Budaya Massa, Pengantar Singkat

Budaya Massa (Mass Culture)

Istilah ‘mass’ sebenarnya telah dipakai sejak abad-19. Mass atau masse didefinisikan mayoritas Eropa yang tidak terpelajar atau non-aristokratik. Berkesan rendah dan ditujukan sebagai masyarakat yang tidak berbudaya. Sama halnya dalam definisi Jerman, masse dan kultur merupakan lawan kata dari high kultur. Menurut Sapardi Djoko Pramono, budayawan dan sastrawan Indonesia , budaya massa sering terlihat sebagai prilaku meniru budaya asing atau barat atau juga amerika. Ia nyatakan berupa kecenderungan dengan prilaku didatanginya konsumen dan dipaksa menerima budaya. Budaya yang telah di-estetika-kan (baca: diberi bentuk ekspresi) dalam dunia imajiner yang dibentuk untuk konsumen. Sebenarnya budaya massa dimulai bersamaan dengan dimulainya masa industri. Dengannya monopoli budaya aristokrasi terlarutkan dan menghapus perbedaan budaya: kelas, tradisi, cita rasa. Ini berasal dari semangat moral universal dan demokratisasi kehidupan yang mementingkan keterlibatan umum, hasrat individu, pengalaman imajinatif, dan kepuasan.

Produk sendiri adalah media rekreasi yang menjawab kebutuhan sosialisasi, skema struktural, dan motif satisfaksi. Proses sosial dan struktural adalah faktor yang berkaitan satu sama lain, berkaiatan dengan eksistensi. Sebuah budaya bisa saja tidak terukur dan terkesan dibuat-buat. Hannah Arendt menanggapinya dengan menegaskan bahwa masyarakat massa tidak butuh budaya melainkan butuh konsumsi hiburan. Dalam Budaya populer terdapat bentuk-bentuk ‘memaksa’ dan pembatasan suatu pengalaman yaitu dengan pemahaman yang umum, kesederhanaan sikap, pikiran dangkal, tidak terukur, dan cepat usang. Budaya ini membentuk ‘arus dan pusaran’, dalam artian sekelompok orang di area tertentu akan tertarik pada suatu kecenderungan budaya umum sebagai kesadaran parsial. Kritikus juga menyatakan budaya populer gemar menimbulkan sensasi dan khayalan pemenuhan harapan yang narsis.Kajian lebih lengkap dapat ditemui dalam teori budaya yang merupakan cabang dari ilmu antropologi yang coba menggambarkan konsep budaya secara operasional dan ilmiah. Berbeda dengan kajian-kajian sebelumnya (bahkan struktural) signification menjadi proses produk peristiwa sosial, terbuka dan dinamis. Lebih lanjut dan pendekatan yang terbaru adalah komparatip studi budaya, berdasar pada disiplin dari studi perbandingan penulisan dan studi budaya.

Tinjauan Sejarah

Pengertian budaya pada abad-19 sebagai peradaban yang cenderung berdasarkan wilayah, telah berubah. Sejak ± 1700, dengan ditemukannya mesin uap dan tenaga listrik, hingga 1940an, dianggap sebagai bagian awal perkembangan budaya industri. Masa ini disebut zaman modern. Revolusi industri adalah awal dari cepatnya perkembangan teknologi dalam kehidupan manusia. Perkembangan zaman pencerahan yaitu ilmu pengetahuan dan pandangan rasional di abad-19, tidak hanya ditandai oleh relativitas Einsten dan Psikoanalisa Freud, perkembangan dan penemuan-penemuan teknologi yang belum pernah terjadi telah menyebabkan priode baru: industrialisasi. Awal dimulainya era industrialisasi produksi. Kemudian di abad XX, Frankfurt School, dikenal juga sebagai Neo-Marxis, menyatakan masyarakat massa dihubungkan (diciptakan) ke suatu masyarakat individualis yang terasing dengan tetap menjaga kesatuan melalui budaya industri yang ditangani kapitalisme. Budaya ini terhasil melalui logika massification of product dan homogenization of taste. Sedikit terkesan sinis, Chaney berpendapat konsumerisme menjadi pusat perkembangan sosial modernitas. Dia berpendapat, “priode setengah terakhir abad 19 dan dekade pertama abad 20, tema budaya dasar mengenai masyarakat massa abad ke 20 telah terbentuk, terutama keinginan dari orang-orang biasa untuk menginvestasikan sumber daya dalam memburu gaya.”

Saat media menjadi bagian terprnting kehidupan, manusianya larut dalam ‘global village’ (Marshal McLuhan) dan berlomba dengan informasi-informasi yang lebih cepat. Ini merupakan kajian post-modern dan merupakan gambaran, masyarakat post-industrial. Sesuatu yang sangat dominan: industri dan media, budaya dan kepentingan. Gambaran pemanfaatan teknologi digital dan fibre optic nyaris selalu berupa informasi dan teknologi dalam frame global. Dengan akses perkembangan masa lalu, kini, depan, yang hadir dalam satu paket visual seseorang hadir dalam ’ketidak menentuan’. Hadir kekacauan paradoks yang tidak ada habisnya dan bersifat dekonstruksi. Dalam studi budaya, percepatan seperti ini dikenal dengan istilah ruang skizofrenic. Saat ini dianggap sebagai membaurnya antara realitas dan ilusi (melalui bentukan simulasi, yang kemudian disebut hyper realitas), digital mendominasi berbagai citraan atau visual yang hadir.

Gambaran Umum

Kita mengetahui ada kategori kitsch dalam budaya visual. Kitsch sendiri merupakan sesuatu untuk dijual dan melulu membicarakan visual. Selain itu manipulasi dalam display, dan fashion melalui keusangan artifisial (artificial obsolescence) merupakan strategi yang banyak dipakai dalam budaya massa . Bentuk-bentuk visual juga banyak dipakai dalam mendukung budaya hiburan seperti Leisure town, yang merupakan istilah objek wisata mutakhir saat ini, space untuk mengisi waktu luang.

Perluasan ideology konsumerisme keatas panggung politik, budaya, dan teknologi, menurut de Cauter (1993), Greenhalg (1988), Ley dan Olds (1988) terlihat dengan dimulainya banyak pameran-pameran, pekan raya, perayaan, pertunjukan, dan lain-lain di Eropa dan Amerika Utara pada kisaran tahun 1850-1950. Lebih jauh lagi, Budaya massa adalah budaya yang diciptakan bersamaan dengan diciptakannya sebuah produk massal. Dalam makalah ini disampaikan betapa pentingnya fenomena diciptakannya budaya massa sebagai bentuk strategi pemasaran. Karena massal dan luasnya pasar, budaya massa diciptakan dengan mengakomodasi ego manusia. Dalam hal ini cenderung sama dengan budaya hiburan. Adorno dan Horkheimer menganggap profesi product planner, trend analyst, stylist, designer, dalam dunia industri sebagai fasisme. Diterimanya suatu produk massal kedalam budaya adalah budaya massa dengan strategi penciptaan budaya massa.

Chaney berpendapat, perbedaan antara zaman modern dan klasik adalah bentuk hak istimewa kebangsawanan yang sudah tidak ada. Berubah menjadi kegiatan orang-orang dalam memanfaatkan sumber daya dan hak-hak istimewa yang ada.

Lebih Jauh tentang Budaya Massa

Di akhir abad 19th, karya Émile Durkheim, (teoritisi sosial Perancis) juga dikenal sebagai penganut teori atom individu, menghubungkan masyarakat sebagai massa yang tidak dapat dibedakan, dalam hal ini segala hal yang terjadi didefinisi debagai fakta sosial. Menanggapi hal tersebut Baudrillard menyebutnya dengam istilah fenomena kolektif. Menurutnya terdapat kecenderungan budaya konsumsi dalam budaya massa bersifat bukan kesenangan, terlembagakan, dan dipaksakan (sebagai tugas). Boudrillard mengkoreksi Karl Marx yang menyatakan kegiatan konsumsi merujuk pada alasan fungsionalnya. Ia beranggapan citra mengalahkan kenyataan (fungsi benda), konsumsi juga sebagai kegiatan meraih status yang ada dalam budaya. Dalam budaya massa manusia mengkonsumsi produk real dan non-real. Hal sama dinyatakan Kundera dengan kemenangan imagology, dengan dimulainya ‘ketetapan’ citra lebih penting dari realitas empiriknya dan menginduk pada simboliknya. Di era imagology terjadi produksi dan pengendalian budaya manusia. Menurut Roland Barthes yang terjadi adalah dihadirkannya retorika citra sebagai penyaluran mimpi-mimpi dalam mitologi masyarakat modern. H. Marcuse dari mazhab Farankfurt menyebutnya sebagai kebebasan semu.

Kedangkalan budaya massa seringkali dikaitkan dengan bentuk-bentuk gaya hidup. Hal tersebut dikemukkan oleh Chaney sebagai, ” gaya hidup sebagai proyek eksistensial“. Dan politik kehidupan saat ini adalah politik gaya hidup. Sesuatu yang berkesan budaya massa juga sebenarnya telah dinyatakan oleh Lucien Fabre tentang sensibilitas, yaitu menifestasi kehidupan emosional masyarakat priode tertentu atau biasa disebut sejarah mentalitas. Hal ini dianggap lebih menggejala dibanding budaya, yaitu sebagai bentukan dalam media yang bergerak bebas dan bersifat kontemporer (sebagai kecenderungan emosi dan sensitivitas). Dalam hal ini, budaya massa hanya menjadi suatu kecenderungan praktek hidup dalam berbagai fenomena yang ada. Hal ini menunjukan betapa kompleksnya manusia dalam budaya massa . Budaya sendiri menggambarkan dominasi kekuasaan, hukum, identitas.

Penciptaan budaya terjadi karena dimungkinkannya signification lintas komunitas dan waktu. Menanggapi budaya massa, Baudrillard (banyak dipengaruhi durkheim, marx, veblen, levi-strauss) menyatakannya sebagai suatu yang dipaksakan, satu moralitas, didalam instuisi/sebagai seluruh sistem nilai. Selain berkaitan dengan hiburan, budaya massa adalah nilai bersama masyarakat modern yang dinyatakan sebagai bentukan yang terlembagakan, dipaksakan, dan menjadi tugas. Tidak membuang waktu karena ketika menghabiskan waktu dengan cara seperti itu pada kenyataanya orang memproduksi nilai prestise untuk diri mereka sendiri. Dan terinspirasi pemikiran Durkheim teoritisi sosiolog perancis yaitu fakta sosial, Baudrillard menggunakan istilah fenomena kolektif. Dan kemudian pemikir Bordieu menyatakan konsumsi sebagai prilaku kolektif dalam bukunya ”Masyarakat Konsumsi”. Dengan analisis struktural, menurutnya, konsumsi dikekang kendala pemaknaan, analisis sosio-ekonomi-politis, kendala produksi berlangsung.

Usman Apriadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: