Cerita tentang yBas dan Apa yang Kita Perlu Pelajari

Cerita Tentang Young British Artists (yBas)Dan Apa yang Kita Perlu Pelajari

Brit Pop art is so much about packaging, about instantaneous recognition, wry amusement, knowing reference to media images and recent avant-gardist art alike. Just like advertising, it’s ephemeral, cannibalistic, hedonistic.

(Cohen, David. Letter from London: Sensation.1997)

Cerita ini bermula di akhir tahun 1980-an, dimana sekumpulan seniman Inggris yang tinggal dan belajar di kota London ketika itu mengadakan sebuah pameran bersama yang bertajuk Freeze. Awalnya mereka suka berkumpul di beberapa pub di sekitar Hoxton, sebuah kota yang saat itu menjadi jantung seni rupa kontemporer Inggris. Sebagian besar seniman di kelompok itu merupakan mahasiswa di universitas yang sama, yaitu Goldsmiths College of the Art, dan sebagian besar menerima pengaruh dari mentor yang sama yaitu Michael Craig-Martin.

Freeze kemudian menjadi awal penting yang menandai lahirnya kelompok yBas di tahun 1988. Walaupun demikian, ketika itu pameran ini belum mendapatkan perhatian yang begitu besar. Pemerintah Inggris dibawah Margaret Thatcher tidak menyediakan dana publik untuk kegiatan seni rupa apapun (kalaupun ada jumlahnya dikurangi) dan tidak ada galeri komersil yang bersedia untuk memamerkan karya-karya mahasiswa ini karena terlalu eksperimental dan sulit dijual. Pameran ini akhirnya diadakan di sebuah ruang alternatif yang berupa gudang penyimpanan dan dikuratori oleh salah satu peserta pameran yang ketika itu masih berada di tahun keduanya di Goldsmiths College, Damien Hirst. Satu pengaruh yang paling besar dari pameran ini adalah dimulainya trend seniman sebagai kurator yang menjadi fenomena seni rupa di London pada pertengahan 1990-an.

Walaupun tidak mendapatkan banyak tanggapan di pameran pertama mereka, yBas tetap mengadakan pameran. Carl Freedman, seorang teman Hirst yang dikenalnya di Leeds sebelum pindah ke London, dan Billee Sellman menawarkan proyek pameran di gudang berikutnya. Mereka juga bertindak sebagai kurator pada dua pameran di tahun 1990 tersebut, Modern Medicine dan Gambler, yang diadakan di lokasi bekas pabrik, Bermondsey. Untuk mengadakan pameran Modern Medicine, Hirst dan kawan-kawan mengumpulkan donasi hingga mencapai £1000 dari berbagai tokoh seni rupa, salah satunya pengusaha periklanan ternama – Charles Saatchi.

Setelah dua pameran itu, pameran yBas semakin banyak dan mendapat tanggapan yang semakin luas dari publik. Pameran di ruang alternatif yang sudah mapan, seperti City Racing di London, membuka publisitas pertama mereka. Selain di City Racing, mereka juga berpameran di Joshua Compton’s Gallery di London Timur dan Serpentine Gallery. Barulah pada tahun 1992, Saatchi menawarkan rangkaian pameran di galerinya yang bertajuk Young British Art. Pameran pertama menampilkan karya-karya Hirst, Sarah Lucas, Mark Wallinger, dan Rachel Whiteread.

Gelombang kedua Young British Artists muncul di tahun 1992-1993 melalui rangkaian pameran seperti New Contemporaries, New British Summertime, dan Minky Manky. Minky Manky yang dipamerkan di South London Art Gallery ada bulan April/May 1995, kembali dikuratori oleh sahabat Hirst, Carl Freedman, menampilkan karya-karya Gilbert dan George, Sarah Lucas, dan lainnya. Dalam kuratorialnya, Freedman menulis:

..the artist as a subject, and (to) explore the relationship between the art on the wall and its creator, to make the whole thing more humanistic. And in there somewhere there is the beginnings of a thesis on the relationship and similarities between madness and modernism, for example, defiance for authority, nihilism, example of extreme relativism, strange transformation of the self, irrationality, and things like that.[1]

Menyangkut pengkaryaan para seniman yBas seperti yang dikatakan Freedman tadi, banyak kritikus dan media yang berkomentar. Salah satunya adalah Liz Ellis dalam essaynya yang dipublikasikan online, “Many of these artists seem to me to employ a ruthless assimilation of the commercial and the kitsch in a way that is empty of imaginative space or invitation to the viewer.[2] Tanggapan Ellis ini wajar melihat karya-karya yBas yang kebanyakan tidak menggunakan medium konvensional dan cenderung instalatif serta mengangkat tema yang tidak biasa, “between madness and modernism”seperti dikatakan Freedman dalam kuratorialnya.

Pada tahun 1997, yBas mendapatkan publisitas dan pemberitaan media besar-besaran melalui pameran Sensation di Royal Academy of Arts, London. Akibat pameran inilah seni rupa Inggris kembali mendapat perhatian yang sempat redup selama setengah abad. Para perupa yang berpameran di antaranya Hirst, Whiteread, Hume, Gormley, Wearing, dan 38 perupa lainnya. Pameran ini mengundang banyak kontroversi dari karya-karya yang dipamerkan, terutama karya Marcus Harvey yang berjudul Myra.[3]Kontroversi ini berlanjut sampai ke New York, Berlin, Sidney, dan Tokyo dalam rangkaian tur pameran Sensation.

 

Myra by Marcus Harvey (1995)

Myra by Marcus Harvey (1995)

Work by Damien Hirst (1996)

Work by Damien Hirst (1996)

Naiknya yBas dalam medan seni rupa Inggris dan diperhitungkannya mereka di  kancah dunia memang tidak lepas dari peran seorang Charles Saatchi sebagai patron. Sejak mengunjungi pameran yBas yang bertajuk Gambler dengan Rolls Royce hijaunya, Saatchi sudah takjub dengan karya-karya yang dipamerkan, terutama karya instalasi Damien Hirst yang berjudul A Thousand Years. Di pameran itu, Saatchi tidak tahan untuk memborong karya Hirst dan teman-temannya. Ia lalu memamerkan beberapa koleksinya itu dalam pameran Sensation di tahun 1997.

Saatchi bukan hanya kolektor utama dari karya-karya Hirst, tetapi juga sponsor utama bagi seniman-seniman yBas lainnya. Jatuhnya pasar seni rupa kontemporer di London pada pertengahan 1990 karena resesi ekonomi yang parah membuat banyak galeri seni rupa menutup bisnisnya. Saatchi yang saat itu adalah pengusaha periklanan dan kolektor karya seni memberi angin segar bagi pasar seni rupa yang sedang kolaps itu. Sebelumnya, Saatchi terkenal dengan koleksi-koleksinya yang kebanyakan karya-karya seniman Amerika dan Jerman, beberapa dari seniman muda, tetapi kebanyakan merupakan karya seniman-seniman yang telah mapan.

Saatchi juga yang mengeluarkan nama “Young British Artists” untuk rangkaian pameran yang diadakannya pada tahun 1992. Pameran itu salah satunya menampilkan karya Damien Hirst yang berjudul The Physical Impossiblity of Death in the Mind of Someone Living (1992), yang menjadi karya ikonik seni rupa Inggris di tahun 1990-an, dan simbol Britart di dunia. Sebagai hadiah dari patron yang diberikan Saatchi, yBas mendapatkan banyak keuntungan dari gencarnya pemberitaan media. Hal ini juga yang menaikkan kontroversi seputar perayaan tahunan Turner Prize (salah satu dari sedikit penghargaan besar yang diberikan kepada seniman kontemporer di Inggris Raya), yang nominasi dan daftar pemenangnya didominasi oleh seniman-seniman yBas. Selain media cetak, Channel 4 juga menjadi sponsor dari ajang Turner Prize, hingga menjadikan para seniman yBas mendapatkan jam tayang utama dalam program acara televisi mereka.

 

Work by Tracy Emin (1999)

Work by Tracy Emin (1999)

Naiknya yBas di bawah Saatchi menaikkan kembali pasar seni rupa Inggris. Generasi baru galeri-galeri seni rupa kontemporer mulai berkembang dan menjamur, sebut saja Karsten Schubert, Sadie Coles, Victoria Miro, Maureen Paley’s Interim Art, Jay Jopling’s White Cube, dan Antony Wilkinson Gallery. Meningkatnya ketertarikan pada yBas dan seni rupa kontemporer Inggris meningkatkan juga pangsa pasar bagi majalah-majalah seni rupa kontemporer Inggris akibat membanjirnya iklan dan meluasnya sirkulasi majalah. Majalah Frieze yang terbit tahun 1991 merangkul yBas dari awal sedangkan majalah-majalah yang telah mapan seperti, Art Monthly, Art Review, Modern Painters, dan Contemporary Art merilis ulang majalah mereka dengan fokus yang lebih seputar seniman muda Inggris. Hirst dan Tracey Emin yang merupakan figur penting yBas menjadi semakin terkenal di dunia internasional, dengan berbagai pameran di Eropa dan Amerika Serikat serta dukungan dari kekuatan media ini.

***

Lalu apa yang mesti kita tangkap dari petualangan dan fenomena yBas ini? Bahwa dunia seni rupa di Indonesia membutuhkan kolektor seni rupa yang nekat dan royal seperti Saatchi? Mungkin, tetapi hal itu bukanlah inti permasalahan dan mencari kolektor seniman muda yang eksperimentatif bukanlah maksud dari tulisan ini. yBas adalah gerakan seni rupa kontemporer di Inggris yang mampu mencuri perhatian dunia setelah sebelumnya dunia lebih peduli pada perkembangan pop art di Amerika Serikat. Terlepas dari banyaknya komentar sinis yang dialamatkan pada gerakan ini, kritikus Matthew Collings justru menulis pengamatannya atas pameran yBas yang bertajuk Brilliant!: New Art from London di Walker Art Center, Minneapolis (1995):

Nobody can quite sum up what they stand for. The advance publicity of Brilliant! presents them as cheeky cockneys and punk rockers oppressed by the Thatcher junta, dodging IRA bombs, living in squats, and making rough and ready art that screams with rage and isn’t intended for pristine white gallery space, but for rough and ready warehouse spaces in London’s cockney East End. In reality of course they are highly sophisticated formalists who desperately, and quite rightly, want to show in pristine white spaces like the Tate Gallery and the Walker Art Centre.” Bahkan David Cohen, seorang peneliti sejarah seni dan penulis seni rupa, lebih jauh lagi mengomentari fenomena yBas ini, “Hot stuff. But the central quality of this Brit Pop art — or of the YBAs, as the generation of late ’80s neo-conceptualists who have stolen the scene in London are now officially to be called — is coolness. Abjection on ice. Whether its art about art, or art that goes for the jugular on issues of sex or death, the defining features of this cool-school are its nihilism, nonchalance and impersonality.”[4] Seniman-seniman yBas (beberapa dari mereka paling tidak) masih menjadi ikon seni rupa kontemporer dan karya-karyanya masih diperhitungkan hingga saat ini.

Cerita yang hampir sama memang pernah terjadi di Indonesia, walaupun dengan konteks sosio-historis dan geografis yang berbeda. Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) yang digalang oleh seniman-seniman muda Bandung dan Yogyakarta di akhir tahun 1970-an sempat membuat heboh publik seni rupa dengan manifestonya yang menentang lirisisme dan hierarki medium seni. Pameran mereka di tahun 1987 yang bertajuk Pasar Raya Dunia Fantasi juga membuat dunia seni rupa semakin seru dengan kritik dan komentar pro dan kontra akibat karya-karya yang dipamerkan yang kebanyakan merupakan seni instalasi dengan media campuran dengan konsep “concept as art” dan tidak lagi peduli pada kedalaman kemampuan teknis (skill/techne).

Yang berbeda adalah GSRB kemudian tidak didukung oleh modal ekonomi seperti halnya yBas dengan Saatchi sebagai patronnya. Tetapi GSRB tetap didukung oleh modal sosial dan kultural dari institusi dan kemenangan sejarah. Hasilnya adalah efek resonansi dari masing-masing gerakan ini dan pengaruhnya di dunia seni rupa. Selain itu, jika di Inggris pasca yBas terdapat gerakan-gerakan baru yang merespons dan menentang conceptual art dari yBas, maka di Indonesia gerakan-gerakan pasca GSRB tidak ada atau kemungkinan tidak sempat tercatat. Di tahun 1990 sebuah gerakan baru muncul sebagai anti-yBas. Stuckism, gerakan internasional yang dipelopori oleh Billy Childish dan Charles Thompson untuk mempromosikan seni figuratif sebagai perlawanan atas seni konseptual yang digagas oleh yBas. Gerakan ini kemudian disusul oleh gerakan berikutnya, Anti-Stuckist, oleh dua seniman performance China, Yuan Chai dan Jian Jun Xi. Di Indonesia, setelah masa GSRB dan Biennale IX Jakarta di tahun 1990-an, dapat dirasakan perkembangan seni rupa Indonesia cenderung tidak seru lagi kecuali perkembangan pasar seni rupanya dengan booming seni rupa nasional dimana-mana.

Logo Stuckism

Logo Stuckism

Paintings by Peter McArdle (left) and Paul Harvey, sculpture by Adrian Bannister. (2007)

Paintings by Peter McArdle (left) and Paul Harvey, sculpture by Adrian Bannister. (2007)

Bisa dikatakan itulah permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh dunia seni rupa di Indonesia sejak booming. Lagi-lagi permasalahan ‘pasar wacana’ melawan ‘wacana pasar’. Galeri-galeri komersial tumbuh seperti jamur di Indonesia, terutama di Jakarta. Banyaknya galeri komersial di Jakarta dan infrastukstur seni rupa yang lebih lengkap di ibukota mengakibatkan banyaknya perupa-perupa di daerah seperti Yogyakarta, Bandung, Semarang, Bali, dan lainnya lebih memilih berpameran di Jakarta karena kemungkinan untuk karya-karyanya terjual lebih besar. Sedangkan perupa-perupa dari Jakarta (khususnya yang muda) seperti tidak lagi mendapat tempat. Mereka hanya bisa memanfaatkan ruang-ruang alternatif seperti kampus, Ruang Rupa, atau ruang-ruang di ruas jalan ibukota.

Di Bandung persoalannya lain lagi, walaupun sama parahnya. Makin dekatnya jarak Jakarta-Bandung mengundang masalah bagi perkembangan seni rupa di Bandung. Saat ini perupa-perupa muda Bandung bisa dibilang sudah diokupasi oleh galeri-galeri komersial di Jakarta, bahkan dari hanya satu bulan setelah mereka diwisuda. Tulisan ini tidak mengatakan bahwa itu adalah hal yang buruk, tetapi sekali lagi bukan juga hal yang terlalu baik. Sistem seperti ini mengakibatkan berubahnya pola pikir yang sedikit demi sedikit dialami oleh perupa-perupa muda Bandung. Menjadi seniman bukan untuk berkarya melainkan menjual karya. Selain itu, perkembangan seni rupa di Bandung sendiri menjadi tersendat karena banyaknya peristiwa pameran seniman Bandung yang hijrah ke Jakarta. Galeri-galeri seni rupa di Bandung pun tidak lagi aktif melakukan pameran. Sekarang jika ada undangan pameran yang melibatkan perupa muda Bandung, muda ataupun tua (terutama pameran besar), hampir pasti semuanya berasal dari Jakarta, baik itu pameran di galeri-galeri besar dan komersial ataupun art fair di shopping plaza atau mall (fenomena yang sedang hip akhir-akhir ini).

Oleh karena itu kemunculan sebuah gerakan alternatif yang dapat membuat dunia seni rupa lebih hidup dirasakan sangat perlu. Sudah kurang lebih 30 tahun masa GSRB berlalu dan semenjak itu belum ada lagi gerakan baru yang paling tidak sama hebohnya yang dapat membuat para praktisi dan kritikus seni rupa (jika ada) di Indonesia berdebat seru di majalah-majalah seni rupa ataupun diskusi langsung. Medan sosial seni rupa di Indonesia terasa stagnan. Hal inilah yang harus diubah oleh para perupa muda di Bandung, Yogyakarta, Semarang, Bali, Jakarta, dan kota-kota lainnya. Merintis lahirnya gerakan alternatif seni rupa yang dapat menampung ide-ide segar, eksperimentatif, dan berani yang nantinya dapat berbicara di kancah nasional, atau jika mungkin, internasional.

Menurut A.D Pirous, “Mulailah dari yang paling dekat,” ketika memutuskan untuk berbuat. Jadi kita bisa mulai dengan nongkrong-nongkrong, membicarakan isu-isu dan perkembangan seni rupa serta apa saja yang kurang dari situ. Setelah itu, mungkin kita bisa dengan sok tahu (siapa yang peduli) memperbaiki apa yang salah dengan paradigma sekarang dan memberikan alternatif baru yang lebih menggebrak. Jika para perupa, kurator ataupun penulis senior nanti mengatakan bahwa itu adalah hal yang bodoh, dangkal, tidak mengerti sejarah, saya kira kita usah menghiraukan mereka, seperti yang dilakukan oleh yBas atau GSRB ketika mereka mendapatkan kritik tajam dari berbagai pihak. Yang pasti 10-20 tahun setelah gerakan mereka, Damien Hirst, Tracey Emin, Jim Supangkat, Anusapati, dan beberapa lainnya tetap membuktikan eksistensi mereka di dunia seni rupa. Jadi, sekarang adalah saatnya bagi Young Bandung Artists, Young Jogja Artists, Young Jakarta Artists, Young Bali Artists, Young Indie Artists atau gerakan avant-garde apapun namanya (toh, nama-nama di atas hanya saran untuk memprovokasi), untuk melanjutkan penulisan sejarah seni rupa Indonesia yang hanya bertambah beberapa halaman setelah masa GSRB berlalu.

“This is the life we’ve been given

So open your mind and start livin’

We can play our part if we only start believing”

(The Garden. Take That. 2008)

Annisa Rahadi


[1] Ellis, Liz. Do You Want To Be In My Gang: An Account of Ethics and Aesthetics in Contemporary Art Practice.http://web.ukonline.co.uk/members/n.paradoxa/ellis.htm

 

[2] Ellis, Liz. ibid

[3] Myra Hindley (bersama rekannya Ian Brady) adalah kriminal yang paling dibenci di Inggris karena menculik, menyiksa, dan membunuh anak-anak pada tahun 1960 – merekam aksi mereka dan mengubur korban-korban mereka di lokasi yang sampai sekarang tidak diketahui. (www.artnet.com)

[4] Cohen, David. Letter from London: Sensation. 1997

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: