Cerita Harapan Yang Terus Tumbuh

On-Going Hope

(Tulisan ini adalah essai yang menyertai pameran ONGOING yang menampilkan perupa-perupa muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan formal seni rupa) Karya Putriani Mulyadi

Seni rupa Indonesia modern telah berjalan selama lebih dari dua ratus tahun lamanya. Beberapa fenomena kemudian menandai setiap lembar sejarah yang dituliskan. Sejak Raden Saleh, mooi indie, era Sudjojono, munculnya mazhab Bandung, dan terakhir GSRB dan eksponen-eksponennya. Setiap masa selalu diisi dengan munculnya seni rupa ini dan seni rupa itu. Semuanya memiliki peran dalam pembentukkan sejarah seni rupa Indonesia dan berjalan seolah-olah saling berhubungan sebab-akibat.

Dewasa ini perkembangan seni rupa Indonesia semakin masif. Bandung dan Yogyakarta yang dikenal sebagai pusat-pusat pelatihan dan sejarahnya dalam perkembangan seni rupa secara bergantian menuliskan lembar-lembar sejarah baru dengan fenomena terkini. Setelah perupa-perupa Yogyakarta berjaya di era 90-an sampai awal 2000, kini adalah saat dimana perupa-perupa Bandung yang mengambil alih pusat perhatian setelah terakhir heboh dengan mazhab Bandungnya di era 1970-an.

Naiknya lagi seni rupa Bandung paling dirasakan setelah kemunculan perupa-perupa muda seperti kelompok Abstrak-X, Pramuhendra, Restart, dan lain sebagainya. Menurut banyak praktisi hal seperti ini tentu sudah diprediksikan dan mengatakan kejadian naiknya seni rupa Bandung hanya tinggal menunggu waktu dan pelaku-pelaku yang tepat. Tetapi tentunya kejadian ini bukan sesuatu yang dengan pasti akan terjadi seperti halnya jadwal pemutaran film di bioskop.

Meminjam istilah dalam buku The Black Swan karangan Nassim Nicholas Taleb, naiknya perupa muda Bandung dapat dikategorikan sebagai sebuah grey swan.[1] Sesuatu yang telah diprediksi, tetapi merupakan kejadian yang langka dan tidak dapat dihindari. Seperti telah disebutkan, naiknya seni rupa Bandung telah diprediksi oleh banyak pihak, terutama bagi mereka yang sengaja bersiap-siap menyambut mereka dan memiliki perangkat untuk memahami fenomena ini. Bagaimanapun, kejadian yang terjadi tetap langka karena perupa yang naik bukan mereka yang sudah memiliki rekam jejak profesional, melainkan perupa-perupa yang bisa dibilang baru terjun ke dalam medan seni rupa – perupa-perupa yang baru lulus dari pendidikan formal sekitar 2 atau 3 tahun ketika memutuskan untuk menjadi idola berikutnya. Kejadian ini juga tidak bisa dihindari karena kita sudah tahu akan selalu terjadi perubahan struktur sosial di masyarakat yang berujung pada munculnya kelas-kelas sosial baru dengan selera yang baru pula. Karena itulah kemudian kemunculan perupa-perupa muda Bandung dengan idiom-idiom yang segar dan variatif, estetika yang menawan, ide-ide yang menggelitik dengan cepat menarik hati masyarakat kelas baru ini dan dianggap mewakili perkembangan seni rupa terkini. Karena bagaimanapun seni adalah, “…product of conditions of a particular place and time.” [2]

Pameran ini dan perupa-perupa yang ikut di dalamnya kemudian menjadi penting karena merupakan sebuah tanda bahwa seni rupa Bandung terus melakukan regenerasi menghasilkan perupa-perupa muda yang bersemangat untuk terus berkarya dan secara sadar siap bertarung memasuki medan sosial seni rupa. Dapat dikatakan pula pameran ini  melanjutkan fenomena terus bergairahnya seni rupa Bandung menuju kebaruan-kebaruan yang tak terhindarkan.

Banyak pertanyaan kemudian tersirat dalam benak saya dan mungkin beberapa orang lainnya. Mengapa perupa-perupa ”junior” ini dengan cepat dapat merengkuh kesempatan untuk dikenal dan terkenal? Jika kemudian kita mencari sebab-akibat dari kejadian ini, Pierre Bourdieu – seorang ahli teori sosial Prancis – mungkin dapat membantu memberikan penjelasan untuk memuaskan keinginan besar kita akan sebuah narasi.

Untuk bisa membuka jalur dan bergabung ke arus mainstream, para perupa muda ini tentu memiliki kapital. Kapital disini berarti,”… symbolically powerful attributes derived from education, social background, and dispositions. The capital act to “buy” positioning within the field.”[3] Untuk kasus perupa-perupa muda ini, paling tidak mereka sudah memiliki modal kultural (cultural capital) dan modal sosial (social capital).

Modal kultural, didalamnya juga termasuk modal kemenangan sejarah – dalam hal ini Bandung dan institusi-institusinya. Akademi seni rupa sebagai salah satu institusi pelatihan perupa-perupa muda di Bandung memiliki peranan penting dalam mendukung dan menjamin masuknya perupa-perupa ini dalam arus besar seni rupa.

“…education systems were not the site of education training in terms of some Platonic realms of discovery and personal development. Rather, they were social institutions saturated with a particular educational culture. This culture was self-generative in that it provided the means to ensure its own reproduction, albeit it in a transmuted form, and necessarily misrecognized as such.” (Bourdieu. Hal 54)

Selain itu, sejak masih mahasiswa perupa-perupa muda ini sudah aktif ikut atau membuat pameran. Aktif terlibat dan dilibatkan, baik secara individu ataupun kelompok, serta selalu ingin tahu tentang perkembangan seni rupa dan gosip-gosip terhangat yang berputar di dalamnya.

Kemudian banyaknya praktisi seni rupa yang tinggal dan bekerja di Bandung menjadi  modal sosial yang sangat menguntungkan – dan keuntungan ini berlaku dua arah. Praktisi-praktisi seni rupa yang mayoritas juga bekerja dan berkeliaran di dalam akademi memanfaatkan hak dan kewajiban mereka untuk mendorong dan mencari kebaruan di tengah ledakan karya seni yang itu-itu saja. Peran seperti ini tentu dibutuhkan oleh para perupa muda untuk tidak sekedar berkembang secara teknis dan konsep, tetapi juga agar adanya ruang yang tersedia dan terorganisasi untuk aktualisasi diri.

Para perupa ini juga siap dengan segala konsekuensinya ketika memutuskan berkarier di dunia seni dan melupakan iming-iming gaji tetap yang dibayarkan setiap bulan jika mereka bekerja menjadi, misalnya desainer atau pegawai negeri. Mereka yakin (paling tidak sampai hari ini) bahwa perjudian mereka di arena seni rupa akan membawa hasil di kemudian hari. Orang-orang yang terlibat dalam perjudian seperti ini, seperti kata Taleb, dibayar bukan dengan uang, melainkan dengan sukses materi yang lain: harapan.

Annisa Rahadi


[1] Grey Swan adalah istilah yang digunakan oleh Nicholas Nassim Taleb dalam bukunya yang berjudul The Black Swan. Berbeda dengan sifat Black Swan yang tidak bisa diprediksi kejadiannya, kejadian grey swan masih dapat diprediksi atau diramalkan walaupun merupakan kejadian yang langka. (Taleb, Nicholas Nassim. The Black Swan. 2009. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta)

 

[2] Grenfell, Michael & Cheryl Hardy. Art Rules. 2007. Berg. USA. Hal 47

[3] Ibid. hal 30

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: