Kembali Menyadari Manajemen Seni

Kesadaran menejemen telah dianggap sebagai suatu kebutuhan dalam dunia Seni. Kesadaran ini berguna demi suatu capaian yang berkaitan dengan aktifitas dalam proses kreatif kreatif, apresiasi, rancangan sebuah event, hingga pencatatan-pencatatan yang diperlukan. Melalui hal tersebut, kita dapat memahami menejemen sebagai sebuah kesadaran dalam tingkat pelaksanaan berdasarkan fokus atau orientasi-orientasi tetentu. Dan sebenarnya disinilah masalah utamanya, bersifat paradigma. Meski tidak langsung dan sedikit melebar, pembahasan masalah bisa tentang pelaku menejemen, hingga posisi seni di Indonesia dan wacana yang sedang berkembang. Kita harus telah memahami faktor dominan yang menentukan perkembangan seni. Sebagai sebuah perjalanan seni berdasarkan kesepakatan bersama yang terbangun. Kesepakatan bersama ini tentu lahir melalui keberadaan lembaga-lembaga seni, sekolah (pendidikan seni), perkembangan seni global, fenomena bersama bahkan juga pemerintah. Dan kemudian pelaku dan masyarakat seni pada umumnya dapat membayangkan hal sama dalam jalannya praktek menejemen seni.

Di Barat kesadaran akan menejemen seni memang menjadi suatu yang penting. Di Inggris misalnya, sekolah seni memiliki perhatian spesifik pada pendalaman bidang menejemen seni. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan British Council, Aberystwyth School of Art, menyadari konsep industri kreatif yang telah menjadi sektor spesifik yang menyusun ekonomi. Studi yang segera mapan tersebut adalah Art and Event Management, berkaitan dengan segala aktifitas dalam proyek artistik, kegiatan produksi seni, konsultan, menejemen, pelaksanaan festival, hingga fashion show. Dan ini terjadi dalam masyarakat yang tidak lagi mempertanyakan posisi seni, menjadikannya sebagai gaya hidup, dan berusaha untuk antusias. Dalam sebuah masyarakat yang digambarkan lebih dari sekedar tertarik berkunjung, tapi juga memberikan perhatian pada diskusi seni dan beragam award yang dibuat. Terdapat paradigma yang menghasilkan komitmen masyarakat yang sama terhadap seni. Komitmen yang kemudian jelas juga dimiliki menejer, kurator, administrator, PR, hingga event organizer dalam membarengi proses produksi kreatif seniman. Dalam kondisi tersebut, disebutkan, industri kreatif menyerap 625.000 tenaga kerja dan berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi di sektor budaya sebesar 16% per tahun. Dan pada tahun 2007 pemerintah Inggris ikut menyuntikkkan dananya sebesar 1,5 juta Pounds untuk Museum Modern Tate yang didirikan sejak tahun 2000, dan akan terus berkembang hingga 2012 dengan rencana pembangunan. Di Indonesia, jika kita perhatikan, industry kreatif yang demikian sebenarnya cukup terlihat di industri musik seperti fenomena yang kita lihat belakangan ini. Banyak festival dibuat dan menjadikannya perkembangan ditengah masyarakat yang memang antusias.

Dalam membicarakan menejemen seni kita perlu juga menyertakan pembahasan yang lebih mendasar. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, pengelolaan apa yang akan diusahakan? pertanyaan tersebut berkaitan hal yang akan dituju, asumsi dan bayangan yang sama mengenai posisi seni. Sejauh ini, menejemen seni cenderung terlihat dipaksakan dan biasanya pembahasannya berkaitan dengan aktifitas industri seni, pengelolaan praktis proyek-proyek seni, dan interaksi didalamnya. Dan secara sederhana menejemen seni kemudian berarti aktifitas professional pelakunya berbagai peran dalam lingkungan seni. Ini merupakan sebuah perkembangan dalam pelaksanaan seni lebih lanjut berdasarkan kiblat seni, Barat. Dan Sebenarnya tak ada pilihan lain mengenai adanya kesadaran mengenai fokus dan orientasi seni. Hal tersebut dapat mengatasi persoalan mendasar untuk, jika saja boleh dianggap, memperoleh capaian yang sama dengan patron seni kita: Barat. Setidaknya kita mesti menyadari perlu sikap bijak dalam mengikuti perkembangan yang ada. Sehingga usaha disiplin dalam menejemen seni akan memiliki hasil signifikan, dan perkembangan martabat seni Indonesia itu sendiri. Sebagai pelaku yang hadir secara utuh. Yang jelas pentingnya kehadiran seni dalam budaya hidup dan bagian sejarah Indonesia adalah sebuah prasyarat dalam melakukan menejemen seni. Posisi yang jelas akan menghasilkan supporting system yang jelas dalam pelaksanaannya.

Pembahasan menejemen seni sendiri sering dikaitkan dengan sosiologi seni. Cukup terkait dengan menejemen karena sosiologi memiliki cakupan mengenai hubungan masyarakat dengan perkembangannya, perubahan, perbandingan, sistem atau organisasi. Lingkup tersebut memang lebih luas, sebagai ilmu tentang kerangka analisa manusia-manusia berkaiatan dengan aktifitas seni. Karya seniman, misalnya, dianggap mungkin berhubungan dengan latar belakang sosialnya, terkait golongan atau kelas tertentu, terpengaruh pengetahuan dan pengalaman pribadi, atau pun masyarakat tertentu. Demi kelangsungan praktek seni terdapat pembagian fungsi dan peran yang cukup kompleks. Seni Barat dengan semangat kebebasan, demokrasi, dan mekanisme pasar, membuat fungsi kritik seni menjadi sangat penting. Galeri dan kurator, pemeran yang umumnya kita kenal sekarang, berperan sebagai mediasi atau mengakomodasi alam pikiran seniman dan produknya. Meski sesederhana memberikan penilaian, kritikus tetap dinilai penting dalam mengiringi komitmen seniman dalam menghadirkan sebuah karya. Dalam penulisan, terdapat usaha membedakan diri antara tulisan kritik yang berisi penilaian dan kurasi karya (oleh kurator) yang total mengadaptasi karya yang ada. Disamping itu, masih banyak fungsi dan penggolongan kategori lain yang memberikan peran dan juga mempengaruhi perjalanan dan perkembangan seni. Misalnya peneliti, pengajar, galeri, sanggar, pendidikan seni, maecenas (semacam pencinta seni, bisa berfungsi sebagai sponsor), perusahaan (dealer) seni, hingga makelar (broker).

Arnold Hauser membahas kaitan pelaku-pelaku dalam dunia seni dan mengkaitkannya dan perkembangan sosial budayamanusia pada umumnya dalam “The Sociology of Art”. Sosiologi seni membahas keberlangsungan masyarakat seni, dan juga, sebagai masyarakat pada umumnya. Dengan seni sebagai sentral, sosiologi seni membahas kelangsungan pelaku-pelakunya didalamya termasuk yang berkaitan dengan berbagai aspek lain. Masyarakat seni, sering disebut medan sosial seni, dan kelangsungannya kemudian cendrung dibahas melalui skema ekonomi. Suatu pembahasan sistemik dalam peran-peran ekonomi dalam industri seni: produsen, distributor, dan konsumen. Prinsip sederhana tersebut akhirnya berkaitan dengan menejemen seni.

Merancang sebuah menejemen seni memang menarik dan mengundang perhatian. Porsi pikiran mengenai hal tersebut jelas dibutuhkan. Hal yang perlu diingat menejemen seni adalah rancangan kerja mengenai kelangsungan aktifitas seni yang dilakukan pelaku-pelakunya. Kelangsungan aktifitas seni secara keseluruhan akhirnya dianggap bergantung oleh ketersediaan produk karya seni dan pasarnya. Lepas dari semua pengaturan yang dirancang, menejemen seni tetap mesti berdasarkan esensi yang melahirkan tradisi-tradisi seni dan latar belakang kebutuhan kegiatan konsumsi seni. Sehingga seni dapat tetap menjadi sentral dalam menejemen seni. Karena industri seni adalah industri yang berbasis produk seni. Dalam hal ini, industri dengan logika seni bukannya seni dengan logika industri. Dengan pemahaman tersebut jalannya seni akan lebih mawas diri, antara orientasi pasar seni, orientasi pentingnya kebutuhan pada konsumsi seni atau orientasi pada apapun produk yang dihasilkan seniman. Menejemen seni yang terus diusahakan lebih baik harus dibarengi pemahaman yang lebih baik mengenai perlunya membuat menejemen seni. Kesadaran tersebut diperlukan agar tidak begitu saja buru-buru. Dan semua hanya berdasarkan perasaan dan keinginan dalam menejemen seni alih-alih perkembangan dan kemajuan zaman.

Usman Apriadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: