Seni dan Visual dalam Budaya Manusia, sebuah pengantar

Penggunaan kata seni sedikit banyak akrab dengan keseharian. Praktisi, budayawan, hingga awam, cukup tertarik membicarakannya. Dan kemudian kata seni bergerak bebas dan berasosiasi pada Da Vinci, Van Gogh, Angklung, pertunjukan, kepakaran atau keahlian seseorang, hingga bahkan juga, polah laku ‘yang tak biasa’. Saat ini umum disepakati seni dan kalangan senimannya adalah bagian budaya hidup. Lebih dari itu, seni lestari dan terpelajari khusus secara akademis. Bagaimana sebenarnya pemahaman yang mungkin dibangun berkaitan seni. Diskusi kali ini mengetengahkan seni dan rupa sebagai pusat pembahasannya. Sebuah bentuk seni yang kita kenal sekarang, yang mendunia secara praktikal dan tidak lekang waktu.

Sebagai bagian Timur di Indonesia berkembang wacana yang lebih rumit mengingat seni modern merupakan hasil ekspansi dan adopsi barat. Dan ditambah lagi, wacana bersama tentang tradisi seni (fine art) ketika modernitas tidak lagi jadi pembahasan yang memadai. Seni Timur bersifat terintegrasi dalam budaya umum, dalam kerangka kebersamaan hidup, bahkan juga bernilai bahkan ibadah. Barat bersifat otonomi dan terlembagakan secara khusus dalam institusi seni.

Gambar sebagai dasar seni rupa pertama kali dibuat sekitar 35ribu tahun yang lalu. Berarti sekitar 33.500 tahun kemudian, manusia barat mulai memposisikan gambar dalam sebuah konsep yang kita kenal sekarang dengan sebutan fine art. Gambar sendiri mengalami pola perubahan mulai dari yang teosentris, antroposentris, hingga bersifat instrumental. Fine Art (bahasa Inggris / Beaux di Perancis) sendiri kali pertama lahir di Florence melalui diangkatnya keahlian melukis, patung, dan arsitektur, sebagai Artes Liberales. Ini juga merupakan pola awal kembalinya seni Yunani, yang kemudian berkembang lebih lanjut kedalam aliran Neo-klasik. Sebuah priode awal seni yang antroposentris, kemudian ditegaskan dalam seni-seni Romantis.

Dalam kajian budaya istilah seni tinggi dipakai untuk padanan fine art (seni modern barat), yang kemudian berasosiasi dengan peraktek budaya tinggi. Status budaya tinggi tersebut setidaknya meliputi konsumsi sastra, musik klasik, pemikiran, dan pertunjukan. Sebuah budaya yang dipertentangkan dengan budaya rendah (non aristokrat, massa, atau yang tidak berbudaya). Dari sini kita dapat melihat manfaat analisa budaya. Budaya tidak lagi dipahami sebagai perdaban dan memiliki makna yang terus berkembang. Perubahan dan perkembangan seni berkaitan dengan budaya berupa sebuah gambaran perjalanan masa-masa dalam nya yang panjang. Yang tak lepas dari paradigma (terwujud dalam fenomena umum), perkembangan filosofi, teknologi, hingga politik.

Lalu apa sebenarnya hingga seni menjadi bagian yang penting? Tidak kah ini sudah cukup: ilmu, filsafat, agama, dan hal lain apapun yang mungkin diajukan. Jawaban moderat yang bisa diajukan adalah semuanya ada untuk menjawab masalah dengan caranya masing-masing. Croce, sejarawan dan kritikus seni, berpendapat nilai seni berada dalam roh mereka yang menciptakannya. Berbeda dengan ilmu dan filsafat sebagai pengetahuan konseptual, seni membutuhkan perwujudnya sebagai sebuah karya. Dan akhirnya reduksi isi kepada wujud merupakan ketergantungan total seni dari yang bermanfaat, bermoral, dibuang dari kepraktisan ranah seni. Ia juga berpendapat karya seni adalah prodak sejarah. Karya seni diciptakan agar diingat, mengobjektifkan dan memasukkan fantasi kedalam sejarah.

Tapi nyatanya pekembangan seni rupa memiliki fokus pada faktor-faktor yang dianggap sama pentingnya dalam pembahasan genre ini: seni dan rupa. Walter Benjamin pernah menyampaikan aesthetical correct diperlukan sebelum seni dapat mencapai political correct. Jauh setelahnya, Sussan Sontag pernah menegaskan bahwa sejarah perkembangan seni terasa cukup rancu karena besarnya pengaruh kecerdasan visual (sensibilitas, camp). Visual (wujudnya) merupakan pembahasan estetis yang berbeda dengan permasalahan ide atau konseptual. Diskusi yang terlalu cair akan ditemui dalam membahas pengalaman estetis. Kesulitan akan ditemui dalam menentukan parameter yang terbentur kemajemukan pemahaman yang bersumber pada pengetahuan dan pengalaman. Berbeda dengan pembahasan visual formal atau yang bersifat prinsip, sensibilitas ini lebih terkait bentuk-bentuk selera dan gaya.

Tarik menarik antara yang seni dan yang rupa terlihat silih berganti dalam kurun priode yang tidak tetap. Kita bisa melihatnya sebagai sifat otokritik seni barat. Misalnya keindahan seni Neo-klasik dihadapkan pada gerakan Romantisme. Post-impresionis yang menghadirkan ekspresionis, hingga Abstrak Ekspresionis yang meledakkan Pop Art. Setiap aliran memiliki latar belakangnya sendiri-sendiri sebagai perjalanan panjang seni. Sebuah keniscayaan reduksi isi seni terhadap wujudnya.

Manusia adalah makhluk yang mampu merefleksi dan mencapai kecerdasan spiritual. Tentang manusia, banyak definisi telah diajukan. Tentu ini berkemungkinan ditolak filsafat eksitesialisme yang menganggap manusia sebagai masalah yang akan terus diukur-ulang. Meski begitu hadirnya budaya yang tangguh tentu saja diperlukan dalam budaya manusia. Dan pengajuan bentuk-bentuk budaya akhirnya membutuhkan asumsi tertentu sebagai bangunannya. Misalnya saja, sebuah sejarah tentang peran dan posisi seni tinggi dalam konsep budaya tinggi aristokrat di barat. Dan aktivitas seni adalah bagian yang menyusun budaya.

Dan banyak perubahan telah diajukan untuk seni dalam Budaya setelah Revolusi Industri. Sebuah perubahan yang memperbaharui bentuk masyarakat yang tanpa kasta sekaligus memposisikan produk industri sebagai kelengkapan keseharian (populer): budaya massa. Sebuah perkembangan yang terus berlanjut pada eksploitasi teknologi. Ya, sebuah budaya teknologi. Dan terus berkembang hingga hadir peyesuaian-penyesuaian budaya: budaya yang diciptakan. Perkembangan teknologi yang semakin cepat mewarnai budaya visual saat ini yang lebih dulu ditandai dengan penemuan teknologi film dalam fotografi. Visual hadir dalam berbagai bentuk digitalisasi informasi dan media. Yang juga hadir sebagai budaya media.

Tak banyak yang bisa disimpulkan disini. Kalau pun ada berupa penafsiran sinis, se-sinis awal kali pemikiran post-struktural, teori kritis neo-marxis, post-modern, hingga studi budaya. Budaya kontemporer yang sedang berkembang sendiri pun mengaburkan keberadaan batas (bahkan keberadaan) antara seni tinggi dan seni rendah. Dalam budaya industri yang bersifat unisex dan lepas dari segala tradisi yang ada. Seni kontemporer sendiri mencoba memodifikasi yang modern dengan solusi artist inisiative. Kurun 70an sebagian aktifitas seni memang dapat dilihat sebagai aktifisme. Dan seni kian kabur antara bersesuaian atau bersifat pemertahanan tradisi, antara kontemporer atau modifikasi labelnya. Dan yang memilih menjadi pelakunya pun (baca: seniman) menjadi bagian dalam budaya kontemporer yang berkembang.

Jika aktifitas seni menjalankan perannya yang khusus tentu karena seni memang tak mungkin dihilangkan dalam ranah budaya. Intuitif-nya aktivitas seni dapat melengkapi kehadiran hal non-seni yang berada dalam aturan, kerunutan, dan kebakuan sistematis. Tinjauan yang sangat layak dilakukan adalah sebarapa jauh pencarian dalam praktek seni kita. Sama pentingnya dengan peran yang diajukan politik, sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebuah wilayah bernama budaya yang terlihat melalui fenomena-fenomena. Dan selanjutnya: seberapa interdependen pola hubungan tersebut dan berbagai analisa yang mungkin mengikutinya.

(dibawakan di diskusi IACI kemarin)

Usman Apriadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: