Cerita Ruang Alternatif dan Mengapa Kita Membutuhkannya

Ruang alternatif pada dasarnya adalah sebuah ruang yang kemudian lebih merujuk kepada sebuah lokasi untuk beraktivitas seni di luar tempat-tempat yang telah terkonvensi dalam medan sosial seni, seperti halnya galeri atau museum. Ruang yang digunakan biasanya merupakan ruang-ruang kosong yang dialih-fungsikan menjadi ruang pamer alternatif.
Kemunculan ruang alternatif mungkin jarang dibahas dalam buku-buku sejarah seni rupa modern. Padahal eksistensi ruang alternatif terus ada dan sangat penting bagi perkembangan seni rupa saat ini. Sebelum membahas kemunculannya di Indonesia, ada baiknya memahami sejarah kemunculannya di seni rupa Barat. Ruang alternatif pertama kali muncul seiring dengan bangkitnya praktik seni rupa tahun 1960-an dan 1970-an sebagai reaksi atas peran galeri dan museum serta otoritas mereka dalam medan seni. Menurut kritikus Allan Swartzman, “… alternative spaces were the center of American artistic life in the ’70s.”
Gelombang pertama ruang alternatif di Amerika Serikat terjadi di tahun 1970, dengan didirikannya 112 Greene Street di New York yang memfokuskan kegiatannya pada instalasi dan seni pertunjukkan. Setelah itu, ruang-ruang lain mulai berdiri, seperti The Kitchen di New York pada tahun 1971, Bonnie Sherk’s Crossroads Community di San Francisco tahun 1974, dan lain sebagainya.
Setelah tahun 1975, ruang alternatif yang muncul memiliki kecenderungan untuk mengangkat seni media baru, keberagaman dalam seni, dan seni pertunjukkan. Ruang-ruang seperti Franklin Furnace di New York, didirikan tahun 1976 oleh Martha Wilson, LACE di Los Angeles dan Washington Project for the Arts adalah contoh ruang alternatif yang banyak mengangkat seni pertunjukkan dan seni video.

Sejarah ruang alternatif di Indonesia tampakya masih kabur. Yang jelas, tiga tahun setelah berdirinya 112 Greene Street di New York, di Bandung juga sudah berdiri sebuah ruang alternatif, yang dinamakan galeri DECENTA. Berdasarkan namanya dapat disimpulkan bahwa galeri ini didirkan oleh DECENTA sebagai ruang pamer alternatif, ruang diskusi dan pertukaran pengetahuan, serta sebuah ruang yang ditujukan untuk mendukung perkembangan seni rupa pada saat itu.

Ketika itu di Bandung, tidak banyak dijumpai pameran-pameran seni rupa, malah dapat dikatakan sangat jarang. Galeri-galeri pun belum ada sebanyak sekarang. Oleh karena itu keberadaan Galeri DECENTA benar-benar penting untuk membangun infrastruktur seni rupa di Bandung.

Saat ini Bandung sudah memiliki banyak galeri dan beberapa ruang alternatif, sebutlah Common Room dan Buton Kultur21. Namun sedikit ruang alternatif ini tentulah tidak cukup untuk menampung sekian banyak seniman, khususnya seniman muda sebagai pihak yang paling membutuhkan adanya ruang-ruang seperti ini. Dan ini adalah hal yang penting.

Gencarnya arus pasar seni rupa  turut menyeret seniman-seniman muda dan terserap ke galeri-galeri komersial. Bukan hal buruk memang, tapi juga bukan hal yang baik jika galeri komersial menjadi satu-satunya ruang pamer yang dapat diandalkan. Karena seni rupa mengikuti pasar, tentu seniman-seniman yang berpameran juga harus mengikuti selera pasar. Mereka yang berada di luar kecenderungan ini kemudian terlempar dari arus besar perkembangan seni rupa dengan alasan karya mereka tidak marketable. Lalu kemana seniman-seniman ini harus mengembangkan dirinya? Ini adalah pertanyaan yang bisa dijawab dengan solusi adanya ruang alternatif. Sebagaimana yang ditulis di atas, ruang alternatif merupakan reaksi atas hegemoni otoritas tertentu (dalam kasus belakangan adalah galeri komersial).

Ruang seperti ini juga tentunya bisa menjadi sarana bagi seniman-seniman marketable (tidak boleh ada diskriminasi disini) untuk bereksplorasi dengan karya-karya baru andaikata mereka bosan mengikuti apa kata kolektor (baca: pasar).Terutama bagi seniman muda dan mahasiswa seni, keberadaan ruang alternatif dapat menjadi oase diskusi  dan pertukaran pengetahuan mengenai ranah seni, sebuah langkah awal untuk aktualisasi diri, dan tentu saja diharapkan  dapat menjadi pusat perkembangan dan kegiatan seni rupa yang berperan bagi bangkitnya seni rupa Bandung dan seni rupa Indonesia kontemporer.

Annisa Rahadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: