Dalam kajiannya, lingkup sosiologi menjelaskan perubahan sosial, fungsi-fungsi sosial, atau pola hubungan individu dengan kelompok/masyarakat.

Secara sederhana sosiologi seni merupakan ilmu tentang sebuah kerangka analisa manusia-manusia berkaiatan dengan aktifitas seni. Sosiologi seni membahas atau mengkaji orang-orang dengan keterlibatan spesifik dalam aktifitas seni, dan masyarakat lain diluar aktifitas seni dalam fenomena budaya yang kemudian mempengaruhi aktifitas seni. Kajian utamanya tentang masyarakat sebagai penikmat, pemerhati, pengkaji, peneliti, pendidik (konsumen), dan pengelola seni yang merupakan komponen-komponen proses penciptaan seni. Seni melalui sosiologi seni menjadi pembahasan yang sangat kompleks. Seniman sebagai pencipta seni, misalnya, menciptakan karya mungkin saja memiliki kaitan dengan latar belakang sosialnya, terkait golongan atau kelas tertentu, terpengaruh pengetahuan dan pengalaman pribadi, atau pun masyarakat tertentu. Pembahasan kompleks ini meliputi kaitan-kaitan antar seluruh pelaku seni seperti: seniman, pemerhati (kritikus, peneliti, pengajar), lembaga seni (galeri, sanggar, pendidikan seni, perusahaan seni, maecenas), pekerja seni dan pelaku seni lainnya, hal-hal termasuk juga fenomena tertentu yang menjadi objek-objek karya seni, dan juga pengaruh yang diberikan sebuah produk atau karya seni. Dalam kaitan dengan produk atau sebuah karya seni, dapat dianalisa kemungkinan adanya pengaruh dari subjek atau pelaku tertentu yang mendominasi dalam proses penciptaan karya seni. Termasuk juga analisa kecenderungan pasar dan pengaruhnya karya-karya seni yang kemudian tercipta atau hadir.

Pembahasan sosiologi seni kemudian bisa juga membahas batas-batas seni yang mungkin dipraktekkan, termasuk juga analisa terhadap fungsi praktek seni (misalnya: ritual, hiburan, pendidikan, dll). Analisa pengaruh terhadap aktifitas seni dan karya seninya juga bisa terkait dengan objek selain dalam lingkup publik seni, misalnya dengan perkembangan masyarakat dengan kesadaran kolektif. Sebaliknya, juga sebagai kajian tentang manusia-manusia dengan hubungan yang saling terkait, sosiologi seni dapat memposisikan sebuah karya seni berkemungkinan menjadi sebuah catatan sosial. Dengan demikian, secara langsung atau pun tidak langsung seni dipahami sebagai bagian budaya manusia. Dalam pengertian ini kajian sosiologi seni yang mungkin antara lain, analisa proses kreatif seni dalam masyarakat, struktur sosial pelaku seni dalam masyarakat, dan lain sebagainya. Aktifitas seni bisa ditinjau sebagai cermin dari nilai-nilai dalam masyarakat, seni dalam budaya hidup masyarakat, dan hubungan antar masyarakat seni dan masyarakat sosial pada umumnya.

Pembahas Sosiologi Seni

Sebenarnya, Karl Marx merupakan salah satu yang terawal dalam menyajikan sosiologi seni. Ide yang dibawanya adalah konsep tentang seni pembebasan dimana seniman dan pelaku-pelaku lain dalam seni perlu mewujudkan seni sebagai sumber ilmu pengetahuan. Konsep ini membawa keberadaan sebuah benda seni sebagai sesuatu yang penting dalam perspektif fungsi sosial. Hampir sama dengan itu, filsuf pragmatisme dari Amerika John Dewey membahas posisi dan peran seniman, karya seni dalam rangka transformasi sosial. Banyak tokoh yang bisa dikaitkan bersesuaian dengan lingkup sosiologi seni: Umberto Eco, Baudrillard, kajian di mazhab Frankfurt dan lain sebagianya.

Arnold Hauser membahas kaitan pelaku-pelaku dalam dunia seni dan mengkaitkannya dan perkembangan sosial budayamanusia pada umumnya dalam “The Sociology of Art”. Jannet Wolff mengajukan ‘sosilogi verstehen’ atau fenmenologi yg berada pada level pemeknaan karya, baik seni rupa maupun sastra. Dalam teorinya proses mediasi merupakan pertimbangan formasi sosial, yaitu selain konvensi estetik, juga kondisi produksi estetik yang berupa pertama kondisi teknologis, kedua institusional, dan yang ketiga kondisi sosial dan historis dalam produksi seni. Ketiganya terkait dengan semiotika sebagai ilmu yang mempelajari secara luas objek, peristiwa, dan seluruh aktivitas kebudayaan sebagai tanda (kode sosial). Tanda itu didefinisikan sbg sesuatu berdasarkan konvensi (kesepakatan) sosial dan dianggap dapat mewakili sesuatu yg lain.

Menjadi Sebuah Disiplin Seni yang Spesifik Berbeda

Secara umum sosiologi membahas tentang keberlangsungan yang sedang terjadi dalam dunia seni. Meski terkait banyak hal, keberadaan seni mutlak ditentukan oleh pelaku seni itu sendiri. Hal tersebut berkaitan dengan logika industri yang terdapat pada seni dalam pembagian peran: produksi, distribusi, konsumsi. Ketiga peran tersebut dianggap sebagai yang utama dalam kelangsungan praktek seni. Meski terkesan elitis, praktek seni tetap dianggap penting karena kemungkinan pengaruhnya dan berkaitan denga perkembangan (budaya) masyarakat umum. Dengan luasnya lingkup pembahasan yang berkaitan dengan seni dapat terjadi kemungkinan overlap terutama dengan kajian-kajian seni lain.

Sebagai sebuah ilmu, sosiologi seni terbedakan berdasarkan objek yang dikajinya, penggunaan sudut pandang, dan paradigma berpikir yang dipakai. Dalam hal ini kata sosiologi merupakan disiplin ilmu yang utamanya menjelaskan hubungan interaksi manusia-manusia. Dalam hal ini sosiologi seni meliputi analisa tentang pelaku-pelaku seni dan hal-hal yang mempengaruhi pelaku tersebut secara menyeluruh. Berbeda dengan sejarah (sosiologi) seni misalnya, yang memiliki fokus utama terhadap sejarah dan kaitan sejarahnya. Sejarah seni mengajukan kesimpulan akhir berupa analisa dari pemaparan catatan, data faktual seni, dan peristiwa-peristiwa seni yang ada. Meski hampir sama, disiplin kajian sosiologi seni juga berbeda dengan visual culture.

Lingkup sosiologi seni sebagai sebuah disiplin kajian, membahas keterkaitan dan pengaruh interaksi antara seni dengan bidang-bidang non-seni. Non-seni tersebut antara lain: sosial budaya, politik, ekonomi, hukum, agama, dan lainnya. Kebalikannya, dalam proses sosialisasi sebuah produk seni yang kemudian mempengaruhi kehidupan seni atau juga non-seni. Sosiologi seni merupakan salah satu bidang kajian yang juga bersifat pendidikan seni karena menganalisis dan meneliti karya seni dalam hubungannya dengan masyarakat yang terdapat pada realitas.

Jika estetika lebih membahas tentang adanya sebuah bentuk produk seni hingga proses penciptaannya, sosiologi seni membahas produk seni melalui keberlangsungannya, pengaruh atau kaitannya, dan aktifitas seni yang ada. Secara sederhana kajian sebuah benda seni secara sosiologis. Ini merupakan paradigma sosiologis dalam menganalisis seni baik sebagai produk estetis, objek kajian, maupun sebagai bahan kegiatan proses belajar mengajar. Sosiologi seni menjelaskan teori-teori mengenai proses kreatif seni dalam masyarakat sekaligus dalam hubungannya struktur sosial, politik, ekonomi, hukum, agama, sosial budaya. Hal tersebut membedakannya dengan filsafat seni yang lebih membahas nilai-nilai dalam aktifitas seni atau kualitas tertentu sebuah karya, terkait pengaruh-pengaruh lain yang ada.

SOSIOLOGI SENI TENTANG SENI KONTEMPORER DI INDONESIA

Terjadi pada tahun 60an, Warhol dianggap menjadi patokan penting dalam praktek seni yang tidak mengkotak-kotakkan antara budaya tinggi dan rendah. Kemudian dunia seni direka ulang, perubahan teknik di media dan seni yang popular. Seni kontemporer sebagai sesuatu yang layak diajukan sebagai diskursus yang akhirnya mempertimbangkan kepercayaan, perkiraan intelektual, pengalaman-pengalaman, kemampuan visual, hingga bentuk-bentuk selera. Sosiologi seni berguna dalam menganalisa praktek dan aktifitas seni, termasuk di Indonesia. Dengan analisanya, kita dapat memahami hubungan antara proses kreativitas seni, produk seni masyarakat, khususnya masyarakat pendukungnya. Dalam kondisi tertentu, seni berhubungan dengan kekuasaan, berhubungan juga dengan kelas sosial, dengan norma yang bersifat lokal, dan juga berhubungan dengan politik. Dalam analisanya akan terhasilkan sebuah ‘pemaparan’ berkaitan dengan praktek yang sedang tejadi. Dan kemudian terkait dengan kajian-kajian seni lainnya.

Saat ini seni kontemporer merupakan bahasan utama sosiologi seni, termasuk di Indonesia. Sosiologi seni tentu digunakan dalam membahas perkembangan seni yang ada saat ini. Aktifitas seni Indonesia sedang berjalan dengan perkembangan yang semakin cepat. Banyak hal bermunculan, dalam keragaman bentuk, latar belakang, arah, gaya, dan lain sebagainya. Hal tersebut berkaitan dengan konsep karya baik secara tematik maupun artistik. Saat ini, seni (kontemporer) memang menjadi pembahasan yang sangat cair dan terkait dengan banyak hal. Ditengah perubahan budaya hidup yang serba cepat, seni tetap merupakan bagian budaya hidup manusia. Dalam era imagology.

Seni dalam Perubahan yang Serba Cepat

Substansi sebuah karya seni kemudian ditentukan banyak hal. Sama halnya, praktek kesenian dapat sebagai suatu yang terkait hal-hal secara spesifik. Kemudian, sosiologi seni berguna dalam membaca semua praktek yang ada berkaitan dengan hubungan pelakunya, aspek sosial, dan seni itu sendiri. Hal tersebut membantu, hingga kita bisa menilai seni melalui praktek seni dan produk yang dihasilkan. Dan Saat ini kecenderungan apapun bisa dilakukan, baik dalam bentuk tradisi/konvensi atau pun diluar konvensi. Kritik seni mempertimbangkan karya dalam kaitannya sejarah sehingga seni seharusnya merupakan produk sejarah. Seni kontemporer kemudian mempertimbangkan bentuk baru seni seperti street art, poster art, public art, site specific project, web art, dan kategori lain terkait ranah budaya yang ada. Seni tidak lagi mengenai sesuatu yang melulu berkaitan dengan keindahan. Dalam sebuah karya seni kita bisa membicarakan perkembangan teknologi, pola hidup, kekuasaan, taraf pendidikan, hingga dunia seni itu sendiri. Kaiatan seni dan budaya, dengan sendirinya menjadi kaitan seni dengan hidup keseharian.

Sejauh ini, seni konvensional masih dominan dalam praktek seni kontemporer di Indonesia. Kecenderungan dan keragaman yang ada merupakan bagian yang dapat dikaji dalam sosiologi seni. Keberlangsungan praktek seni merupakan bentukan hubungan pelaku-pelaku yang ada didalamnya. Seniman sebagai pencipta menjadi salah satu objek analisa yaitu tentang hal atau objek analisa sosiologi lain yang berpengaruh besar pada karya yang dibuatnya. Dalam kaitannya dengan banyak hal, medan sosial seni merupakan prioritas dalam pembahasan sosiologi seni.

Sosiologi Seni: Berbagai ‘Pihak’ Terlibat Disini

Saat ini alam budaya (kehidupan) merupakan sesuatu yang terbangun atas corporate interest, political interest, public interest. Contoh gambaran public interest seperti dapat kita lihat dalam kegiatan survey search engine di internet yaitu kata porn sebagai ranking 1 dalam pencarian oleh pengguna internet. Arah dan kelangsungan hidup (bentukan budaya) sangat bergantung dengan tiga pihak diatas. Masyarakat seni merupakan bagian masyarakat pada umumnya dalam perkembangan budaya hidup/zaman. Sussan Sontag menyatakan telah hilangnya batas antar praktek budaya tinggi dan budaya rendah. Dan budaya tinggi menjadi sebuah konsep yang tidak lagi berkaitan dengan realitas yang ada, merupakan imajinasi. Dalam penyampaian yang lebih sederhana, masyarakat seni hidup dalam realitas yang sama dengan masyarakat sosial pada umumnya. Termasuk seniman, sebagai produsen seni dan juga makhluk sosial. Sama halnya dengan penikmat, pemerhati, dan pelaku-pelaku lain dalam seni.

Medan sosial seni sendiri merupakan tarik menarik antara keberlangsungan dan pancapaian seni. Dalam keberlangsungannya, seni berjalan dan berkembang melalui pelaku-pelaku didalamnya. Sosiologi seni kemudian menganalisa pengaruh-pengaruh yang diberikan pelaku-pelakunya dalam keberlangsungan (survive) praktek seni. Dalam kajian lain, kehadiran seni harus tetap mempertahankan dirinya sebagai bagian pembentuk budaya hidup manusia dan sadar akan aspek lain yang juga berjalan dalam membentuk budaya.

Usman Apriadi

Pustaka:
http://pos.sagepub.com
http://georgetown.edu/faculty/irvinem
http://euroartmagazine.com/new/?issue=1&page=1&content=60
http://artandculture.com
http://en.wikipedia.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: