DRAWING the day after TODAY

Poster DRAWING the day after TODAY

Curatorial Sketch

DRAWING the day after TODAY

Drawing is not a window on the world,

but a device for understanding our place within the universe.

(Emma Dexter)

Drawing menjadi tema pada pameran ini karena drawing adalah bentuk visual termurni dalam berkarya rupa. Dalam perkembangan hubungan manusia dengan seni, drawing menjadi sebuah aktivitas yang tidak pernah menjadi asing dan praktiknya akan terus berlangsung untuk memenuhi kebutuhan manusia akan keberadaan. Sejak era awal kehidupan, manusia telah menggunakan drawing sebagai media untuk menunjukkan rekaman keberadaan dan identitas mereka di tengah dunia, selain juga hubungan dengan lingkungan fisik sekitar mereka.

Pameran DRAWING the day after TODAY ini sebenarnya ingin bermain dengan prediksi dan waktu – tentang bagaimana kita hari ini mendefinisikan seni untuk hari esok, paling tidak seni bagi diri kita sendiri. Drawing menjadi alat yang pas sebagai awal bagi para perupa yang terlibat untuk mencoba berbagai kemungkinan dan perspektif baru dalam berkarya.

Drawing sendiri sebenarnya memiliki definisi dan batasan yang problematik. Hal yang sulit sebenarnya jika ingin mendefinisikan drawing dengan pengertian yang hierarkis dan ajeg. Secara formal dan sederhana drawing didefinisikan sebagai pendekatan berkarya dengan cara menggoreskan garis di atas bidang datar – atau menurut konvensi umum di atas kertas. Medium yang digunakan pun biasanya pensil, ballpoint, charcoal, crayon, graphite, kapur dan lain sebagainya.

Namun kini, seiring dengan semakin mengaburnya batasan-batasan seni, batasan drawing secara medium dan teknis pun semakin absurd sehingga kemudian definisi drawing yang begitu sederhana di atas tidak lagi relevan hari ini. Berdasarkan tradisinya, drawing sendiri tidak pernah lepas dari praktik seni lainnya. Ia selalu menjadi tahap awal pembentukan karya (perancangan) oleh para seniman sebelum berkarya lukis, patung atau karya-karya lainnya. Namun, drawing sesungguhnya juga mampu menjadi karya yang berdiri sendiri dan tidak lagi berkaitan dengan bentuk karya lainnya secara konseptual maupun esensi. Drawing akhirnya mendapatkan otonominya pada abad ke-14 (di Barat terutama) dan berhasil menjadikan dirinya sebagai salah satu tujuan akhir dari sebuah usaha penciptaan artistik. Maka dari itu menurut Emma Dexter dalam Vitamin D, drawing tidak bisa dipahami begitu saja berdasarkan pengertian teoretis ataupun filosofisnya. Drawing kini harus dilihat dari keterkaitannya dengan pengalaman sang perupa dalam berbagai aspek yang melingkupi keberadaannya.

Another principal of drawing is not based upon theoretically or philosophical understanding of what drawing is per se, but on the areas of human experience that drawing has come to be associated with: intimacy, informality, authenticity (or at least with authentic inauthenticity), immediacy, subjectivity, history, memory, narrative. We can have a very loose understanding of what drawing is, whatever the ground, or whether pencil, nib, or brush is utilized. Drawing is a feeling, an attitude that is betrayed in its handling as much as in the materials used.” (Dexter, Emma. Vitamin D. 2005. Phaidon Press Inc. New York)

Berdasarkan semangat itu, pameran ini menampilkan karya-karya drawing dari delapan perupa muda yang memiliki latar belakang penciptaan artistik yang berbeda. Hal ini dilakukan agar tercipta keragaman dalam memahami dan merespon konsep drawing yang begitu luas ini. Andro M.M. Napitupulu, Isrol Triono dan M.D. Natsir berasal dari studio seni grafis yang notabene memiliki keterkaitan yang lebih erat dengan teknis dan medium drawing. Sedangkan Itsnataini Rahmadillah dan Putriani Mulyadi memiliki latar studio patung, M. Jabbar D dari studio lukis, Panca DZ dari desain produk dan Arif Hidayatullah ilustrasinya sering menghiasi media cetak nasional. Kedelapan perupa ini memiliki pendekatan yang beragam dalam menyikapi drawing, dan secara sadar ataupun tidak tetap merujuk pada latar belakang pengkaryaan mereka.

Dengan adanya keragaman referensi visual dan bentuk inilah yang kemudian menjadikan karya-karya drawing yang dipamerkan kali ini membawa keunikan masing-masing. Karena bagaimanapun, pada dasarnya drawing adalah proses merekam pengalaman yang ditransformasikan dalam bentuk visual, sehingga tentunya jejak artistik mereka selama ini akan terekam pula.

M. Jabbar D membuat mural berjudul Re(x)istance (2010) menggunakan graphite dan arang yang digoreskan di atas tembok galeri. Namun, ia juga mengaplikasikan lapisan cat sebagai latar. Tentunya ini sedikit problematik. Bagaimanapun penggunaan cat lebih dekat dengan kategori (me)lukis. Walaupun demikian, Jabbar tetap menggunakan teknik menggores dengan pensil dan arang yang menjadi dasar drawing. Pada akhirnya memang batasan antara lukis dan drawing menjadi sangat bias. Tetapi dalam kasus Jabbar, drawing tidak lagi berfungsi sebagai subordinate dari seni lukis melainkan sebaliknya.

M.D. Natsir melalui karya-karyanya juga membangkitkan lagi kebingungan batas antara seni lukis dan drawing. Natsir menggunakan pensil dan cat air di atas kertas. Posisi cat air dalam praktik drawing kontemporer berada di antara seni lukis dan drawing. Ia bisa dimasukkan dalam kategori drawing karena sifat cat air yang transparan sehingga ia tidak berpotensi menutup goresan-goresan drawing. Cat air juga tidak bersifat korektif (sehingga tidak menutupi kejujuran drawing) dan ‘selesai’ seperti halnya cat minyak atau cat akrilik yang padat menutup garis sehingga menutup seluruh jejak proses berkarya.

Keyakinan ini juga diamini oleh Walter Benjamin dalam essaynya, Painting, or Signs and Marks (1917), yang menerangkan posisi cat air dalam seni lukis dan drawing, “The only instance in which color and line coincide is in the watercolor, in which the pencil outlines are visible and the paint is put on transparently. In that case the background is retained, even though it is colored.

Lebih jauh lagi, Putriani Mulyadi dan Itsnataini Rahmadillah dalam karya-karya mereka menggunakan objek tiga dimensi sebagai bagian dari karya. Putriani men-drawing di atas urinoir yang diinstal di tembok putih. Sedangkan Itsnataini Rahmadillah men-drawing di atas obyek otak yang dicetak dari resin. Lalu apakah pendekatan seperti ini bisa dikatakan sebagai karya drawing dan bukan karya patung atau obyek? Peran urinoir dan otak tersebut dalam karya mereka memang penting karena merupakan bagian dari narasi yang ingin disampaikan. Namun, sama seperti M. Jabbar D, peran kedua obyek tadi lebih seperti figuran dan aktivitas drawing di atasnya menjadi lebih signifikan.

Pameran ini memang menampilkan mayoritas karya yang dikerjakan tidak di atas kertas melainkan mencoba menggunakan media lain. Hal ini tampak dari Isrol yang memanfaatkan media papan kayu, Arif yang menggunakan plat aluminium dengan teknik menggores, dan Panca serta Jabbar yang langsung menggambar di atas dinding galeri. Hanya Andro dan M.D. Natsir yang masih menggunakan media kertas karena ingin mengangkat kembali aura kertas putih yang dianggap mewakili kualitas drawing yang orisinal dan paling primordial ini. Penggunaan media yang beragam ini tidak akan pernah menyalahi prinsip drawing, karena pada dasarnya drawing selalu bersifat terbuka dan eksploratif. Setiap orang dapat melakukan aktivitas drawing di atas media dan medium apapun sebab sesungguhnya apapun mereka tidak pernah menutup dirinya untuk disikapi sebagai sebuah kertas kosong yang menunggu untuk ditanggapi.

Secara prinsip drawing adalah seni yang mengedepankan proses. Bukan hanya proses sebelum menghasilkan karya dalam bentuk lain, tetapi juga sebuah proses yang merangkum pengalaman dan eksistensi para perupa. Tetapi, seperti yang telah dikemukakan, drawing juga memiliki kekuatan untuk menjadi sebuah karya akhir yang independen dan selesai. Hal ini tampak dalam karya-karya Panca DZ, Arif Hidayatullah, dan Isrol Triono. Sedangkan para perupa lainnya, seperti Itsnataini, M.D. Natsir, Putriani Mulyadi, dan Andro, menganggap drawing sebagai alat untuk merekam momen-momen personal dan terdalam yang pernah mereka alami. Bagi mereka drawing adalah bentuk representasi termurni dan tercepat untuk menuangkan pemikiran dan gagasan mereka tanpa ada intervensi artistik yang berlebihan. Berbeda dengan yang lain, M. Jabbar D melihat drawing sebagai kesempatan untuk bereksperimentasi dan bereksplorasi, mencari teknik baru yang dapat menghasilkan visual yang diharapkan dan memberi kepuasan tersendiri. Drawing dalam karya Jabbar juga berfungsi sebagai perekam – ia merekam jejak-jejak eksplorasi dan proses berkarya.

Secara konseptual, karya-karya yang dipamerkan juga sangat merepresentasikan filosofi drawing. Karya-karya Arif ingin menyampaikan sikap anti-kemapanan dan menantang arogansi sistem yang ada dan berlaku di masyarakat. Sedangkan Isrol ingin menyampaikan pemikiran dan kesadaran akan lingkungan sekitar melalui narasi simbolik karya-karyanya. M.D. Natsir merekam nostalgianya akan buku cerita anak-anak yang sering ia baca sehingga karyanya menawarkan warna-warna  yang akrab dari dunia yang berbeda. Putriani Mulyadi dan Andro membawa keluar narasi pribadinya, sedangkan karya Itsnataini adalah formulasi rekaman visual yang pernah ia lihat dan perhatikan ketika berjalan melewati berbagai tempat. Panca DZ berbicara tentang kematian dan kesementaraan, sesuatu yang rapuh dan dapat hilang begitu saja. Seluruhnya merefleksikan filosofi drawing yang termutakhir – meminjam tulisan Emma Dexter, “It’s all drawing in the sense they are the results (and documentation) of various experiments with material, space, and language.” Maka drawing kini tidak bisa lagi didefinisikan hanya berdasar material dan medium yang digunakan – ia adalah keyakinan dan attitude untuk mencoba sesuatu yang baru serta untuk menjadi avant garde dalam berbagai hal – dan  pameran ini mencoba untuk menangkap kesadaran tersebut untuk hari esok.

Annisa Rahadi / Kurator

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: