PAUSEPATI: Socially Engaged Art dan Landmark Kota

Socially Engaged Art adalah seni yang menggunakan keterpautan sebagai medianya. Praktik Engaged art ini telah diterapkan semenjak tahun1980. Seni adalah proses ataupun produk yang sengaja mengatur unsur–unsur dalam suatu cara yang menarik indra atau emosi. Ini mencakup berbagai macam kegiatan manusia, ciptaan, dan cara berekspresi, termasuk musik, sastra, film, patung, dan lukisan. Makna seni ini dibahas dalam cabang filsafat yang dikenal sebagai estetika. Dalam perjalanannya seni terus bereksplorasi untuk dapat menyentuh emosi, menciptakan realitas atau menciptakan pengaruh terhadap realita sosialnya dan memperluas cakupan pengapresiasinya.

Allan Kaprow seorang professor seni rupa dari Rutgers University menciptakan sebuah gagasan yang ia sebut sebagai Hapenning art, yang ia tujukan untuk mendekatkan seni dengan kehidupan, seniman dengan masyarakat. Kemudian menyusul performance art dan video art sekitar akhir tahun 60-an dan gejala street art, urban art serta pubic art yang semakin mencoba mendekatkan bahkan merapatkan hingga menggabungkan seni dengan masyarakat , kehidupan nyata dan perubahan yang dapat dirasakan terutama dalam kehidupan bermasyarakat dengan mengalokasikan ruang penyajian seni ke ruang-ruang masyarakat umum atau publik.

Pada tahun 1990-an, muncul Relational art, seni yang meliputi serangkaian praktek-praktek artistik yang secara teoretis dan praktis memiliki titik tolak dari seluruh hubungan manusia dan konteks sosial mereka, daripada yang independen dan ruang privat. Istilah ini dikemukakan oleh seorang kurator dan kritikus seni terkemuka di Prancis, Nicholaus Borraud. Praktik hal-hal diatas adalah sebuah bukti bahwa seni memiliki sekaligus mengusahakan dampak nyata bagi perubahan sosial menuju sebuah idealisasi hidup yang lebih baik dengan cara menyentuh emosi dan kemudian menimbullkan keterpautan antar publik yang ditujunya. Kemudian keterpautan itu juga dapat terjadi antara publik dengan ruang publiknya ketika seni membawa ruang apresiasinya ke ruang publik.

Hal inilah yang akan kami lakukan dalam proyek seni kami; membawa ruang kota sebagai ruang yang dimiliki warganya, membawa landmark kota sebagai landmark yang dimiliki warga kotanya, tidak hanya secara kartu tanda penduduk, kewajiban, dan hak, melainkan juga kepemilikan, dan keterlibatan warga kota dengan landmark dan ruang kotanya secara emosi. Melalui wawasan warga kota tidak hanya dapat memiliki, mendukung atau menjaga citra kotanya, masyarakat juga akan dapat memperkaya citra kotanya. Hal ini yang menjadi alasan kami melibatkan warga kota Bandung di lingkungan edukasi.

Edukasi dan wawasan juga tidak lepas dari kreatifitas. Persahabatan adalah sebuah hubungan yang kreatif antara manusia, persahabatan mengundang emosi untuk mendukung, mempercayai, memiliki, menjaga, membela serta menyayangi.

Kami Ingin mengajak warga kota Bandung untuk terpaut secara pribadi, komunitas dan secara emosi untuk bersahabat dengan ruang kota, dalam hal ini landmark kota Bandung yang termuda yaitu Pasupati. Dalam proyek seni ini kami akan membungkus tiang sentral Pasupati dengan kain yang berasal dari kaos warga kota Bandung, terutama yang berasal dari lingkungan edukasi, baik formal ataupun non formal. Kaos tersebut bukanlah kaos bekas melainkan kaos yang memiliki nilai pribadi ataupun pun memori pribadi. Hal ini kami maksudkan untuk menautkan tidak hanya kaos warga tapi juga pertautan memori, hati dan emosi. Ketika tiang sentral Pasupati terbungkus maka yang kami harapkan adalah pertautan dan persahabatan dalam bentuk apapun antara warga dan landmark kota Bandung tersebut.

PAUSEPATI tidak hanya berhenti sampai pembungkusan. Setelah masa pembungkusan selesai, kain pembungkus akan diolah kembali menjadi produk-produk tekstil yang akan dipasarkan bersama oleh persahabatan Industri kreatif Bandung. Hasil keuntungan dari pejualan produk redesain tersebut akan digunakan untuk support penanggulangan becana alam di jawa barat. Support ini akan kami realisasikan dalam bentuk barang-barang yang mendukung kegiatan edukasi di daerah bencana tersebut. Agenda ini kami tujukan untuk memperluas pengaruh nyata dan semoga juga nyaman dari sebuah jalinan pertautan dalam persahabatan. Dokumentasi perjalanan pausepati akan disajikan dalam bentuk pameran setelah penjualan produk redesain rampung. Hal ini kami maksudkan sebagai kosiostensi kami untuk persahabatan antar warga kota Bandung, dan antara warga kota Bandung dengan ruang kota Bandung.

Pausepati secara filosofi adalah berhenti sebentar untuk berpikir dan mempelajari pertumbuhan kota, ruang kota dan landmark kota yang mewakili citra kota dan warga kotanya agar dapat mendukung kota dan pertumbuhannya seoptimal mungkin. Landmark kota tidak hanya sebagai citra hampa seperti semboyan kota tidak hanya menjadi ungkapan hampa. ‘Membungkus’ dalam PAUSEPATI berarti memeluk, dan usaha menghangatkan pertumbuhan kota yang diwakili landmark kotanya. Semoga jahitan dari setiap kaos warga kota Bandung dapat menjadi jahitan kebertautan dalam hati dan pemikiran warga kota Bandung untuk kemajuan kota yang lebih baik, lebih nyaman.

Fajar Abadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: