Partial Appropriation: Artpropriating Appropriately

“A picture is a tissue of quotations drawn from the innumerable centers of culture…We can only imitate a gesture that is always interior, never original.”

Sherrie Levine (1947 – )

U.S. photographer and conceptual artist.

“Five Comments”

Bagi para praktisi dan penikmat seni, kata apropriasi telah menempati ruang yang cukup signifikan dalam seni rupa kontemporer. Mengapropriasi berarti meminjam elemen-elemen suatu karya untuk menciptakan karya baru. Karya yang dipinjam dapat sangat beragam, dari produk budaya popular sampai karya-karya masterpiece dari berbagai rentang waktu dengan segala konsep sosio-historis dan politik yang melatarbelakanginya. Pada dasarnya apropriasi sendiri dekat dengan istilah mimesis, hanya saja mimesis lebih berupa prinsip dasar dalam berkarya seni yang oleh para filsuf Yunani diperdebatkan nilai intelektual dari pendekatan meniru alam ini. Apropriasi dapat dikatakan menggunakan prinsip yang sama. Hanya saja yang ditiru atau dipinjam adalah karya orang lain. Apropriasi dianggap memiliki muatan yang lebih kompleks dari sekedar meniru  dan mewakili konsep sang seniman. Keabsahan apropriasi pun banyak diperdebatkan dengan mengaitkannya dengan pembajakan, pencederaan karya cipta dan orisinalitas berkarya, serta lain sebagainya.

Tetapi di era postmodern ini, seperti diketahui, semua prinsip adiluhung seni modern dijungkir balikkan sedemikian rupa. Isu-isu seperti autentisitas, orisinalitas, kejujuran terhadap medium, kebebasan, dan keagungan karya seni menjadi tidak berarti lagi. Seni telah menjadi sebuah praktik yang erat dengan kapitalisme dan kekuasaan secara simbolik, dan seni menjadi subjek dari sistem yang mendukung praktik tersebut. Metode berkarya pun terus berubah seiring dengan perubahan cara pandang masyrakat modern akan suatu fenomena. Dan fenomena yang terus berkembang sampai sekarang adalah mengapropriasi.

Sejak tahun 1980 istilah seni apropriasi menjadi makin sering digunakan ketika seniman seperti Sherry Levine menggunakan apropriasi itu sendiri sebagai sebagai tema dalam berkarya. Levine seringkali meminjam seluruh elemen dalam karya seniman lain ke dalam karyanya. “After Walker Evans” (1980) merupakan salah satu karya Levine yang terbaik. Levine memotret ulang karya-karya fotografi Walker Evans yang dimuat di katalog pameran dan kemudian memamerkannya tanpa ada manipulasi tanda lebih jauh terhadap karyanya. Bagi Levine karyanya merupakan sebuah undangan atas berbagai pertanyaan mengenai kelas, identitas, fungsi politik sebuah karya seni, kreativitas, gender, serta bagaimana dan dalam konteks apa sebuah karya fotografi diapresiasi oleh publik.

Istilah apropriasi kemudian secara spesifik merujuk pada pengertian mengambil karya seniman lain untuk membuat karya baru. Aprosiasi dapat dikatakan memiliki tingkatan yang bervariasi dalam hal sejauh mana sebuah karya dipinjam, baik itu secara visual maupun konseptual. Ada apropriasi ala Levine yang tidak merubah apapun dalam karyanya secara visual dan ada pula ulah seperti Marcel Duchamp yang mendekonstruksi besar-besaran “Monalisa” Leonardo Da Vinci dalam “L.H.O.O.Q”. Selain itu, ada pula seniman-seniman seperti Roy Lichstentein, Claes Oldenburg, dan Andy Warhol yang mengapropriasi image dan teknik dari budaya popular yang kemudian dikenal dengan istilah seni pop. Di Indonesia fenomena ini juga meramaikan karya-karya yang beredar di pasaran. Karya-karya Asmudjo J. Irianto, Pramuhendra, Dipo Andy, dan sebagainya memakai pendekatan apropriasi dalam berkarya, dengan atau tanpa parodi.

Apapun itu semua sah-sah saja sekarang ini. Pameran ini juga berangkat dari kesadaran akan fenomena apropriasi yang semakin digemari, terutama di kalangan seniman muda di Bandung. Tetapi karya yang diapropriasi dipilih berdasarkan konvensi di antra seniman. Ada dua karya, yaitu “Liberty Leading the People” (1830), masterpiece Romantik Delacroix, dan karya apropriasi Yue Minjun yang berjudul “The Massacre at Chios”. Dua karya ini kemudian – sesuai dengan temanya yang berupa apropriasi parsial – dibagi menjadi enam bagian. Sepintas memang tampak seperti pembagian tugas menggambar saja. Tetapi melalui potongan-potongan karya ini para perupa justru ditantang untuk bisa mengangkat secuil informasi tertinggal menjadi satu informasi yang benar-benar baru dan utuh.

Untuk melakukannya tentu bukan hal yang dapat dibilang mudah. Bagaimana membangun ulang informasi yang telah terbagi-bagi ini? Pada tahapan ini latar belakang kesejarahan dan identitas karya Delacroix dan Yue Minjun menjadi tidak begitu penting lagi. Hal yang menjadi penting adalah bagaimana setiap perupa dengan keputusan estetik masing-masing mencoba menyusun sebuah karya baru dengan berangkat dari potongan-potongan karya yang sama. Seberapa jauhkah setiap perupa muda ini dapat melangkah dengan keterbatasan informasi yang coba untuk diolah?

Bagi M. Agni potongan karya Delacroix dan Yue Minjun menjadi latar belakang dari narasi-narasi baru yang ditambahkannya. Karyanya yang berjudul “Post Revolution War” (2009) merupakan apropriasi dari potongan karya Delacroix. M. Agni kemudian mengganti narasi Liberty Leading the People yang bercerita tentang Revolusi Juli 1830 di Prancis dengan narasi tentang invasi Amerika Serikat ke Irak. Konten karya yang tadinya heroik dan dramatik diubah menjadi satire dan sindiran dengan unsur humor yang dibawa melalui teknik berkarya pop-up. Sedangkan untuk karya keduanya, Agni menggunakan karya humor Yue Minjun yang merupakan apropriasi dari karya Delacroix Massacre at Chios (1824) sebagai objek dari humor yang dibangunnya.

Patriot Mukmin mengambil strategi yang berbeda dalam berkarya. Dengan menggunakan media lukis, si seniman bermain dengan sudut pandang seolah-olah para audiens berada dalam karya dan merasakan bagaimana menjadi seorang seniman yang dengan seenaknya, penuh rasa kesal, menginjak karya Yue Minjun yang berharga jutaan dollar. Sedangkan Akang Kamezvara lebih suka bermain dengan pengulangan garis, menjadikan potongan karya miliknya memiliki pendekatan ilusif (op-art), seperti gambar bergerak. Pendekatan  teknik dan medium juga dilakukan oleh seniman-seniman lainnya seperti Danuh Tyas, Michael Binuko, dan Arif Rivai. Bagi mereka menjinakkan citra lukisan Yue Minjun dan Delacroix dapat tercapai dengan baik melalui pendekatan teknis yang mencerminkan masing-masing kekuatan seniman dalam berkarya menjadi karya yang sama sekali baru.

Apropriasi merepresentasikan sebuah guyonan, baik secara kontekstual maupun historikal, tidak pernah stabil, bervariasi seiring dengan perubahan setting dan sejarah, dan kemudian menjelma menjadi tanda baru. Apropriasi juga merupakan sebuah strategi untuk menjinakkan mitos-mitos budaya. Strategi inilah yang digunakan oleh para perupa kontemporer untuk mendobrak mitos budaya yang sudah mapan, membuat ulang mitos tersebut, menjadi sebuah mitos baru yang akan dirusak di lain hari. Setiap hal memiliki potensi untuk menjadi sebuah mitos, dan cara terbaik untuk melawan mitos adalah dengan mengkonstruksi mitos artifisial yang akan merubah cara pandang setiap orang.

Annisa Rahadi

Comments
One Response to “Partial Appropriation: Artpropriating Appropriately”
  1. publiczine mengatakan:

    Reblogged this on PUB[L]IC Zine and commented:
    Panduan sekilas dulu sebelum berangkat ke Unoriginal Sin: Art in the Expired Field karya Asmudjo Jono Irianto.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: