Sejauh Mana Seni Itu Salah?

Bandung di sore hari yang biasa di tanggal 17 Desember 2009. Bale tonggoh yang berada di bawah manajemen Selasar Sunaryo Art Space mengadakan pameran bertajuk provokatif dan menarik perhatian: Everything You Know About Art Is Wrong. Pameran ini tentunya diharapkan dapat mengubah sore hari yang biasa di penghujung tahun.

Setelah membaca judul pameran, hal yang kemudian berkecamuk dalam pikiran adalah: Apa yang salah dengan seni? dan jika demikian seni yang benar itu seperti apa? Seluruh pengunjung yang menyempatkan diri naik ke Dago Pakar di sore itu tentulah memiliki pertanyaan yang sama dan mengharapkan sebuah proses pencerahan dari pameran ini.

Sebelum pameran dibuka, terlebih dahulu dibagikan katalog pameran kepada para pengunjung sambil mereka mengisi buku tamu. Sebuah sesi artists talk juga sedang dipersiapkan sebagai acara pembuka sebelum para pengunjung masuk dan melihat karya-karya yang dipamerkan yang masih menjadi misteri utama pameran ini. Tapi paling tidak kita dapat mengetahui perupa-perupa yang ikut serta. Mereka adalah para perupa dengan basis karya patung; Bagus Pandega, Dita Gambiro, Faisal Habibie, Gabriel Aries, Itsnataini Rahmadillah, Leonardiansyah Allenda, Lidyawati, Maya Annisa Surya, Octora ft. Cecilia Patricia Oentario dan Putriani Mulyadi.

Kuratorial dalam katalog pameran dibuka dengan subjudul, “What is art?” Tampaknya Aminuddin TH. Siregar sebagai kurator ingin memberikan introduksi dan pemanasan singkat dengan mengangkat kembali definisi seni dengan mengutip berbagai sumber dari internet dan bukan dari buku. Mungkin maksudnya adalah memberikan berbagai alternatif definisi seni dari sumber-sumber alternatif dan memperlihatkan bagaimana seni tidak pernah konsisten memaknai dirinya. Bagian ini seperti simulasi yang sengaja dikedepankan untuk mempertanyakan kembali benar atau tidaknya seni yang kita pahami selama ini.

Namun, “…the concept of art was an open one and, hence, not susceptible to definition,” tulis Annette Barnes di sebuah situs. Seni adalah kata yang saat ini makin sulit dimengerti karena semua terasa benar, makin tak terhingga dan global. Beberapa orang seperti Morris Weitz mengatakan, “…not only were these definitions of art inadequate, any definition would be, since art was an open concept for which no real definition was possible. It was not that no one had yet been clever enough to find the right definition; there was no right definition to be found.” Seni berjalan menurut konvensi zaman dan orang-orang yang berjalan di bawahnya yang kemudian mengambil keuntungan darinya. Secara teoritis seni sangatlah fleksibel dan terbuka bagi pendekatan-pendekatan baru. Oleh karena itu definisi seni akan selalu berubah karena seni memiliki fungsi untuk meredefinisikan dirinya kembali di masa-masa mendatang. Sulit untuk bisa meramalkan pemahaman seni seperti apa yang akan muncul di kemudian hari. Bisa saja tidak berubah atau mungkin berubah secara mengagetkan hingga kita makin tersesat di dalamnya. Atau jika kita pikirkan ulang, bisa saja semua yang kita pahami tentang seni adalah benar, karena toh kita tidak pernah tahu dan tidak akan pernah yakin mana seni yang benar dan yang salah. Sekali lagi, “there was no right definition to be found.”

Sesi artists talk akhirnya dimulai sekitar pukul 16:30 waktu setempat. Para pengunjung pastinya tidak sabar untuk mendapatkan sedikit pencerahan tentang pameran ini. Kurator menjelaskan secara singkat dan kemudian meminta masing-masing para perupa yang berpartisipasi untuk menjelaskan sedikit keterlibatan mereka. Tetapi sayangnya, dari sepuluh perupa yang duduk di depan audiens, tidak ada satupun yang secara memuaskan dapat menjelaskan keikutsertaan dan kepentingan mereka dalam pameran ini. Beberapa dari mereka bahkan tidak memberikan penjelasan sama sekali. Saya tidak yakin para perupa ini tidak tahu mengapa mereka ada di depan sana, karena saya sering mendengar mereka berdiskusi tentang seni, bahkan terlibat dalam diskusi-diskusi tersebut, dan percayalah mereka benar-benar tahu apa yang mereka lakukan dan penuh dengan pemikiran serta harapan tentang seni yang mereka anggap benar. Lagipula menurut katalog, pameran ini adalah proyek bersama para perupa dan kuratornya. Jadi harusnya ini adalah konsep pameran yang dipikirkan, dirembuk dan dipahami bersama. Tapi itu semua tidak tertumpahkan di pameran ini dan diskusi yang diharapkan seru terjadi tentang benar atau tidaknya seni tidak menjadi kenyataan. Sesi artists talk hanya menjadi sesi curators talk dan acara pembukaan seperti biasanya.

Setelah pameran dibuka para pengunjung berbondong masuk ke dalam ruang pamer. Mereka disuguhi sebuah kotak besar tertutup berwarna putih di tengah ruang pamer dengan beberapa lubang kecil dan caption keterangan karya di sisi-sisinya. Ternyata karya-karya yang dipamerkan ditempatkan di kotak besar itu dan audiens dipaksa mengintip melalui lubang kecil untuk menikmati karya. Setiap lubang mewakili satu karya patung dari satu perupa. Pameran ini tampaknya ingin mengedepankan judul dan ide pameran yang provokatif serta cara display yang tidak biasa.

Salah seorang pengunjung yang kebetulan juga seorang mahasiswa patung mempertanyakan cara display yang seperti ini, hanya bisa melihat karya dari satu arah yang sudah ditentukan. Ia keberatan melihat karya patung diperlakukan tidak sebagaimana mestinya karya tiga dimensi yang harusnya bisa dinikmati dari berbagai arah. Seperti menikmati karya hanya dari fotonya, kepuasan yang didapat tidak maksimal. Lalu mengapa men-display karya seperti ini? Tampaknya ada keinginan untuk mengubah persepsi masyarakat mengenai cara melihat pameran pada umumnya. Membatasi keleluasaan audiens dalam menikmati sebuah karya. Apakah ini cara yang benar untuk menikmati sebuah karya? Lagi-lagi ini mungkin adalah sebuah simulasi untuk mempertanyakan kembali seni. Tapi kemudian bagaimana sebuah pameran merepresentasikan karya-karyanya adalah hal yang relatif. Tidak ada hal yang baku dan secara formal ditulis di buku-buku seni import (dan beberapa buku lokal) yang kita baca. Ini hanya masalah kebiasaan. Bukan hal yang baru pula karena pasti telah ada yang melakukannya walaupun dengan konteks dan latar belakang konsep yang berbeda, seperti Sim F yang menempatkan karyanya di dalam kotak intip besar di pameran Sound Art di Galeri Soemardja beberapa tahun silam.

Setelah mengintip karya-karya yang dipamerkan dan menimbangnya dengan judul pameran Everything You Know About Art Is Wrong, tampaknya ada yang hilang disini. Rasanya seperti menonton film dengan judul yang salah, atau mungkin terlalu bombastis tapi tidak didukung oleh cerita yang tepat.  Karena jika memang semua yang kita ketahui tentang seni adalah salah maka, nothing you do in your life is right. Terutama jika kita adalah orang-orang yang menjadikan seni sebagai bagian utama dari hidup kita. Lalu mengapa kemudian repot-repot berkarya dan membuat suatu pameran di dalam galeri dengan segala ritual acara pembukaan dan artists talk? Karya-karya dalam pameran ini juga tidak meruntuhkan kepercayaan kita terhadap karya patung (sculpture) kontemporer yang telah ada. Pertanyaan berlanjut dengan sejauh mana pameran ini dan para konseptornya percaya bahwa segala sesuatu yang kita ketahui tentang seni adalah salah ketika pameran ini masih mengandalkan sistem dan perangkat seni rupa yang lazim kita ketahui? Lalu seni seperti apa yang ‘benar’?

Melihat karya-karya yang dipamerkan dan diskusi yang tidak berjalan, pameran ini rasanya tidak bisa menjawab semua pertanyaan tadi dan tidak muncul sebagai solusi atau pendekatan yang meyakinkan. Pada akhirnya kita harus menghadapi kenyataan bahwa tidak ada lagi hal baru dalam seni (jika memang ada kita tidak pernah bisa meramalkannya). Maka pameran ini hanya bisa dimaknai sebagai sebatas provokasi. Tetapi paling tidak sebuah sore yang biasa bisa berubah menjadi malam yang penuh pertanyaan dan ketidakpuasan.

Annisa Rahadi

Comments
One Response to “Sejauh Mana Seni Itu Salah?”
  1. siska mengatakan:

    hello saya adalah penikmat seni yang baru baru ini datang ke pembukaan pameran di bandung. saya datang ke pameran eeverything you know about art is wrong dan saya memiliki perasaan yang sama; mempertanyakan dimana salahnya seni? menurut saya dari kacamata awam (saya lulusan Ekonomi) makin sulit untuk memahami seni ketika seni dan karyanya (bahkan senimannya) tidak bisa menjelaskan. tidak bisa menjelaskan berarti mungkin belum mengerti. menurut saya kurator yang menulis di pameran ini cukup dominan. dan seniman-senimannya tampak takut menjelaskan-takut salah atau takut benar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: